S2.7

129 7 1
                                        

Malam Hari, Markas Haechan

Haechan duduk di depan meja kerjanya, menatap peta digital yang menampilkan lokasi pelelangan ilegal. Taeil duduk di seberangnya, tangan terlipat, memperhatikan dengan serius. Anton dan Sakuya berdiri di sisi ruangan, menunggu arahan.

"Kita tidak bisa langsung menerobos masuk," ujar Haechan akhirnya.

"Keamanan di sana lebih ketat dari yang kita duga. Mereka menggunakan sistem pengenalan wajah dan hanya mengizinkan peserta dengan undangan resmi."

Anton mengernyit. "Jadi, bagaimana kita bisa masuk?"

Taeil akhirnya angkat bicara. "Kita butuh seseorang di dalam. Seseorang yang bisa bergerak tanpa dicurigai."

Haechan melirik Anton dan Sakuya. "Kalian berdua yang paling cocok. Aku bisa mengatur agar kalian mendapatkan undangan sebagai pembeli potensial. Tapi kalian harus memainkan peran dengan sempurna."

Sakuya mengangguk"Kami bisa melakukannya. Tapi bagaimana jika keadaan menjadi buruk?"

"Kalian tidak akan sendirian,Aku akan ada di sekitar lokasi, mengawasi dari jauh. Begitu kita menemukan titik lemahnya, kita bergerak"sahut taeil

Haechan menambahkan, "Dan kita harus memastikan tidak ada yang tahu kalau kita ada di sana. Jika kelompok lain mengetahui penyusupan ini sebelum waktunya, mereka bisa menggagalkan misi kita atau, lebih buruk lagi, mengungkap tujuan kita."

Semua saling bertukar pandang, menyadari betapa berbahayanya rencana ini. Tapi mereka tahu, ini satu-satunya cara untuk membongkar jaringan pelelangan ilegal tanpa menarik perhatian yang tidak diinginkan.

____________
__________________

Satu hari setelah malam di bar…

Di sebuah apartemen kecil yang disewa sebagai markas sementara, Yuta duduk di depan meja, di sekelilingnya, Ten, Yangyang, dan Lucas memperhatikan informasi yang baru saja mereka dapatkan.

"Dari percakapanku dengan Woojin, ada banyak pendapat di kepolisian soal pembunuhan berantai ini," kata Yuta akhirnya.

"Tapi mereka terlalu sibuk menutupi masalah internal daripada benar-benar menyelidiki."

Lucas menyilangkan tangan. "Itu berarti, mereka tahu ada sesuatu yang salah, tapi memilih mengabaikannya?"

"Bisa jadi, Woojin menyebut ada 'tangan tak terlihat' yang mengendalikan arah penyelidikan. Semua bukti yang mengarah ke pelaku selalu menghilang sebelum sampai ke pihak berwenang."

Yangyang, yang sejak tadi sibuk membaca data di tablet, mengangguk pelan. "Aku juga menemukan sesuatu. Salah satu detektif yang dulu menangani kasus pertama tiba-tiba mengundurkan diri. Beberapa bulan setelah itu, dia meninggal dalam kecelakaan."

"Atau dibungkam," tambah Ten.

Suasana semakin tegang. Mereka tahu ini bukan kebetulan.

Lucas menarik napas panjang. "Jika kepolisian sudah dikendalikan, kita tidak bisa hanya mengandalkan penyamaran saja. Kita butuh lebih dari itu."

"Bagaimana kalau kita bagi tugas?" saran Ten. "Yuta tetap mendekati Woojin dan Minho untuk mencari tahu sejauh mana kepolisian terlibat. Yangyang, kau bisa terus mencari koneksi dengan Sanghoon dan dua kandidat lainnya. Aku akan mencoba melacak jejak uang, siapa yang membayar dan ke mana alirannya. Sementara itu…"

diklaim:agentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang