Maaf banget karena bab ini harusnya update Jum'at, aku malah lupa update. Lebih karena kemarin aku sakit, jadi kelewat updatenya.
Oh iya, kalau kalian suka dengan genre cerita seperti ini, mampir ke cerita ku yang lain ya🥰🩷
Jangan lupa Follow akun Wattpad ini😌✨
***
Rasa-rasanya ada yang lagi kebakaran jenggot karena Nenek memuji Jea yang lahiran di kamar VVIP rumah sakit. Meskipun sekarang Jea sebenarnya diperbolehkan pulang oleh dokter, tapi Caska dan Nenek Wijaya masih pengen Jea untuk pemulihan sekitar seminggu di rumah sakit.
Mau ditolak juga sayang sih, soalnya fasilitas dan perawatan dari dokter dan susternya bisa bantu Jea supaya terhindar dari yang namanya Baby Blues. Pas Nenek tanya ke Jea, Caska kerja apa? Sebenarnya Caska langsung mau jawab kalau dia penerus perusahaan Wijaya, tapi sama Jea langsung diberi isyarat supaya Caska tidak membeberkannya.
Sekarang kamar VVIP itu penuh dengan keluarga Jea. Ada Pakde dan Bukde, bahkan ada sepupu-sepupu jauhnya yang bahkan tidak hadir waktu acara tujuh bulananya Jea. Takut diajak patungan katanya.
Padahal sudah semestinya mereka sama-sama patungan bantu-bantu acara. Tapi Jea sudah lebih tau kelakuan keluarganya itu, yang selalu menganggap keluarga Jea ini tempat pinjam duit, dengan alasan hanya Bapak yang jadi PNS.
"Jea beruntung ya, dapat laki kaya raya. Walaupun belum sempat ketemu sama suaminya, tapi fasilitas VVIP di rumah sakit ini cuma ada lima kapasitas aja, dan orang yang beruntung atau nempatin kamar ini pasti orang kaya raya," ucap salah satu Bukdenya, yang tidak lain adalah Bukde Asih, salah satu sepupunya Bapak.
Mendengar Bukde Asih memuji Jea, tentu saja membuat Bukde Laksmi langsung kebakaran jenggot, "dulu Prita lahiran di luar negeri malah, kalau cuma kamar inap VVIP begini suaminya Prita---"
"Haduh kamu mi, bukannya Prita sudah cerai sama suaminya? Harusnya kamu itu jangan terlalu menyombongkan diri," balas Bukde Asih.
Ibu sama Jea sempat beradu tatap, ini kalau tidak dicegah, mereka berdua bisa baku hantam beneran. Apalagi Bukde Asih tipe orang yang tidak suka dengan kebenaran yang dilebih-lebihkan, padahal dia aslinya doyan gosip.
"Sudah, sudah, kalian berdua ini mbok ya ndak malu sama Jea? Untung anaknya Jea ada di ruangan khusus, kalau sudah ada disini, mungkin langsung nangis dengar perdebatan kekanakan kalian," tegur Nenek yang duduk dengan anggun di sofa panjang mewah dekat jendela.
Ibu geleng-geleng kepala, setengah berbisik ke arah Jea, "kamu lihat nenekmu itu Je, lagaknya udah kaya putri keraton. Bajunya aja dipake yang paling mewah."
Jea hanya menahan untuk tidak tersenyum. "Jea sebenarnya pengen tidur Bu, tapi ndak enak sama Nenek," balas Jea.
Keduanya kembali fokus ketika satu-persatu dari keluarga pamit pulang. Bukde Laksmi pamit pulang lebih dulu, sembari menatap sinis ke arah Ibu dan juga Jea.
Bahkan sebelum pulang Bukde sempat ngomong sesuatu yang bikin Jea istighfar, "hati-hati Je, biasanya orang kaya itu doyan selingkuh."
Ketika malam tiba dan suasana kamar VVIP sudah agak sepi. Caska yang kini menggendong putra kecilnya sambil menunggu Jea selesai menghabiskan makan malamnya, menoleh saat Jea mengatakan sesuatu yang membuat Caska langsung istighfar.
"Bi, katanya orang kaya itu suka selingkuh, kamu mau selingkuh juga?"
"Astaghfirullah, Bun. Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan," balas Caska yang sengaja memelankan suaranya.
"Nggak fitnah bi, cuma tanya," ucap Jea sewot.
Sebenarnya Jea overthinking juga, udah ngerasa kaya bumi sama langit sama Caska. Ketiban rejeki untung aja soalnya waktu itu Jea yang mungut Caska duluan.
Caska menghela nafas, dia ingat kata dokter kalau perasaan Ibu setelah melahirkan itu memang sensitif, apalagi kebanyakan ibu setelah melahirkan, orang-orang jarang memperhatikan kesehatan mental ibunya, dan fokus pada bayinya.
Caska mendekat untuk mengecup kening Jea, "Abi nggak bakal selingkuh, soalnya bagi waktu antara perusahaan sama keluarga aja Abi agak susah, jadi untuk apa Abi tambah masalah dengan selingkuh?"
Jea menyipit tajam, "jadi ada niat buat selingkuh?"
"Allahuakbar."
"Cium nih," ancam Caska.
Jea yang tadinya sewot langsung berubah salah tingkah sendiri. "Untung aja Abi udah inget semuanya," ucap Jea yang kini bersandar pada lengan Caska.
"Kalau nggak inget memangnya kenapa?"
"Sedih lah! Masa-masa pdkt kita itu perlu dikenang. Lucu tau Bi, dulu kamu random aja mau nikah sama Bunda," ungkap Jea.
"Sini Ethannya biar disusuin dulu," ucap Jea setelah memperhatikan putra kecilnya yang mulut kecilnya bergerak-gerak.
Caska perlahan membantu menjauhkan meja makan khusus pasien, kemudian memposisikan si kecil Ethan di tangan Jea.
"Nggak usah lihat-lihat dong bi," tukas Jea, sementara Caska hanya tersenyum simpul penuh makna.
"Terus gimana sama pelaku yang udah culik Abi. Kalau dipikir-pikir kejam juga mereka, udah siksa Abi, terus nyulik, untung Abi bisa kabur," tanya Jea.
Sebenarnya kemarin Jea mencuri dengar percakapan antara Mahen dan juga Caska. Namun dia menunggu momen yang pas untuk bertanya langsung pada Caska.
Caska terdiam sejenak dengan raut wajah serius, dia mengelus puncak kepala istrinya seolah-olah sedang memberikan penenang untuk Jea, "sedang diselidiki, Bunda jangan khawatir."
"Gimana nggak khawatir Bi, kalau dia berulah lagi terus nyelakain Abi gimana?" Ucapnya dengan nada khawatir.
"Pelakunya udah ketemu kok, cuma sekarang butuh nyari bukti yang kuat supaya bisa menjebloskan pelaku ke dalam penjara," balas Caska dengan jujur.
Dia tidak mau ada kesalahpahaman antara dia dan Jea di masa depan. Lagipula dia tidak suka berbohong, dan tidak ingin ada kebohongan di antara mereka.
Jea menghela nafas, "ya sudah kalau begitu."
Caska tersenyum, rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu melayang di perutnya. Hatinya menghangat, mengetahui bahwa keluarga kecilnya kini lengkap. Dia, Jea, dan juga Ethan, mungkin akan ada lagi di masa yang akan datang.
"Ngapain senyum-senyum sendiri bi, bayangin siapa kamu!" Omel Jea ketika melihat Caska yang tersenyum sambil memandang ke arah Jea.
"Bayangin keluarga kecil kita, dari dulu Abi selalu membayangkan hal seperti ini, meskipun pernah kepikiran ikut sama kemauannya Nenek," ucapnya yang membuat alis Jea mengerut penasaran.
"Kemauan Nenek apa?"
"Dijodohin."
Bibir Jea menekuk ke bawah dan langsung memandang putra kecilnya yang masih menyusu, Caska yang melihat perubahan raut wajah Jea, jadi panik sendiri.
"Tapi kan nggak jadi Bun, jadinya sama Bunda Jea tersayang," ucap Caska.
Ketika Jea mendongak, Caska mencuri satu kecupan dibibir Jea, dan kini membantu Jea untuk memindahkan si kecil Ethan yang sudah tidur, ke dalam box bayinya.
***
"Prita!"
"Apa lagi sih Bu?" Keluh Prita yang kini baru selesai masak setelah menidurkan anaknya di kamar.
Laksmi tampak kesal, "kamu harus tau, tadi pas Ibu jenguk si Jea, si Asih itu ngebandingin kamu sama Jea. Ibu malu tau prit, kenapa sih kamu sama bule itu cerai?" Omel Laksmi yang membuat Prita mengerutkan alisnya keheranan.
"Malu?"
Prita terkekeh, "padahal Ibu lho yang mulai duluan, siapa suruh suka banding-bandingin Prita sama Jea. Prita aja malu ketemu Jea gara-gara ibu," ungkap Prita dengan lugas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suprise! Marriage
ChickLitKeciduk berduaan di kosan sama pemuda yang bahkan tidak Jea kenal. Berakhir mereka berdua dinikahkan secara paksa akibat sanksi sosial di lingkungan kosannya. Warning! HANYA FIKSI SEMATA DON'T COPAS MY STORY Start : 7 Januari 2023 Finish : 12 Oktob...
