Chrys menatap lurus Olivia yang ada di seberang lapangan. Tubuhnya tegak dengan tangan terkepal. Rambut pirang pendeknya berkibar tertiup angin. Air muka anak itu seperti singa yang siap menerkam mangsa.
"Jangan terlalu tegang, Chrys!" ingatku dari tempat yang agak jauh di belakangnya.
Anak itu berjengit dan berbalik ke arahku. Dia tersenyum lebar dengan kening mengerut sambil memberikan jempol. "Tenang saja!" balasnya.
Aku tenang. Kau saja yang tidak.
Diony Shu mengumumkan kembali. "Peserta, siapkan avatar kalian!"
Chrys melemparkan pin avatarnya ke udara. Wujud dirinya yang mungil terbentuk dari cahaya dengan warna biru, celana kuning, hiasan bulu merak di rambutnya, dan tanpa baju. Seruling bambu di tangannya siap digunakan untuk menghancurkan apa saja.
"Arena, set!"
Cahaya dari sudut-sudut arena menyebar ke sepenjuru lapangan. Rerumputan berubah menjadi tanah hitam keras berbatu. Stalagmit menyerak di beberapa sisi bagai gigi taring hewan buas. Kristal-kristal biru di beberapa sudut berpendar menerangi stadion yang dibuat agak temaram.
Bisik-bisik kagum mengudara di sepenjuru arena.
Minerva Athene lantas menghitung mundur yang disahuti oleh seluruh penonton.
"Satu!"
Kedua avatar berlari cepat menerjang satu sama lain. Seruling Krishna dan pedang Freya beradu. Avatar Olivia menyerang dengan perisai, tetapi lawannya dengan sigap melompat ke atas dan menerjang balik dengan serangan suara bagai gelombang kejut. Freya jatuh berguling-guling, sementara Krishna mendarat dengan mulus.
"Oooh, serangan pertama untuk Freya!" komentar Diony Shu. "Dan sekarang Krishna menggunakan Gadha Kaumodaki!"
Gada emas besar di tangan Krishna. Dia memukul, perisai Freya menahan. Avatar Olivia lantas mengentakkan tamengnya sampai lawannya mundur beberapa langkah. Dengan gerak memutar, makhluk digital berzirah perak itu mengoyak dada Krishna membuat luka digital melintang.
"Krishna!" panggil si Anak Pirang.
Krishna tersaruk mundur. Pertarungan jarak dekat lantas terulang lagi. Mereka berguling, berputar, menyerang, dan menangkis. Avatar Chrys lebih terasa berakrobat dengan lompatan-lompatan melenting di udara, padahal gada yang dia bawa terlihat berat. Sementara Freya lebih membumi dengan sabetan-sabetan pedang yang bertenaga.
"Krishna, menjauh!" perintah Chrys.
Si makhluk biru digital melompat mundur, menghindari ayunan pedang Freya. Avatar Chrys lantas mengganti senjatanya dengan dua cakram tajam berputar. Benda-benda bulat itu memelesat bagai kilat ke arah lawannya dengan jalur melengkung. Satu cakram berhasil mengenai pipi Freya, yang lainnya berhasil dihindari.
Olivia tidak mau kalah. Dia mengganti senjata Freya dengan cemeti rantai berduri. Si avatar berzirah memutar-mutar pecutnya menghalau setiap cakram yang datang, melemparkan mereka semua ke tanah, lantas mengikat Krishna dengan erat.
Avatar Chrys menggeliat. Hit point-nya terkikis sedikit demi sedikit. Serangan tipe damage per second.
Freya lantas melecutkan cambuknya, membanting-banting Krishna hingga makhluk digital itu membentur tanah yang keras, menabrak stalagmit sampai hancur, dan melepasnya hingga meluluhlantakkan kristal yang ditubruk.
"Whooo, serangan yang brutal sekali!" teriak Diony Shu.
"Krishna, tidak!" Chrys mengetatkan rahang. Tangannya terkepal. Semoga saja anak pirang itu akan membalas dengan epik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Avatar System: Brain Games (END)
FantascienzaMenjadi juara umum di kelas sepuluh sebelumnya, mengantarkan Arennga menjadi salah satu perwakilan untuk mengikuti Olimpiade Sains Persahabatan bersama dua sekolah lainnya dari negara yang berbeda. Bersama tiga rekan setim dan avatar mereka masing-m...
