Dinginnya udara malam terasa menusuk kulit, langit gelap yang menyelimuti semakin membuat orang-orang enggan untuk beranjak dari tempat peristirahatan. Sama halnya dengan pria kejam yang kini tengah mendekap hangat sang separuh jiwa. Sesekali dia memberi kecupan pada pelipis istrinya. Senyumnya sedari tadi tak luntur sedikitpun, mendapatkan suntikan dana besar untuk perusahaan gelapnya tentu membuat suasana hatinya membaik.
Dalam beberapa bulan ke depan, Valter berniat untuk meluncurkan sebuah produk baru yang akan membuat dunia bawah gempar dengan ciptaannya, yaitu sebuah racun mematikan yang akan menghilangkan nyawa dalam hitungan detik tanpa meninggalkan jejak pada tubuh sang korban. Tentunya benda ini akan sangat diminati oleh para pebisnis gelap yang hanya mementingkan kekayaan.
Namun tidak sembarang orang bisa membeli cairan mematikan ini. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat menjangkaunya. Valter akan menaruh harga fantastis untuk itu.
Senyum yang semula tersemat pada wajah Valter perlahan menghilang kala menyadari bahwa Alora tengah berusaha lepas dari pelukannya. Entah kemana wanitanya akan pergi, tapi yang pasti Alora tampak tergesa.
"Mau kemana?"
Pertanyaan yang Valter lontarkan membuat Alora yang sedang terduduk mengurungkan niatnya untuk turun dari ranjang. Dia meringis, menyadari jikalau sedari tadi ternyata Valter belum tertidur. Alora pikir suaminya itu sudah terlelap karena beberapa menit lalu Valter tidak menunjukkan pergerakan apapun, tapi ternyata dugaannya salah besar. Dia hanya bisa tersenyum kecil sembari menatap canggung pada suaminya.
"Aku mau ke toilet," ucapnya lalu tanpa ragu meninggalkan Valter seorang diri.
Alora menghela napas, berusaha untuk tenang meskipun jantungnya tengah berdebar tak karuan. Dia berbohong, dia ingin pergi dari tempat ini. Alora ingin menemui ayahnya, tapi terlalu takut untuk jujur pada Valter. Apalagi saat mengingat pesan dari pelayan wanita yang memberikan kertas itu padanya semakin membuatnya takut untuk berbicara pada Valter.
Wanita itu mengingatkannya untuk tidak memberitahu Valter tentang hal ini. Bahkan wanita itu mengatakan, jika sampai Valter tahu bahwa ayahnya sudah membuka mata, maka Valter akan dengan cepat menghabisinya. Alora tidak mengerti, ayahnya tidak memiliki salah apapun pada Valter, jadi tidak mungkin Valter akan menyakiti ayahnya.
Namun kala mengingat Valter yang tanpa ragu dalam membunuh, membuatnya ketakutan setengah mati. Dia takut ucapan wanita itu benar-benar terjadi nantinya. Mungkin memang ada baiknya Valter tidak perlu tahu mengenai keadaan ayahnya.
Tapi di sisi lain, Valter adalah suaminya. Pria itu berhak tahu atas kehidupannya. Alora kebingungan sekaligus dilanda ketakutan. Dia takut pada Valter, suaminya.
"Little Mouse, are you okay?"
Alora mengalihkan pandangan, menatap pintu yang menjadi batas antara dirinya dan Valter. Berulang kali dia menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, hal itu dia lakukan agar dirinya bisa lebih tenang.
"Alora jawab aku!"
Pada akhirnya Alora membuka pintu di depannya. Dan dia disambut oleh tatapan khawatir Valter. Bahkan pria itu kini tengah memegang kedua pipinya dengan lembut.
"Apa yang terjadi? You okay?"
"Aku baik-baik saja, Valter. Tadi perutku sedikit sakit."
Jawaban yang Alora berikan sontak membuat Valter mensejajarkan tubuhnya dengan perut sang istri. Tangannya terangkat mengelus pelan perut rata itu. "Sakit? Kenapa bisa sakit? Apa yang kamu makan tadi?!" Ujarnya beruntun penuh kekhawatiran.
"Tidak ada, aku baik-baik saja sekarang," sahut Alora sembari memberikan senyum terbaiknya guna meyakinkan sang suami.
"Benarkah? Kita ke rumah sakit saja ya, sayang? Atau aku panggilkan dokter?"
KAMU SEDANG MEMBACA
SEÑOR V [END]
RomanceBerisi tentang kekejaman pria bernama Valter D'onofrio, dia dikenal sebagai Senor V. Darah, kasino, dan kegelapan adalah dunianya. Tak ada yang dapat membuatnya takut. Justru kehadiran Valter-lah yang membuat orang-orang ketakutan setengah mati. Ke...
![SEÑOR V [END]](https://img.wattpad.com/cover/345700992-64-k737848.jpg)