Tandai typo💅
.
"WELCOME TO BACK, RAFA!"
Seruan para Mahasiswa mahasiswi terdengar nyaring saat Rafa memasuki kelas. Disana bahkan sudah ada Ivan, Vano dan Ara, padahal sedari tadi Rafa menelpon Vano namun tak di angkat, apa mereka yang menyiapkan ini semua?
Suasana kelas sudah di hiasi oleh pita-pita, pun papan tulis di tulis dengan huruf kapital 'welcome back, Rafael' dan seluruh anak-anak di dalam ruangan ini menatapnya dengan senyuman lebar.
"Hai, Raf. Welcome back, ya." Melan datang menghampiri Rafa, seperti biasa cewek cantik itu selalu berpenampilan sexy, dan dia tampak membawa sebuket bunga mawar, ia berikan pada Rafa.
"Gue udah dengar berita lo kecelakaan, and sorry gue gak bisa jengukin lo soalnya gue lagi di LA sama bokap —,""No problem, thank you, Lan." Dengan terpaksa Rafa menerima bunga pemberian Melan, membuat seisi kelas bersorak heboh. Sementara Ivan, Vano dan Ara hanya terkekeh kaku.
Kalau bukan memikirkan reputasi Melan sebagai kating dan cewek populer, Rafa tak sudi menerima bunga dari perempuan genit ini.
"Cie-ciee kapan jadian nya nih?!
"Kalian cocok banget tauuuk."
"Aaaa mereka comel banget gak sih, kak Melan dan Rafa itu paket komplit, sama-sama cantik dan ganteng, trus pinter lagi."
"Iya, lo bener. Kok gue gemes ya liat mereka berdua."
Begitulah kicauan para babi betina yang Rafa dengar, membuat cowok itu hanya menghela napas kasar. Sementara wajah Melan sudah memerah, cewek itu salting brutal, jangan lupa ingatkan dia agar mentraktir empat orang cewek yang berbicara barusan.
"Kalian apa-apaan sih, orang gue sama Rafa gak ada hubungan kok," ucap Melan malu sambil menyelipkan helaian rambut pirangnya di telinga, sambil menatap Rafa diam-diam. Cowok itu makin tampan, terutama kedua manik abu-abu cowok itu yang terlihat indah.
"Huu gak usah bohong! Keliatan banget dari muka lo kalo kalian ada something!" seru seorang cowok.
"Iya bener tuh!"
"PJ! PJ! PJ!
"PJ!"
"PJ!"
"PJ!"
Mendadak seluruh mahasiswa berteriak meminta pajak jadian pada Melan dan Rafa. Jangan di tanya bagaimana reaksi Rafa saat ini, wajahnya sudah mendatar, rasanya ingin sekali mengamuk dan berkata dia ini memiliki istri.
"Eh udah-udah, kalian gak usah berisik! Rafa pusing liat kalian teriak kayak monyet, udah ya sekarang waktunya bubar!" seru Ivan.
"Huuuuu."
Membuat seluruh isi kelas berseru kesal lalu membubarkan diri, sementara Rafa hanya bisa mendesah kasar kemudian melenggang pergi menuju kursinya sebelum tangannya di cekal oleh Melan.
Rafa menatap sentuhan Melan, membuat cewek itu tersenyum kaku dan melepaskan genggamannya.
"Maaf, nanti pulang kampus lo ada waktu gak? Gue mau ajak makan siang, gue pengen ngomong sesuatu sama lo, Raf," ucap Melan menatap Rafa penuh harap.
"Sorry, gue gak bisa. Gue ada janji." Rafa menolak dengan lembut.
"Kalo besok?"
"Besok gue harus bantu bokap gue di resto."
"Besoknya lagi bisa?"
"Gak, gak adawaktu. Tugas gue banyak."
Melan menghela napas, rasanya ingin menangis mendengar jawaban Rafa. Tidak ada satupun cowok yang menolaknya, bahkan ini baru pertama kali Melan mengajak seseorang, biasanya cowok yang mengajaknya lebih dulu.

KAMU SEDANG MEMBACA
RAFAEL
Romance"Enghh, Raf. Geli ih, udah gue mau ke kamar mandi." "Nanti aja, Al. Boleh gue masukin bentar gak?" Rafa meraih tangan istrinya membawa untuk segera menyentuh miliknya yang selalu tegang di pagi hari. "Dingin, cutie. Dia butuh kehangatan," "Tuh kan...