Lokasi Rahasia - Ruang Pertemuan Para Ketua
Sebuah unit apartemen mewah di pusat kota disulap menjadi ruang rapat tersembunyi. Tirai blackout tertutup rapat, lampu gantung redup menggantung tepat di atas meja bundar. Sebelas pria - para ketua tim dan Lucas selaku direktur - duduk melingkar. Tak seorang pun membawa pengawal; di ruangan ini, mereka bergerak sendiri sebagai "bayangan".
Taeil meletakkan sebuah drive hitam sebesar ibu jari di tengah meja.
"Data dari sistem pelelangan," ucapnya pelan. "Sudah kupindahkan ke Server Phantom milik Haechan sebelum listrik padam. Drive ini hanya salinan cadangan-tanpa kredensial, isinya tak berarti apa-apa."
Haechan membuka laptop ultra-tipisnya. Layar menyala-logo Shadow Protocol berkedip sebentar; hanya dia yang memiliki kunci akses penuh. Deretan file anonim muncul, berisi kode dan catatan transaksi gelap.
"Ini bukan cuma daftar pembeli," gumam Haechan seraya menelusuri paket data terenkripsi. "Ada jalur komunikasi internal, nomor rekening penampung, dan... sebagian file terkunci dua lapis. Butuh waktu untuk membuka sisanya."
Lucas menyilangkan tangan. "Berapa persen yang sudah terbaca?"
"Sekitar empat puluh. Dua hari paling cepat untuk dekode keseluruhan-tanpa membunyikan alarm di pihak mereka," jawab Haechan.
Taeyong mengetuk meja pelan. "Ada jejak ke kepolisian?"
Doyoung menyahut dingin, "Belum langsung. Tapi ada transaksi dari alamat IP gedung kementerian."
Yuta bersandar santai, kaki disilangkan. "Berarti orang dalam bukan cuma polisi; bisa jadi pejabat tinggi."
Johnny menimpali, suaranya tegas, "Semua simpul mengarah ke ONEER. Jangan pecah fokus terlalu cepat."
Kun menoleh pada Lucas. "Misi lain tetap jalan sesuai rencana?"
Lucas mengangguk sekali. "Tak ada perubahan. Setiap tim menyelesaikan bagiannya. Data ini baru diproses penuh setelah semua operasi lapangan bergerak."
Ten ikut bicara, mata tajam di balik kacamata tipis. "Kalau ONEER sadar server mereka dibobol?"
Jaehyun menjawab sebelum Lucas, "Mereka belum tahu seberapa dalam celah kita. Kuncinya: jangan bocorkan apa pun-bahkan ke anggota tim kalian."
Kesepakatan sunyi tercapai; masing-masing mengangguk. Tidak ada debat, hanya pemahaman bahwa perang mereka baru dimulai.
Taeil mengambil kembali drive cadangan, memasukkannya ke brankas portabel di sudut ruangan. Haechan memutus sambungan Shadow Protocol; layar laptop kembali gelap.
Lucas menatap sekeliling. "Baik. Tim 1 bergerak malam ini. Ten, siapkan pintu belakang ke jaringan kepolisian. Yuta, Yangyang, kalian tindaklanjuti di lapangan. Arahan lebih rinci kalian terima satu jam lagi."
Pertemuan berakhir tanpa upacara-hanya gesekan kursi, jejak langkah hening, dan pintu yang terkunci rapat kembali. Di luar, dunia belum tahu bahwa serpihan data di Server Phantom kini menahan napas menunggu terbuka... dan bahwa sebelas pria baru saja mengatur tahap berikutnya dari permainan bayangan.
_______________
_________________________
Malam beranjak larut. Di ruang kerja Ten yang dipenuhi monitor dan kabel berserakan, ia duduk membungkuk di depan layar utama, jemarinya mengetik cepat. Data dari pertemuan bar dan interaksi Yangyang dengan Sanghoon sudah diunggah ke dalam sistem Tennet Protokol, jaring pengintai miliknya yang beroperasi tanpa terdeteksi.
Pintu geser terbuka. Yuta masuk dengan jaket masih melekat di bahunya “Woojin bicara lebih banyak daripada yang kuharapkan,” katanya sambil meletakkan file di meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
diklaim:agent
Fiksi PenggemarMulai sekarang Lo harus mau jadi pacar gue-jeno GK mau-haechan Mau GK mau Lo harus mau-jaemin Kita aja gk kenal-renjun Gue jisung itu Jaemin dan itu Jeno sekarang udah kenalkan jadi kalian bertiga jadi pacar kita-jisung GK bisa gitu dong-chenle
