Olimpiade diakhiri dengan acara penutupan di hotel tempat kami menginap dengan sebelumnya acara hiburan di Stadion Infinite yang mengundang salah satu band musik terkenal di Ascent.
Kami juga sempat diwawancarai oleh Diony Shu dan Minerva Athene, tapi tidak lama karena kami memang sudah lelah. Hanya sepatah dua patah kata tentang bagaimana rasanya menang, yang hanya kujawab dengan, "Rasanya luar biasa. Dapat memenangkan olimpiade sebesar ini." Dan melelahkan.
Lalu, acara kembali dilanjutkan dengan hiburan, sambil menampilkan ulang cuplikan pertarungan final kami seperti kilas balik sebagai latar belakang.
...
Setibanya di kamar hotel, aku langsung merebahkan diri di kasur. Rasa lelah dari pertandingan ditambah ocehan Chrys serta Chloe tentang pertarungan sebelumnya rasanya menumpuk, membuat gravitasi kasur terasa semakin kuat. Aku bahkan tidak sempat mengganti pakaian dan hanya melepas sepatu sebelum menyentuh tempat tidur.
"Bapak akan mengurus beberapa hal dulu. Kalian istirahatlah. Acara penutupan dimulai pukul delapan nanti," kata Pak Ben. Dia tersenyum padaku—sangat kentara bangganya, sebuah senyum yang tidak pernah kudapat dari ayahku sendiri—dan pada Chrys.
Aku membalas senyumnya.
Lalu, dia menutup pintu dan meninggalkan kami.
Chrys memutuskan untuk mandi lebih dahulu, sementara aku kembali merebahkan diri.
Aku telah menang. Apa yang akan Ayah katakan?
Kutengkurapkan tubuh, lalu kuperiksa ponsel. Tidak ada pesan apa pun dari orang arogan itu, berbanding terbalik dengan pesan-pesan yang ada di grup angkatan. Teman-teman dari yang dekat denganku sampai yang tidak kukenal memberikan selamat. Chloe yang paling banyak membalas disusul Chrys. Kubalas beberapa pesan termasuk pesan pribadi, lalu kutaruh ponsel di nakas.
Tanpa sadar, rasa lelah membuaiku sampai aku tertidur beberapa saat dan dibangunkan oleh Chrys yang memanggilku.
"Kau tidak mau mandi dulu?" tanyanya sudah berpakaian lengkap kasual dengan handuk di leher.
Aku bangkit dan duduk di pinggiran kasur. Aku tidak tahu apa yang barusan itu bisa disebut power nap atau tidak, tapi setidaknya energi di tubuhku serasa sudah terisi kembali, meskipun aku harus mengumpulkan kesadaran untuk beberapa saat.
"Bagaimana rasanya menang?" tanyaku pada Chrys yang sedang mengeringkan rambut pirangnya.
Orang yang kutanya berhenti mengusap-usap kepala. Handuknya bertengger kembali di leher. Mata anak itu menerawang ke segala arah. "Luar biasa," jawabnya singkat dengan senyum. Dia kemudian duduk di pinggir kasur, menghadapku. "Aku pikir ini hanya perlombaan biasa, tapi ... ternyata banyak yang terjadi."
"Sesuatu yang tidak terduga," tambahku.
Chrys mengangguk. "Iya." Mata birunya terpatri padaku. "Kau jadi lebih terbuka."
"Dan kami jadi bisa melihat sisi lain dirimu."
Anak itu menunduk. Pipi dan telinganya memerah.
Aku berdiri. Kutepuk bahu anak itu. "Aku akan mandi," sahutku sambil pergi, sebelum obrolan ini jadi lebih sentimentil.
...
"Kau siap, Ren?" Chrys bertanya ketika aku sedang menyisir rambut di depan cermin. Anak itu sudah siap dengan seragam sekolah lengkap. Rambutnya disisir rapi ke kiri dari pantulan yang kulihat—yang berarti disisir ke arah sebaliknya. Kami berusaha semaksimal mungkin untuk terlihat rapi malam ini agar tidak memalukan sekolah dan negara, terutama kami tidak ingin mengecewakan Pak Ben.
KAMU SEDANG MEMBACA
Avatar System: Brain Games (END)
SciencefictionMenjadi juara umum di kelas sepuluh sebelumnya, mengantarkan Arennga menjadi salah satu perwakilan untuk mengikuti Olimpiade Sains Persahabatan bersama dua sekolah lainnya dari negara yang berbeda. Bersama tiga rekan setim dan avatar mereka masing-m...
