Davin

437 29 37
                                        

Bun, hidup berjalan seperti bajingan...

Seperti landak yang tak punya teman...

Ia menggonggong bak suara hujan...

Dan kau "pangeran" ku, mengambil peran...

Bun, kalau saat hancur, ku disayang...

Apalagi saat ku jadi juara...

Saat tak tahu arah, kau di sana...

Menjadi gagah saat ku tak bisa...

Sedikit kujelaskan tentangku dan kamu...

Agar seisi dunia tahu...

Keras kepalaku sama denganmu...

Caraku marah, caraku tersenyum...

Seperti detak jantung yang bertaut...

Nyawaku nyala karena denganmu...

Aku masih ada sampai di sini...

Melihatmu kuat setengah mati...

Seperti detak jantung yang bertaut...

Nyawaku nyala karena denganmu...


Bunga mawar putih yang indah itu telah layu, dan tidak akan mekar lagi seperti semula

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bunga mawar putih yang indah itu telah layu, dan tidak akan mekar lagi seperti semula. Ibunya Davin pun telah berpulang ke hadapan Tuhan dengan damai. 🥀

Peti persemayaman itu dihiasi dengan bunga krisan putih, mawar putih, mawar merah, dan bunga lain diatasnya. Dan ditengahnya terdapat sebuah pigura, yang menampakkan foto perempuan yang telah berumur, tapi masih sangat cantik. Davin yang mengenakan hanbok berwarna hitam, duduk dilantai disebelah peti persemayaman mendiang ibunya.

Pagi itu, delapan calon member yang kelak akan debut, bersama trainee lainnya, mendatangi rumah duka mengenakan jas hitam dan celana panjang hitam. Sesampainya disana, satu-persatu dari mereka memasukkan amplop berisi uang sumbangan kedalam kotak yang sudah disiapkan, kemudian menuju ke ruangan dimana peti persemayaman diletakkan.

"Yeorobun, aku mau nanya. Apakah CEO akan menjenguk kesini juga nanti?" tanya Hyunsik dengan suara pelan.

Lex menjawab. "Yang aku dengar, CEO dan para staff juga akan datang kesini setelah kita selesai."

Hyunsik hanya mengangguk. Kemudian, mereka pun bergiliran memasuki ruangan dimana Davin duduk disebelah peti. Karena luas ruangan yang terbatas, maka setiap giliran adalah empat orang. Giliran pertama adalah Lex, Hyunsik, Gyumin, dan Zayyan. Dan, Zayyan sebagai yang bukan orang Korea, hanya bisa meniru prosesi yang dilakukan Lex, Hyunsik, dan Gyumin.

Sembilan (Xodiac)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang