“Stop being abusive, Ger!”
“Dan lu juga stop buat ga gangguin anak baru masuk sekolah ini, Hera.”
Kedua netra itu saling berhadapan dan memancarkan auranya masing-masing. Gerald, dia anak basket yang selalu mencegah perbuatan buruk Hera bahkan Lady-RA setiap akan melakukan sesuatu maka disitu akan ada Gerald. Gerald tidak mau anak-anak sekolahnya itu takut oleh Lady-RA dan mereka meninggalkan sekolah itu.
Di sisi atau tempat lain tepatnya di perpustakaan, Lea tengah asyik membaca buku beberapa jam setelah ia terlibat keributan dengan Hera di kantin. Bagi Lea membaca buku adalah solusi atau obat penenang terbaik Dimana ia bisa mengeksplor isi buku dengan membayangkan visual yang ada di dalamnya.
“Eumm buku The Lady Roses mana ya"
Lea sibuk menggerutu mencari letak buku yang akan ia baca
BRAKKK
Tiba-tiba Lea tidak sengaja menjatuhkan beberapa buku, Lea kesal dengan memutar kedua bola matanya kemudian ia mulai menurunkan tubuhnya dan mengulurkan tangannya meraih buku-buku yang berjatuhan. Namun, tiba-tiba uluran tangan di sisi ujungnya mulai menyentuh buku juga. Uluran tangan itu seperti tangan cewe tapi ada uratnya dan kulitnya sangat putih bersih. Saat Lea menoleh kesamping ia mendapati seorang cowo berwajah baby face dan kulitnya putih tersenyum kepadanya. Ia adalah Nagi.
“Kamu gapapa?” tanya Nagi yang mencemaskan keadaan Lea
“Iya gue gapapa, makasih”
Lea pun pergi meninggalkan Nagi setelah merapikan buku-buku disana, ia pergi ke sudut pojok di bawah rindangnya pohon yang sejuk.
Lea mulai mengamati benda-benda di sekitarnya. Burung-burung berkicauan terbang kesana kemari berpasangan, angsa-angsa di danau juga berpasangan berdansa menari diatas air yang tenang, pohon-pohon juga tertiup hembusan angin dan turut mewarnai sore kala itu.
Dalam diamnya tiba-tiba air mata Lea menetes. Ia mengingat serpihan demi serpihan ingatannya tentang keluarganya saat ia kecil dulu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Flashback
5 Tahun yang lalu
“Selamat pagi bintangnya ibu, ayo bangun ini udah siang nanti telat berangkat ke sekolahnya”
“Iya pak sebentar lagi ya bu”
“Ibu tunggu di meja makan ya nak”
Lea mulai bangun dari hibernasinya dan mulai mengambil handuk lalu ia pun mandi.
Beberapa menit kemudian Lea sudah siap dengan seragam yang sudah rapi, ia pun turun menghampiri meja makan yang sudah siap dan terlihat bapak dan ibu yang sedaritadi menunggu Lea turun.
“Akhirnya bintang kecil ibu sudah siap juga”
“Hhehe iya buu Lea sudah mandi sudah rapi tinggal makan terus berangkat deh”
“Ayo buruan di makan biar ga keburu dingin”
bapak yang sudah lama menunggu pun mengajak keluarga kecilnya untuk makan.
Di tengah suasana makan itu tiba-tiba bapak nyeletuk kepada ibu
“Gara-gara berkas yang kamu bawain kemarin salah jadinya kita kehilangan tiga client sekaligus dalam waktu kurang dari satu menit”
Mendengar hal itu Ibu langsung menghentikan makannya
“Mas aku kan udah minta maaf semalem, kenapa malah dibawa ke meja makan lagi?”
“ASAL KAMU TAU MAAF AJA GA CUKUP BUAT BALIKIN CLIENT-CLIENT AKU, ANDRYNNA!”
tiba-tiba nada bicara bapak mulai tinggi dan membentak ibu.
“Ya terus sekarang aku harus apa, mas? nasi udah jadi bubur! Client diluar sana masih banyak mas, jangan gampang kesulut Cuma karena masalah sepele seperti ini.”
“MASALAH SEPELE KATAMU?”
“Udahhhhh!!! Bisa gasi kalau lagi makan kaya gini jangan ribut-ribut?”
Tiba-tiba Lea menggebrak meja dan memecah suasana panas itu lalu ia mendorong kursinya dan mententeng tas nya lalu pergi keluar kearah pintu.
“Lea.. Lea…”
Ibu pun beranjak dari mejanya dan mulai mengejar Lea
“Anak sama ibunya sama aja” Bapak pun hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah Lea dan ia pun menelepon seseorang
Ibu pun mengantar Lea, mereka berdua menuju sekolah dengan mengendarai mobil.
Di tengah perjalanan, Ibu mengajak ngobrol Lea tapi Lea selalu melihat kearah jendela dan mengindahkan perkataan ibunya
“Lea disitu dulu kita pas kamu kecil jajan dan main di pasar malam itu, kamu ingat ngga sayang?”
…….
Saat keduanya mulai diam-diaman, ibu melihat kearah spion dan sepertinya mobil mereka diikuti oleh mobil hitam.
“Lea, kalau ibu udah gaada nanti Lea harus kuat ya nak! Pokoknya nanti cucu ibu harus mirip sama Lea, ibu mau nyumbang nama aja deh. Hmm apa yaa… nanti ada nama Kejora nya gimana? Bagus kan?”
Saat itu juga Lea yang melamun langsung terpecah dan menoleh kearah ibunya
“Ngapain ibu ngomong kaya gitu? Nanti juga ibu bisa liat, bisa gendong cucu ibu”
Ibu hanya membalasnya dengan tersenyum kemudian mereka tiba di sekolah.
“Loh kok tiba-tiba hujan sayang, bentar ibu ambilin payung"
Ibu kemudian mengantar Lea sampai ke hall sekolah dan mereka bersalaman, Lea mencium tangan ibunya dan mulai berjalan masuk sekolah.
“Sekolahnya yang rajin ya bintangnya ibu!”
Ibu pun berjalan cepat menuju mobilnya yang di ujung jalan hingga saat ia berada di tengah jalan akan tiba di ujung tiba-tiba sebuah mobil hitam melesat sangat kencang, melihat itu ibu pun teriak sangat keras dan mobil itu menabrak ibu hingga ia terpental dan kepalanya terbentur batu.
Cairan merah pun mulai bercucuran membasahi baju ibu, mengalir bercampur curah hujan.
Ketika Lea sedang berjalan pelan-pelan untuk membuka pintu kelas tiba-tiba ia mendengar suara teriakan dan ia menoleh keluar sekolah, betapa terkejutnya dia melihat secara jelas dengan kedua netranya, ibunya tertabrak mobil dan terlempar.
Lea pun teriak sangat kencang “IBU!!!!” kemudian dia berlari menerobos hujan dan mengampiri ibunya yang sudah menyatu dengan cairan merah itu. Lea hanya bisa gemetaran seraya memangku ibunya.
Dia menyesali perbuatannya menghiraukan ibunya yang mengajaknya ngobrol di mobil.
Kini hanya tersisa penyesalan dan kenangan saja dalam benaknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lea tanpa ia sadari sudah banjir air mata. Ia mulai menyadarkan dirinya dan tak lagi mengingat masa lalu. Ia menoleh kesamping ternyata ia ditemani seseorang, orang itu duduk memegang pena dan mencoretkan lukisan indah diatas buku gambarnya. Ia tak lain adalah Nagi.
“Ngapain lu disini?”
“Gapapa, aku cuma gambar pemandangan yang sangat indah.”
“Pemandangan apaan? cuma burung, pohon, angsa doang”
“Bukan pemandangan ituu tauuu”
“Ya terus??”
Lea mengerutkan alisnya tanda penasaran
“Kamu..”
“Hah.. -aku?”
Lea mulai salting dan sedikit rasa ingin tau
“Iya kamu Lea kan?”
“Ooh hiya, gue Lea.. ohh iya gue mau liat dong Gambaran lu”
Mendengar hal itu Nagi langsung menyembunyikan bukunya kebelakang yang semakin menambah rasa penasaran Lea.
“Gamauuu, jangan Leaaa”
Lea yang sudah sangat penasaran pun merebut paksa buku itu dan ia sangat terkejut ketika melihat gambar yang melukiskan seorang gadis di pinggir danau menatapi sepasang angsa yang tak lain adalah dia.
Setelah melihat gambar itu keduanya sama-sama canggung
“Lu gambar gue?”
“A-… anu Lea, aku gambar bidadari yang turun di danau. Bidadari itu sangat cantik tapi sayangnya ia sedang merenung menangis, ia menangis karena tak bisa Kembali ke khayangan lagi.”
Tiba-tiba Nagi mengusap air mata Lea yang masih terlihat dengan sangat lembut, Nagi fokus mengusap air mata yang masih tersisa dan Lea hanya bisa terpaku. Ekspresi salting Lea sudah tak tertahan lagi pipinya merah merona sangat terpancar jelas dibalik kulitnya yang putih.
Lea pun langsung berlari meninggalkan Nagi dan masuk ke dalam asrama membawa buku gambaran Nagi dan hanya menyisakan pena nya yang masih tertinggal di tangan Nagi.
YOU ARE READING
MOONSTAYRE
Misterio / SuspensoSebuah insiden dialami oleh tiga siswi yang mendapat beasiswa pindah sekolah. Namun hal yang seharusnya mereka impikan tentang sekolah barunya itu tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Mereka menemukan aturan-aturan aneh yang tidak biasa diterapkan...
