49. Stay On The Plan

7.3K 623 176
                                        

Suasana malam yang terasa mencekam mengiringi perjalanan seorang pria gagah yang tengah terdiam memandang lampu-lampu jalan. Dia membuka kaca mobil, membiarkan angin masuk membelai kulitnya dengan penuh lembut. Matanya terpejam lalu menghirup udara segar dan menghembuskannya secara perlahan. Dia lakukan hal itu berulang kali, berharap angin yang berhembus kuat ini dapat mengangkat beban berat yang bersarang di pundaknya.

Senyum tipis tersungging pada bibirnya, dia menyadari bahwa sebanyak apapun angin yang menghantam tubuhnya tidak akan bisa membawa beban yang diembannya. Beban itu akan terus ada, beban itu akan terus menyiksanya sampai dia menemukan cara terbaik untuk menghilangkannya.

Ribuan kali sudah dia pikirkan mengenai jalan terbaik dari semuanya. Beberapa cara sudah dia temukan, tapi belum ada satupun yang berhasil dia lakukan secara sempurna. Untuk kesekian kalinya, pria bernama Corleone Valter D'onofrio tersebut menghembuskan napas berat.

Pikirannya melalang buana, dia pikir dengan menjauh dari Alora dapat membuatnya lupa akan keberadaan wanita itu barang sejenak. Tapi nyatanya, walau pun Valter sudah mengambil penerbangan dari Las Vegas menuju Spanyol dan melambung tinggi di udara selama kurang lebih 15 jam tak membuatnya lupa dengan atensi Alora. Wanita itu tetap memenuhi pikirannya seolah tak ingin beranjak, atau memang dirinya saja yang tidak bisa berhenti memikirkannya?

Tidak seharusnya dia seperti ini, tidak seharusnya dia jatuh pada Alora, dan tidak seharusnya dia peduli pada wanita itu. Mencintai Alora sama sekali tidak berada di dalam daftar rencananya, jika terus mengikuti kata hatinya maka Valter akan kalah.  

"Kita sudah sampai, Señor V."

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Valter memilih untuk keluar dari mobil dan mengambil langkah cepat menuju rumah megah di depannya. Rumah itulah yang selalu menjadi tujuannya disaat dirinya tidak baik-baik saja, dia membutuhkan seseorang yang berada di dalamnya. Seseorang yang selalu berada di pihaknya dan selalu bisa memberikan rasa aman kepada dirinya.

Valter membuka pintu megah itu setelah menyuruh orang-orangnya untuk membobol pintu tersebut. Dia tidak peduli dengan keadaan pintu yang telah rusak itu, dia melenggang masuk begitu saja, mengabaikan para penjaga rumah yang telah pucat pasi saat melihat keberadaannya.

"KAKEK!" Teriaknya menggelegar. Masa bodoh dengan suaranya yang akan mengganggu tidur para pekerja, yang pasti saat ini dia ingin segera melihat kakeknya.

Valter berteriak sekali lagi seraya menaiki undakan tangga yang akan membawanya ke lantai 2, dimana lantai itulah kamar kakeknya berada.

"KAKEK, INI AKU VALTER!"

Valter berusaha membuka pintu kamar kakeknya, tapi sialnya pintu itu terkunci rapat. Valter tidak menyerah, dia tetap memutar gagang pintu tersebut sembari menggedor-gedornya dengan kuat.

Namun tak berapa lama kemudian, gerakannya harus terhenti kala pria berjas hitam datang menghampirinya.

"Maaf mengganggu, Señor V, tapi sepertinya Señor Draxler tengah beristirahat," ucapnya sopan.

"Darimana kau tau?!" Tukas Valter tajam.

Pria itu menunduk, menghindari tatapan Tuan-nya yang seperti akan menelannya. "Maaf, Señor V. Jika boleh saya memberitahu, ini baru pukul dua pagi."

"Aku tidak peduli," balas Valter lalu melanjutkan teriakannya. "KAKEK BUKA PINTUNYA!!"

Usaha yang Valter lakukan membuahkan hasil, setelah beberapa menit kemudian pintu kamar itu terbuka, menampilkan seorang pria yang tetap gagah diusianya yang tak lagi muda. Dia menatap tajam cucu sialannya yang kini hanya berdiri memandanginya, tangannya terangkat lalu melayangkan pukulan kuat pada kepala cucunya.

SEÑOR V [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang