Epilog

99 13 7
                                        

Satu tahun kemudian...

Diruangan terbuka yang dipenuhi nuansa serba putih, kursi berjajar rapih dan para tamu undangan bersiap menyambut kehadiran mempelai wanita yang menggenggam erat tangan ayah yang berada disampingnya. Suasana musim semi kali ini menghadirkan pemandangan indah sekaligus mengharukan bagi para tamu yang hadir. Keduanya mulai berjalan menuju altar dengan gaun putih menjuntai dan pria yang hampir meneteskan air mata yang tetap menuntunnya dengan perlahan.

Alunan musik yang indah mengiringi langkah keduanya menuju altar tempat dimana mempelai pria sudah berdiri lebih dulu. Semakin dekat dan intens, menandakan acara pernikahan dimulai.

Beberapa saat kemudian...

Setelah acara berlangsung dengan khidmat, para tamu undangan mulai berdatangan menghampiri pasangan pengantin yang tengah berbahagia dengan pernikahannya. Beragam kegiatan tersorot kamera mulai dari para tamu yang tengah menikmati jamuan makan siang, berswafoto dengan mempelai pengantin sampai para anak kecil yang tengah bermain riang setelah mengikuti acara pernikahan sebagai pengiring pengantin wanita. Terlihat jelas berbagai rona bahagia yang mereka pancarkan termasuk wanita berambut kecoklatan disudut taman yang tengah memperhatikan kedua puteri kembarnya dari kejauhan. Ya, Mirella turut hadir dalam pernikahan Ryan dan Jane. Keduanya memutuskan untuk menikah setelah berbagai pendekatan yang Jane lakukan dan pada akhirnya membuat Ryan luluh secara perlahan sehingga ia mulai memikirkan masa depannya setelah sekian lama terpuruk dalam kenangan bersama Rose, kekasihnya dimasalalu dan merupakan saudara dari Mirella. Masih dengan senyum tipisnya, Mirella enggan terlepas dari pandangannya kepada kedua anaknya sampai suara pria disampingnya membuat Mirella tersadar dan mengalihkan pandangan.

"Bukankah mereka terlihat sangat lucu dengan gaun putihnya?" Tanyanya diikuti anggukan pelan Mirella.

"Ya. mereka terlihat menggemaskan dan lucu." Jawab Mirella tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua puterinya yang tengah tertawa riang.

"Katanya semakin bertambah usia, kelucuan mereka akan semakin berkurang. Benarkah?" Tanyanya penasaran.

"Tergantung siapa yang mengatakannya." Balasnya menoleh sekilas kearah laki laki yang berada disampingnya.

"Maksudmu?"

"Jika yang mengatakannya orang lain sepertimu, mungkin saja benar. Tapi jika itu keluar dari mulut yang melihatnya sejak lahir didunia,aku rasa salah."

"Bagiku, mereka akan tetap terlihat seperti bayi kecilku yang menggemaskan meskipun mereka beranjak dewasa." Lanjutnya dengan senyum tipis dengan pandangan yang sama.

"Kau benar. Aku tidak sepaham itu tentang mereka. Maafkan aku meskipun waktu berlalu, aku masih saja tidak memahami banyak hal termasuk hal seperti ini."balasnya lagi menimpali.

"Alasanku tidak mau menemuimu meski kau berkunjung kerumahku untuk menemui Ally dan Brie adalah karena aku tidak bisa menahan diri untuk melontarkan kalimat yang tidak pantas kau dengar." Jelas Mirella dengan nada bersalah.

"Ya. Kau masih setia dengan nada bicaramu yang tidak bersahabat. Tapi aku tahu kau terlalu baik untukku yang sudah begitu jahat padamu. Dengan kau mengijinkan aku untuk menemui Ally dan Brie saja aku sudah merasa cukup senang dan lega. Terimakasih Mirella."

"Tidak perlu berterimakasih padaku karena menjadi ayah bukanlah suatu gelar yang aku tujukan padamu melainkan itu adalah bagian dari tanggung jawab yang harus kau bawa sampai seumur hidupmu." Jelas Mirella mengingatkan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 19 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Breakable HEAVEN (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang