Kakak 31 "Gak tuh.."

6 1 0
                                        

Setelah pertemuan beberapa geng aneh di kantin tadi, Fikri malah jadi fokus memperhatikan pelajaran. Sabella yang duduk di sebelahnya benar-benar keheranan pada tingkah si pikun satu ini.

Sorot mata Fikri terfokus ke depan dengan raut wajah yang sangat serius. Sesekali dia menunduk dan mencatat di buku tulisnya yang biasanya hanya berisi coretan-coretan abstrak.

Saking herannya, Sabella sampai terbelalak, dan tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Dia haus, dan dengan santainya menyambar segelas es yang tadi Fikri beli di kantin. Karena gelas es itu ada di sudut meja Fikri yang dekat mejanya (Sabella) dia pun mengambilnya tanpa sungkan.

Sayangnya saat ia menyedot isi gelas itu, hanya udara dan tetes-tetes air es cair yang memasuki mulutnya. Karena emosi, ia pun mengembalikan gelas itu ke tempatnya semula. Sontak Fikri pun melirik Sabella dengan ekspresi herannya yang tampak polos. Dari tatapannya nampak seolah Fikri bertanya, "kenapa?"

"G*blok! Dasar gak peka!" Batin Sabella spontan.

Tiba-tiba, Devano (yang duduk di belakang Sabella), dan Rizki (yang duduk di depan Fikri) kompak menyodorkan minimuman mereka kepada Sabella. Devano menyodorkan segelas es tehnya yang masih banyak tersisa, dan Rizki menyodorkan sebotol air mineral yang juga masih memenuhi botol.

Seketika Sabella kebingungan dan melirik Fikri. Namun jelas saja anak tidak peka itu malah fokus kembali pada penjelasan guru didepan. Sabella pun pasrah dan menerima segelas es tes di tangan Devano, dengan senyuman canggung dia berkata kepada Rizki, "sorry Riz, gue lagi pengen yang dingin-dingin.."

"Ohh.. oke Bel.. kalo mau bilang aja ya.." bisik Rizki dengan santai.

"Sip! Thanks ya.." jawab Sabella tenang. Lalu melirik Devano dan berbisik, "makasih juga ya, Van!"

"Sans Bel.." jawab Devano dengan berbisik juga.

Setelah meneguk es teh itu dengan nikmat tanpa ketahuan guru di depan kelas, tiba-tiba Devano kembali berbisik, "btw, yang sabar ya Bel.."

Tatapan Sabella pun menajam tersorot kepada Fikri yang masih santai memperhatikan pelajaran. Rasa geram Sabella pun membuncah, dan tangannya reflek memukul belakang kepala Fikri. Jujur saja, pukulan itu tidaklah keras, itu tidak seperti pukulan tapi lebih seperti mendorong pelan. Dan reaksi Fikri cukup membuat Sabella senang.

Dia memelototi Sabella sambil mengelus-elus belakang kepalanya, lalu bertanya, "ngapa sih, Bel?!"

"Gak papa! Lagi pengen mukul aja!" Jawab Sabella yang diikuti dengan juluran lidahnya.

"Aneh Lo!" Celetuk Fikri geram.

Dan guru di depan kelas pun menegur keduanya dengan sangat keras. Keduanya diperintahkan untuk maju dan menyelesaikan soal di papan tulis berdua saja.

...

Sepulang sekolah, Devano tertawa girang karena tingkah kedua temannya yang absurt. "Tiba-tiba dihukum! Ada-ada aja Lo berdua!!" Seru Devano yang masih tertawa lepas.

"Diem lu, Van! Lagian ini kan salah si Bella! Kenapa gue juga kena, bj*r!" Seloroh Fikri kesal.

"Iya.. iyaa!! Gue yang salah! Maap! Puas Lo?" Jawab Sabella dengan kedua pipi yang memerah padam karena masih menahan malu.

"Lagian lu ngapa sih? Tiba-tiba mukul gua?" Tanya Fikri penasaran.

Namun belum sempat Sabella menjawab, tawa Devano terhenti, dan dengan penuh semangat dia memanggil Randa yang juga baru keluar dari kelasnya.

Devano menghampiri Randa dengan cepat, sedangkan Sabella dan Fikri saling menatap heran sambil ikut melangkah menghampiri Randa.

"Mau pulang bareng Ran?" Tawar Devano seperti biasanya.

Anehnya, reaksi Randa tidak seperti biasanya. Dia nampak bingung sesaat, lalu dengan terbata-bata, dia berkata, "oh.. hari ini ada 'itu'.. jadi gue dijemput.. sorry ya, Van.."

"Oh.. 'itu'.." seketika Devano nampak pucat dan serius. Lalu dengan cepat Devano kembali ceria dan berkata, "okedeh.. semangat ya, Ran! Lo pasti bisa!"

Lagi-lagi Fikri dan Sabella saling menatap heran. Sebenarnya apa 'itu' yang mereka maksud. Apalagi ekspresi Devano dan Randa nampak kurang baik saat menyebut 'itu'.

"Iya.. thanks Devano!" Jawab Randa penuh semangat walau dengan ekspresi datarnya. "Gue duluan ya! Fikri! Bella! Gue pulang duluan ya!" Ucap Randa sambil melambai dan pergi meninggalkan mereka bertiga.

Ketiganya pun membalas lambaian tangan itu dengan pasrah. Lalu Fikri yang sangat penasaran pun langsung bertanya, "sebenernya 'itu' apaan sih?!"

Sabella pun menyahuti dengan turut bertanya, "iya, apaan Van? Kok cuma elo yang paham?"

"Hmm.. apa ya?" Jawab Devano yang nampak kebingungan.

"Lah.. dia malah nanya balik!" Celetuk Sabella.

"Hmm.. 'itu' kata Randa nanti dia yang kasih tau kalian kalo udah siap dianya.." jawab Devano dengan senyum canggung nya.

"Oh! Main rahasia-rahasiaan ya lu berdua?!" Ancam Fikri geram.

"Kagak, bukan gitu j*r!" Bantah Devano.

"Oke fine, gak temenan kita! Ya kan, Fik?" Celetuk Sabella.

Devano menghela nafas pasrah dan berkata, "pokoknya Lo berdua tanya aja si Randa besok.. gua gak ada hak buat ngomong soalnya.. sumpah dah.."

"Yaudah.. besok kita tanya si Randa! Jadi kita pulang aja kuy!" Kata Sabella sambil melangkah pergi keluar sekolah. "Van! Pulang bareng gue aja hari ini!" Sambungnya sambil melirik Devano.

"Lah? Fikri?" Tanya Devano sambil mengejar langkah Sabella.

"Ah!! Dia mah bareng adek tercinta nya!" Jawab Sabella dengan lantang.

Tepat setelah itu, Amalia datang mengejutkan Fikri sambil berseru, "hayoo! Liatin siapa tuh?!"

Fikri berusaha mengelak dengan diam dan melangkah santai menuju parkiran motor sekolah.

"Fikri! Tungguin!!" Seru Amalia sambil melangkah santai mengikuti Fikri.

Setibanya di parkiran, Fikri masih bungkam. Lalu Amalia iseng bertanya, "kesel ya lu, gak bisa pulang bareng cewek lu lagi?"

"Kata siapa?" tanya Fikri sambil memasangkan helm ke kepala Amalia.

Amalia terkekeh, dan berkata, "kata muka Lo Fik, keliatan banget kali!"

"Gak tuh.. gua malah seneng bisa pulang bareng lu.." jawab Fikri dengan raut serius yang membuat Amalia terkejut seketika. Bahkan tanpa sadar, wajah Amalia memerah karena malu.

...

KAKAK ♡Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang