The Royal and The Wizard

5 0 0
                                        

Jauh di sana, tempat kerajaan Arthenca berdiri. Seorang gadis 15 tahun menyelundupkan dirinya di antara ramainya kerumunan. Dia Rosanne de Arthenca, putri dari Raja Arthenca. Kekangannya sebagai putri raja membuatnya bertindak sejauh ini. Festival musim semi yang ua idamkan sejak umur 9 tahun akhirnya terlaksana. Di tengah hiruk pikuk tarian suka cita para rakyat, Rosanne mendapati kelopak bunga yang beterbangan dengan aliran cahaya kebiruan di sekitarnya. Selama hidupnya, Rosanne belum pernah melihat hal itu sekali pun. Dengan segala tekadnya, ia mengikuti arah datangnya cahaya itu. Dibawa ke sebuah gang kecil, langkah Rosanne terhenti ketika dia menyadari segerombol monster telah mengepungnya kini. Saat instingnya berkata kabur!  Semua sudah terlambat. Tatapan bengis tersorot jelas di mata mereka. Rosanne semakin terpojok, keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. Dia mengepalkan tangannya, tiba-tiba saja monster-monster itu meledak dan menyipratkan bercak darah dimana-mana. Dari ledakan itu, muncul ratusan kunang-kunang yang melebur menjadi sesosok lelaki muda yang tersenyum dengan girang.

"Rupanya kamu bukan gadis jalanan bodoh biasa, keren!" Lelaki itu bersorak kegirangan.

"Apa yang anda maksud dengan gadis jalanan bodoh biasa, tuan?" Rosanne merasa terancam dengan kehadiran lelaki itu yang mendadak.

Lelaki itu tersenyum. "Kamu punya sihir yang kuat. Apakah kamu seorang penyihir?"

Rosanne menggeleng. "Penyihir adalah musuh saya."

Sang lelaki terbelalak. "Kamu adalah keluarga kerajaan ya?" Tapi kemudian dia tertawa. "Tapi kamu tidak terlihat seperti keluarga kerajaan."

"Apa anda menghina saya?" Alis Rosanne hampir menyatu sangking geramnya.

Tawa si lelaki akhirnya menyurut. "Sepertinya aku menodai gaun indahmu, putri." Dengan sihir di tangannya, lelaki itu menghilangkan noda darah yang berada di gaun Rosanne. Kemudian merangkai bunga-bunga menjadi mahkota dan memasangkannya di kepala Rosanne.

Rosanne tertegun, "Aku belum pernah melihat sihir yang seperti ini. Sihir apa ini?"

"Hm? Bukankah kamu bisa menggunakan sihir?"

"Sihir yang kupelajari hanya sihir pertahanan dari ancaman." Rosanne masih terkagum dengan sihir lelaki itu.

"Kamu harus bersyukur bertemu aku  jika bukan karena aku,kamu tidak akan pernah melihat keindahan sihir." Lelaki itu memasang tampang percaya diri.

"Termasuk monster-monster itu?"

Sang lelaki meringis. "Kecuali itu." Mereka pun tertawa bersama-sama. Tiba-tiba jam lonceng ibu kota kerajaan berdentang.

"Tuan, sepertinya saya harus kembali ke kediaman saya. Saya harap kita dapat bertemu lagi, namun tidak dengan monster itu lagi." Rosanne tersenyum hangat.

Lelaki itu balas tersenyum. " Tidak akan." Rosanne pun kembali masuk pada kerumunan.

***

Dibelakang istana saphire, kediaman putri raja. Rosanne sedangbermain sendirian di taman bunga. Persiapan penobatan kakaknya menjadi putra mahkota begitu sibuk sehingga pelayannya pun ikut turun tangan. Di tengah taman bungah itu, Rosanne menikmati semilir angin yang berhembus menerpa rambutnya. Juga ada bunga-bunga yang menari seirama dengan arah datangnya angin. Di kesunyian itu, tiba-tiba lelaki yang yang Rosanne temui pada festival musim semi muncul di depannya.

"Eh?..." Rosanne terjatuh di antara hamparan bunga. " Bagaimana anda bisa di sini?"

Lelaki itu tertawa kecil. "Aku tidak bisa menikmati keindahan bunga karena kamu lebih mencolok."

"Terserah anda saja." Rosanne bangkit dari posisi duduknya. "Sejauh ini, saya belum mengetahui nama anda, tuan. Bolehkah anda memperkenalkan diri?"

Kepala si pria itu mengangguk. "Namaku Ethan. Anda tidak perlu terlalu formal ketika bersamaku, aku bukanlah orang yang patut anda hormati."

"Baiklah... Aku Rosanne, orang terdekatku memanggilku Anne." Dengan sihirnya, Rosanne menerbangkan kelopak bunga yang gugur ditiup angin kencang. "Terima kasih sudah memberitahuku indahnya sihir. Selama ini sihir yang kuketahui hanyalah tentang kehancuran."

"Keluarga kerajaan memang menyeramkan ya..."

"Kalau begitu aku juga menakutkan?" Rosanne menolah.

"Kecuali kamu." jawab Ethan. "Kamu hanyalah gadis kecil polos yang sayangnya hidup di antara kehidupan kerajaan yang rumit. Dunia kekuasaan itu terlalu menakutkan untuk dirimu yang selembut kelopak mawar." Ethan menggantungkan rambut Rosanne yang jauth ke bekalang telinganya.

Rosanne hanya tersenyum. "Mau bagaimana pun kerajaan adalah tempatku, Ethan."

"Jikalau bisa aku ingin sekali membawamu ke tempat yang jauh dari sini, Anne. Aku akan memastikan dirimu aman dalam perlindunganku." Tangan Ethan membelai pipi Rosanne. 

Dari kejauhan terlihat seorang pelayan datang mendekat, Ethan pun mengusap kepala Rosanne. "Aku harus pergi. Sampai jumpa, Anne." Setelah itu Ethan tiba-tiba menghilang.

***

Pesta dansa kerajaan besar-besaran diadakan oleh Raja Arthenca. Semua orang dari pergaulan atas berkumpul penuh suka cita menyambut putra mahkota baru mereka. Dalam keramaian ini Rosanne hanya melamun dengan wajah lesu, baginya pesta ini tidak menyenangkan sama sekali. Dia memandangi orang-orang yang berlalu lalang di depannya, sibuk berdansa dan menari anggun bersama pasangannya. Tiba-tiba seorang pria bertopeng mengulurkan tangannya dan berkata, "Aku harap anda tidak keberatan, putri Anne."

Rosanne menyadari bahwa itu adalah Ethan dan tersenyum. Dia menyanggupi uluran tangan Ethan dan mulai berdansa. Meraka begitu serasi sehingga semua semua mata tertuju mata mereka. dengan sedikit kendala, Ethan tetap sabar walau kakinya terus oleh Rosanne.

"Tidak masalah jika yang menginjak kakiku adalah dirimu, Anne." Mendengar itu Rosanne sempat salah tingkah.

Di tengah dansa mereka, raja datang dengan menodongkan pedang ke arah Ethan. "Seorang penyihir tidak seharusnya ada di sini."

"Jangan ayah, jangan bunuh Ethan, dia temanku." Rosanne mencoba menghentikan sang raja.

Raja pun menurunkan pedangnya dan memandang Ethan dengan tatapan penuh intimidasi. "Anda adalah penyihir negara suci 'kan? kembalilah ke tempatmu dan jangan usik kami."

"Baiklah." Ethan pun pergi keluar melewati banyaknya orang yang ada. Rosanne memandangi punggung Ethan yang kian menjauh.

***

Bulan demi bulan berlalu. Rosanne dan Ethan tak lagi berjumpa bersama. Namun diam diam mereka saling bertukar surat lewat merpati pengantar. Jarak anatara Kerajaan  Arthenca dan negara suci bukan apa-apa untuk mereka. Apalagi status mereka yang berbeda, itu tidak ada artinya. Bagi mereka putri dan penyihir tetap bisa berteman dengan berbedaan yang ada.


Senin, 7 April 2025

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 07, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

WhateverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang