47. Bad Fact

8.7K 543 182
                                        

Sunyi, tak ada pergerakan atau suara apapun dalam ruang rawat yang semula terasa hangat. Kebahagiaan yang begitu terpancar dan kehangatan yang menyelimuti telah menghilang dalam sekejap mata, tergantikan oleh kesunyian yang terasa mencekik secara perlahan.

Baik Alora maupun Liliana sama-sama bungkam. Kedua wanita itu terdiam menatap seorang pria yang tengah terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit. Sebelum Bertrand dibius, pria itu sempat histeris, mengamuk menghancurkan barang dan kembali memukuli ibunya, tapi tindak kekerasan tersebut dengan cepat dihentikan oleh Robert. Namun Bertrand menjadi semakin tak terkendali kala melihat Robert, dia hendak menusuk Robert dengan pecahan kaca jika saja Robert tidak menghindar.

Alora seakan tak mengenal ayahnya, selama ini dia tidak pernah melihat ayahnya semarah dan sebenci itu pada sesuatu. Bertrand adalah sosok ayah yang sangat luar biasa dalam hidupnya. Ayah yang selalu ada untuknya, ayah yang sangat menyayanginya, dan sosok ayah yang tak pernah membiarkannya sendirian. Setidaknya dalam dunia yang kejam ini, Alora mendapatkan cinta yang tulus dari ayahnya. Alora merasa sangat beruntung karena memiliki ayah seperti Bertrand.

Namun kala disuguhkan pemandangan seperti tadi, Alora sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Kakinya mati rasa, mulutnya terbungkam rapat, dan detakan jantungnya terasa sakit. Bertrand terlihat berbeda, ayahnya tampak sangat menyeramkan. 

Alora mengalihkan pandangan, menatap ibunya yang hanya terdiam dengan tatapan kosong. Rona keungan tercetak jelas pada pipi ibunya. Hatinya luluh lantak, entah apa yang telah dia lewatkan, tetapi yang pasti keluarganya terasa sangat berbeda semenjak ayahnya mengalami kecelakaan hebat dan membuatnya tak sadarkan diri hingga bertahun-tahun lamanya. Alora baru menyadari, kilau indah yang dulu menghiasi mata sang ibu, kini telah menghilang sempurna tergantikan dengan tatapan kosong yang penuh dengan keputusasaan.

Alora tak dapat menahan air mata, semua ini terasa asing baginya. Ayahnya berubah menjadi kasar, bahkan dengan tega memukuli ibunya. Apa yang terjadi? Apa yang telah dia lewatkan? Kepalanya terasa akan pecah saat tak mendapatkan apapun dalam pikirannya.  

"Apa yang sebenarnya terjadi, Bu?" Pada akhirnya Alora tak dapat lagi menahan diri. Dia menatap penuh harap pada Liliana, berharap agar wanita itu mau menjelaskan semua hal yang tak dia mengerti.

Liliana membalas tatapan putrinya, tangannya terangkat mengelus lembut pipi Alora. "Maafkan ibu, nak. Maaf karena kamu harus melihat hal seperti tadi," ujarnya dengan rasa bersalah.

Lihatlah, bagaimana bisa ibunya meminta maaf setalah semua rasa sakit yang ayahnya berikan? Bagaimana bisa Liliana masih memikirkan dirinya, sementara wanita itu kini tengah kesakitan. Alih-alih menuntaskan keingintahuannya, Alora lebih memilih untuk memeluk ibunya, membiarkan wanita yang telah melahirkannya itu menangis dalam dekapannya. Alora tak tega untuk menuntut jawaban atas semua rasa penasarannya, dia tidak tega untuk menekan ibunya lebih jauh. Ibunya sedang tidak baik-baik saja, dan hal itu berhasil membuat perasaan Alora semakin kacau.

Alora mengelus lembut punggung rapuh Liliana. Hatinya terasa remuk redam, begitu menyakitkan rasanya saat menyaksikan ibunya dipukuli oleh ayahnya. Sosok pria yang harusnya menjadi pelindung keluarga justru dengan tega melampiaskan semua rasa marahnya pada wanita yang selama ini merawat dan menunggunya untuk segera membuka mata. Inikah balasan atas semua kesabaran ibunya? Inikah hasil yang harus ibunya dapatkan atas semua kesetiaannya? Apapun alasannya, Alora tidak akan pernah memaafkan ayahnya atas kesalahannya hari ini. Melukai ibunya sama dengan melukai dirinya.

Alora melepaskan pelukannya saat tangisan ibunya mereda. Dia mengelus pelan pipi Liliana yang tampak membiru. "Apa sebelum ini ayah pernah memukul ibu?"

Liliana terdiam cukup lama seraya memegang erat tangan putrinya. "Ibu baik-baik saja."

Bukan itu jawaban yang ingin Alora dengar, tapi kalimat yang ibunya lontarkan membuatnya dapat menyimpulkan bahwa kekerasan seperti ini sudah pernah terjadi sebelumnya dan ini bukanlah kali pertama. 

SEÑOR V [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang