Sebelum pertarungan ketiga, Chloe memilih istirahat dengan banyak minum minuman manis, makan kue-kue bergula yang dapat menyebabkan diabetes dalam sekejap—yang uniknya adalah gula darah gadis itu selalu stabil—dan menghabiskan dua potong hotdog ukuran sedang. Dia melakukan itu dalam waktu sepuluh menit yang membuat kami semua keheranan. Sudah seperti seorang juara lomba makan saja.
"Oke, aku sudah siap!" katanya, lalu kembali ke lapangan tepat saat pemberitahuan untuk segera bersiap berdengung.
Chloe telah di posisi, dan kini lawannya adalah Aryza. Dengan percaya diri gadis itu menelengkan kepalanya ke arahku sambil berkata, "Kalau kau tidak mau menghadapi semua lawan sekaligus, biar aku saja!"
"Ck." Aku mengerling. "Lakukan saja kalau memang bisa," balasku sambil bersedekap. Sekuat-kuatnya gadis itu, dia punya batas, begitu pun denganku. Lama-lama otaknya juga akan sakit karena dipakai berpikir terus.
Chrys mendekatkan mulutnya ke telingaku. "Kau yakin dia bisa melakukannya?" bisik anak itu.
Aku mengangkat bahu.
Chloe sudah sedia dengan Clowny dan bisa bertempur kapan saja. Sementara itu, Aryza mengeluarkan Merlin yang berjubah panjang biru tua dengan tudung menutupi wajahnya. Makhluk digital itu memegang tongkat kayu yang berpuntir dan berujung bulat. Kalau Merlin versi tokoh cerita rakyat terdapat versi mudanya, mungkin dia akan terlihat seperti Aryza; tanpa jenggot, tegap, dan lebih segar ... dalam versi chibi. Sayang sekali dia tidak jadi lawanku, kalau iya, itu akan jadi pertarungan raja dan penasihatnya.
"Arena, set!" seru Diony Shu.
Rumput-rumput lapangan berubah menjadi lebih berwarna; hijau tua, hijau muda, kecokelatan kering, dan tanah cokelat tua. Pohon-pohon akasia ramping berkanopi lebar tersebar di beberapa tempat sama halnya dengan ilalang serta tanaman semak lainnya.
Hitung mundur dimulai lagi. "Satu!"
"Ayo, Clowny!"
Clownya menerjang dengan bola-bola di tangan. Dia menghindari lecutan-lecutan petir dari Merlin. Di permulaan ini, gerakan badut itu masih sama seperti saat melawan Vivian. Setelah melempar bola yang langsung dihindari oleh lawannya, senjata Clowny berganti menjadi pisau besar ganda.
Aryza tampaknya sudah mengira ini. Dia memberi Merlin skill petir dengan lingkup kerusakan area. Awan-awan bergulung pekat di langit dengan kilat-kilat listrik, lalu hujan petir seketika menyambar tanah di mana Clowny berada. Avatar Chloe seketika terpenjara dalam sekumpulan pilar-pilar petir yang bergerak-gerak sambil menjerit.
Petir-petir yang mengenai pohon dan daun membuatnya terbakar seketika.
Clowny teronggok berasap. Chloe memanggil-manggilnya dan makhluk digital itu pun bergerak, lalu menghindar tepat ketika lecutan petir Merlin menyerangnya lagi.
"Terus dekati dia, Clowny!" seru Chloe.
Clowny bergerak laju. Dia menggunakan pohon-pohon sebagai tameng ketika serangan petir lainnya muncul. Seperti kera, avatar Chloe memanjat pohon dengan cepat, lantas meloncat sambil melemparkan bola-bola warna-warni.
Merlin menyerang lagi, dan kini tongkatnya berubah menjadi pegangan cemeti dengan petir sebagai cambuknya. Pucuk-pucuk pohon dan dedaunan terbakar ketika "tali" petirnya melecut-lecut secara berputar, membatasi pergerakan Clowny yang melompat antar pohon.
"Benar-benar seperti sirkus dengan Merlin sebagai pawangnya!" komentar Diony Shu.
Sedikit banyak aku ingin tertawa seperti penonton yang lain, tetapi sepertinya hal itu akan menurunkan semangat Chloe yang menggerak-gerakkan alisnya dengan jengkel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Avatar System: Brain Games (END)
Ciencia FicciónMenjadi juara umum di kelas sepuluh sebelumnya, mengantarkan Arennga menjadi salah satu perwakilan untuk mengikuti Olimpiade Sains Persahabatan bersama dua sekolah lainnya dari negara yang berbeda. Bersama tiga rekan setim dan avatar mereka masing-m...
