Menuju Chaoyang; Manusia Burung

32 7 1
                                        

Melihat senyum di wajah Shi Ying, Chong Ming seakan mendapatkan pemahaman. Melemparkan pandangan mencemooh.

"Apa kau yakin itu benar dia? Bagaimana kau yakin jika mereka tidak salah mengenali orang?"

"Kita akan tau jika sudah tiba di sana."

Dua orang pemuda tampak berkuda dengan kecepatan penuh menuju pintu perbatasan. Dengan mulus, Chong Ming beserta Pangeran Shi Ying melewati penjaga dengan sedikit penyamaran, kemudian kembali melaju ke perbatasan hutan. Di sanalah kedua kuda mereka ditambatkan, melewati malam pertama mereka dengan tenang di tepian hutan.

Chong Ming menatap daging rusa setengah matang di tongkat, bibirnya mengerucut dengan muka ditekuk. "Kenapa kita tidak menginap di desa sebelumnya saja? Kita bisa makan enak dan meninggalkan kuda di tempat mereka."

Shi Ying tersenyum tipis mendengar gerutuan Chong Ming. "Bukankah kamu menyukai daging rusa segar?"

"Aku tidak bilang kalau aku tidak menyukai daging rusa. Tapi setidaknya di penginapan kita tidak akan berurusan dengan mereka." Melirik ke sekeliling, di mana beberapa pasang mata merah menatap ke arah mereka.

"Kita juga tidak berurusan dengan mereka, setidaknya aray pelindung yang kubuat cukup kuat menahan mereka."

"Tetap saja---"

"Sepertinya aku terlalu memanjakanmu di istana," potong Shi Ying tegas, mematahkan semua keluhan pemuda burung tersebut. "Lebih baik kamu makan yang banyak, lalu tidur, perjalanan kita masih cukup jauh, simpan tenagamu untuk besok."

Chong Ming mendengkus kesal mendengar ucapan Shi Ying. Namun dia juga tidak bisa melawan kemauan pangeran muda itu. Jadi dia hanya bisa mengunyah dan mencerna semua daging segar yang dimasak seadanya hingga tandas.

Entah sudah berapa waktu berlalu saat telinga Shi Ying menangkap suara asing di dekatnya. Dengan sigap pemuda itu bangun, bersiap mengarahkan senjata ke siapa pun itu. Namun niatnya urung saat melihat Chong Ming berbicara dengan ramah pada dua gadis berparas cantik di depannya.

"Ooh, Shi Ying, kau terbangun?" cerocos pemuda burung itu mengabaikan tatapan heran lawan bicaranya. "Mereka pelayan yang bekerja pada tuan tanah di desa terakhir yang kita lewati. Mereka bilang tersesat saat mencari kayu bakar, lalu kemalaman dan melihat percikan kayu bakar kita."

"Lalu?"

"Lalu apa? Ya mereka meminta agar kita mau menampung mereka hingga pagi."

Tidak berbicara lebih jauh, Shi Ying hanya mengamati  dalam diam dua gadis muda yang sedang berpelukan rapat seakan kedinginan sambil menunduk dalam. Kemudian beralih menatap Chong Ming yang terlihat antusias karena menyelamatkan mereka.

Masih dalam diam, Shi Ying mengubah posisi, memejamkan mata dalam sikap teratai*. Berusaha memusatkan konsentrasi.

Aray yang dibuat olehnya tidak mengalami kerusakan, maupun tanda-tanda dimasuki secara paksa. Berarti hanya ada dua kemungkinan, yakni Chong Ming mengizinkan kedua orang gadis itu masuk, atau kemampuan mereka cukup tinggi untuk menembus aray.

Bagaimanapun, aray buatannya itu cukup komplek dan tidak akan mudah ditembus oleh monster atau siluman tingkat rendah yang biasa berkeliaran di tepi hutan. Juga bagi manusia biasa, aray perlindungan ini mampu menyamarkan keberadaan mereka hingga tingkat tertentu.

Mungkin dia tidak akan terlalu cemas jika kedua gadis asing tersebut memang sekedar gadis pelayan tuan tanah di desa sebelah. Namun, gadis pelayan mana yang mencari kayu bakar di dalam hutan hingga tengah malam. Setidaknya jika mereka benar berasal dari desa, mereka tidak akan tersesat dengan mudah di tepian hutan seperti ini.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 19, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ADONISTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang