Bab 46

44 6 12
                                        

Aku dan Olivia akhirnya berhadapan. Akan mudah mengalahkannya karena hit point Freya hanya tinggal sisa-sisa, sementara Arthur masih dalam keadaan penuh.

"Arena, set!" Diony Shu mengumumkan.

Rumput-rumput stadion menghilang dan berganti menjadi pasir berbukit-bukit. Kaktus-kaktus tumbuh dan rumput bola menggelinding di kejauhan.

Hitung mundur bergema, dan pertarungan dimulai.

Arthur memelesat, meninggalkan jejak debu di udara. Pedang besarnya beradu dengan pedang Freya. Mereka menyabet, menangkis, menusuk bergantian, meninggalkan pasir-pasir yang melayang di udara.

Freya mundur lantas berputar seraya menebaskan pedang. Perisai Arthur dengan cepat menahan. Denting bergaung disertai serangan lain yang menyusul.

"Arthur, mundur!" perintahku. Aku memberi Arthur skill dua pedang agar gerakannya lebih gesit.

Pedang dan perisai berganti dengan dua bilang baja yang lebih tajam. Arthur melesat dengan komandoku. Kedua pedangnya menyabet dan mengoyak dengan cepat. Setiap gerakannya menyapu udara sampai pasir-pasir beterbangan di sekitarnya.

Freya sayangnya masih bisa menghindari setiap serangan avatarku. Senjatanya juga berganti menjadi cemeti berduri. Secepat kilat cambuk itu mencengkeram salah satu bilah pedang Arthur hingga ke lengan.

"Arthur, bertahan!" perintahku.

Avatar Olivia menarik senjatanya, tetapi Arthur terpaku kokoh dengan satu pedang lainnya sebagai pasak. Saling tarik terjadi. Tidak ada yang mau mengalah tentunya. Seperti dalam lomba tarik tambang.

Cambuk kian menegang. Sedikit lagi dan aku akan mendapat momentum yang diinginkan.

"Sekarang, Arthur! Lepas dan cincang dia!"

Arthur melompat sambil menarik kembali pedang yang tertancap. Sementara itu, Freya terjengkang ke belakang oleh kekuatannya sendiri. Secepat kilat avatarku menyabet tubuh lawannya dengan pedang yang tak terikat, disusul dengan senjata tajam yang satunya.

Tusuk sana, koyak sini. Avatar Olivia terhembalang, luka-luka digital merah tertoreh di sekujur tubuhnya. Dengan satu putaran, Arthur menebas dengan pedang menyilang. Lawannya terempas jauh dengan hit point yang terus menurun.

Kemudian, Freya menyentuh tanah berpasir dengan tubuh yang menghilang menjadi butiran cahaya.

"Pemenangnya adalah Arthur!" seru Diony Shu.

Arena kembali seperti semula dan aku meminta Arthur menjadi pin avatar lagi, lantas ke bangku istirahat untuk mendapatkan beberapa kalori.

"Kau keren, Ren!" Chrys menepuk bahuku seraya memberi sebotol air mineral. Peka sekali dia. Aku segera membuka dan meminumnya beberapa teguk sambil duduk.

"Yeah, seperti biasanya." Aku tidak tahu Chloe sedang menyindir atau tidak, tapi nadanya menyebalkan. "Pertarungan yang sebenarnya dimulai di sini, kurasa?" Mata cokelat almond gadis itu menyipit. "Kau adalah ujung tombak sekarang."

Aku mencomot sereal batang yang disediakan di meja di depan kami. "Ya," aku mengunyah, menelan, kemudian lanjut membalas, "Alva lawan yang kuat, tapi aku yakin bisa mengatasinya. Aku sudah melawannya dua kali, ingat? Tidak ada bedanya dengan sekarang."

"Aku harap kepercayaan dirimu itu tidak menjatuhkanmu," balas Chloe.

"Aku tahu kapasitasku," timpalku. Kuambil lagi sebatang sereal sebelum minum sisa botol yang diberikan Chrys dan berdiri menuju lapangan.

"Bawa piala itu, Kesatria."

Aku tersenyum miring. "Tentu saja, Badut."

Baru beberapa langkah, Pak Ben datang mencegatku. "Arennga," panggilnya. Kami sempat bertatapan dalam hening beberapa saat sebelum akhirnya dia hanya berkata, "Kau yang terbaik." Sambil memberi jempol.

Avatar System: Brain Games (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang