Alora terbangun dengan kepala yang terasa hampir pecah, denyut sakit serta rasa panas menjelar memenuhinya. Pandangannya mengedar, melihat ke seluruh penjuru ruangan. Dan napasnya tercekat kala mendapati seorang pria tengah tertidur dalam posisi duduk sembari menggenggam erat tangannya. Tanpa perlu menerka-nerka Alora sudah tahu pasti jawabannya. Entah sejak kapan Valter berada di sini, tapi yang pasti hatinya merasa lega saat melihatnya.
Dengan tangan kanannya yang terpasang infus, Alora berusaha untuk mengelus lembut surai hitam sang suami. Dadanya kembali berdenyut sakit kala mengingat semua hal yang telah ibunya ceritakan. Tak bisa dia bayangkan sesulit apa hidup Valter saat bersama ayahnya dulu. Hidup? Bahkan saat itu tidak bisa disebut hidup, Valter seperti terjebak dalam neraka yang ayahnya ciptakan. Ayahnya sangat kejam karena telah menghancurkan hidup seorang anak yang tak bersalah.
Dia mengingat jelas bagaimana Valter terkucilkan dalam keluarganya sendiri. Valter seperti tak diinginkan dan dibuang begitu saja oleh Leonard. Sedari awal hidup Valter sudah semenyakitkan itu, dan ayahnya dengan tak tahu diri turut menabur garam di atas lukanya.
Jika Alora meminta maaf, apa semuanya akan baik-baik saja? Apa dengan maaf yang tak seberapa itu bisa menghapus rasa sakit yang selama ini Valter rasakan?
"Kamu sudah sadar, sayang?"
Terlalu lama bergelut dengan pikirannya membuatnya tak menyadari bahwa Valter sudah membuka mata.
"Ada yang sakit? Kepalamu terasa pusing?"
Alora hanya mampu terdiam dengan pandangan sendu. Bagaimana caranya untuk meminta maaf kepada suaminya?
"Aku akan memanggil dokter."
Belum sempat Valter mengambil langkah, Alora lebih dulu memegang tangannya. Dia berbalik, membalas tatapan sendu sang istri. Kesedihan begitu terpancar dari kedua mata Alora, bahkan genangan air mata telah menumpuk dan siap untuk tumpah ruah.
Valter mengelus lembut surai Alora. "Kenapa? Are you okay?"
"Hug me," pinta Alora.
Tanpa menunggu lama, permintaan itu pun dapat terpenuhi. Rasa hangat mulai menyelimuti Alora kala Valter memeluknya dengan erat. Air mata yang mengenang tak lagi dapat dia bendung, dia menumpahkan semua keresahan dalam hatinya melalui tangisannya. Sementara Valter membisu, membiarkan Alora melepaskan semuanya dan mendengarkan tangis istrinya yang menyesakkan.
Valter berusaha kuat untuk menenangkan Alora. Ini adalah kali pertama dia peduli pada tangis orang lain dan ini juga merupakan pertama kalinya dia menawarkan diri secara suka rela untuk menjadi sandaran bagi seseorang. Valter seolah kehilangan jati dirinya, dia seperti tak mengenal dirinya sendiri setiap kali bersama Alora. Meskipun dia bersikeras untuk menolak, tapi hatinya tidak bisa berbohong. Dia peduli pada Alora, dia turut merasakan sesak setiap kali melihat Alora terluka, dan dia selalu ingin berada di sisi Alora.
Walaupun di dalam kepala Valter berteriak untuk menghentikan semuanya, tapi tangannya tetap bergerak mengikuti kata hatinya, dia tetap memberikan elusan lembut serta kecupan hangat pada pelipis sang istri.
Usaha yang Valter lakukan tak berakhir sia-sia, kekalutan yang sempat menghinggapi Alora seakan sirna berkat pelukan hangat serta kalimat penenang yang Valter berikan. Kehadiran Valter mengobati semuanya. Alora tidak mau kehilangannya. Apakah sekarang dia terlihat serakah? Ayahnya adalah luka bagi Valter, sementara dirinya dengan tak tahu malu meminta kehangatan pada pria ini. Tanpa sadar, Alora mencengkeram erat coat hitam yang Valter kenakan. Jika boleh, dia ingin meminta kepada Tuhan untuk menghentikan waktu. Dia tidak sanggup dan tidak mau kehilangan Valter dalam hidupnya.
"Ada apa, sayang? Apa semua baik-baik saja? Tell me," bisik Valter lembut dan hal itu semakin membuat Alora mengeratkan pelukannya.
Valter tak lagi bertanya, keterdiaman istrinya telah menjawab semuanya. Alora belum mau memberitahunya sekarang, tidak apa-apa, dia akan menunggu. Sepertinya ada sesuatu hal yang telah terjadi hingga membuat Alora sediam ini, Valter akan mencari tahu nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEÑOR V [END]
RomanceBerisi tentang kekejaman pria bernama Valter D'onofrio, dia dikenal sebagai Senor V. Darah, kasino, dan kegelapan adalah dunianya. Tak ada yang dapat membuatnya takut. Justru kehadiran Valter-lah yang membuat orang-orang ketakutan setengah mati. Ke...
![SEÑOR V [END]](https://img.wattpad.com/cover/345700992-64-k737848.jpg)