50. Ready For ... [END]

2K 111 13
                                        


"Lho suami kamu belum pulang dari penjara ya?"

Awalnya Jea memang syok berat, tapi setelah itu dia inget kalau Bukde Laksmi ini emang suka menyebar fitnah. Mikirnya Bukde Laksmi sengaja ngomong begitu seolah-olah lagi doain Jea yang nggak-nggak.

"Bukde! Astagfirullah, mulutnya itu ya dari dulu kayanya nggak pernah dipakai buat ngomongin yang baik-baik. Jangan sembarangan gitu, Caska nggak pulang-pulang karena memang kerja. Bukde tau sendiri kan Caska itu kerjanya apa?" Nada suara Jea jadi nggak sengaja meninggi.

Dia ngerasa kalau ini cuma fitnah, tapi kenapa kejam banget? Sementara Bukde Laksmi malah kelihatan tenang dan langsung ngambil remote televisi. Pas banget ada siaran berita tentang kasus penculikan dan penganiayaan oleh orang ternama.

Saat itu juga jantung Jea berdebar kencang tidak karuan. Bukde Laksmi malah menyindir Jea kembali dengan mengatakan, "Kamu suudzon terus sama Bukde makanya kualat. Suami kamu masuk penjara itu," ucapnya dengan tenang seolah-olah tidak masalah baginya untuk mengatakan hal buruk itu kepada Jea.

"Astaga, kalau begitu ayo ketika bergegas pulang Laksmi," ucap Nenek yang tampak panik. Dia mengira kalau Caska masuk penjara mungkin karena kasus penggelapan dana, korupsi 371triliun atau semacamnya. Takut kalau hal ini mungkin berimbas pada keluarga mereka.

"Ayo Bu, aku juga takut kalau misalnya Caska beneran di penjara, si Jea sama anaknya bakal di telantarin." Bukde Laksmi mencolek bahu Jea yang kini masih terdiam mencerna semua yang terjadi.

"Kualat kamu je sama Bukde, saran Bukde kamu minta cerai aja sama suamimu itu, biar keluargamu nggak ikut kena. Kalau mau kamu temenin terserah, tapi jangan colek-colek Bukde iya nggak aja kita nggak kenal."

Setelah mengatakan hal tersebut Bukde Laksmi sama Nenek langsung pergi dan ninggalin Jea yang masih terduduk lemas. Merin langsung membantu memapah Jea untuk duduk di sofa dan menjaga Ethan yang masih terlelap di box bayinya. Merin geleng-geleng kepala denger ucapan keluarganya Jea.

Oh ya Merin nggak diizinin sama Jea buat manggil dia nyonya atau apalah itu, soalnya waktu Jea kerja disini, Merin yang selalu menemaninya. Jadi Merin kalau manggil selalu pakai nama Jea langsung.

"Aku buatin teh anget ya Je, jangan didengerin ucapan Bukdemu itu. Cuma inget aja bagian pura-pura nggak kenalnya. Keluarga Wijaya itu keluarga besar nggak mungkin dia bisa tumbang gara-gara kasus kaya gini. Justru kan yang jadi korban itu Tuan Caska, Je. Jadi kamu tenang dulu ya." Merin berusaha menenangkan Jea.

Nyonya besar alias nenek belum pulang, lalu juga nggak ada keluarganya Jea yang bisa bantu nenangin. Sekarang Merin minta tolong sama rekannya yang lain buat bikinin Jea teh anget.

Belum juga teh anget nyampe, Jea tiba-tiba pingsan dan itu bikin Merin panik. Jea segera dibawa ke kamar, dan memanggil dokter spesialis yang melayani keluarga Wijaya untuk segera datang memeriksa kondisi Jea.

Merin nggak ketinggalan buat menghubungi nyonya besar kalau Jea pingsan. Sontak saat itu keadaan mansion sungguh benar-benar heboh. Sudah tuan mereka sedang dalam pemeriksaan pihak berwajib, sekarang nyonya mereka tidak sadarkan diri.

Tuan muda kecil mereka terbangun dan menangis terus-terusan seolah merasakan apa yang sedang terjadi. Merin membantu menenangkan dengan menggendongnya.

Hingga tidak lama setelah itu seseorang menepuknya dan berkata, "sini biar aku yang menggendongnya." Suara tuan Caska yang akhirnya kembali membuat Merin lega.

Sementara itu Caska yang dapat kabar kalau Jea pingsan, langsung pulang ke rumah, saat sidang masih setengah berlangsung. Caska meminta Rendra untuk menggantikannya sebentar. Dia Tau kabar Jea pingsan dari Jero, soalnya dokter yang ngurus keluarga Wijaya sekarang adalah Jero.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 12, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Suprise! MarriageCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang