S2.5

94 9 0
                                        

Setelah rapat selesai, setiap ketua tim memutuskan untuk pulang dengan tugas masing-masing.

____________
____________________

Setelah makan malam, Haechan meminta anggotanya berkumpul diruang tengah bersama Jeno dan timnya, haechan menaruh tablet ke atas meja, menampilkan peta lokasi pelelangan. "Besok malam, kita punya misi," katanya tanpa basa-basi.

"Kita semua?"tanya jisung, haechan mengangguk

Jeno menyipitkan mata, mencoba memahami situasi. "Jadi kita akan menghentikan pelelangan ini?"

"Tentu saja," jawab haechan santai. "Tapi ini bukan sembarang pelelangan. Ini salah satu operasi terbesar yang pernah kita jalankan, jadi direktur meminta tim Moon untuk membantu"

Chenle mengangkat alis. "Kenapa terdengar seperti ada yang disembunyikan?"

Haechan tertawa kecil, mengalihkan perhatian. "Bukan begitu. Hanya saja, ini akan jadi sulit. Makanya, kita harus mempersiapkan diri."

Jaemin, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Baiklah, kalau begitu kita harus latihan malam ini juga. Tidak ada ruang untuk kesalahan."

Semua mengangguk setuju. Tanpa mereka sadari, di balik misi ini, ada rahasia yang hanya diketahui oleh para ketua tim.

Dan Jeno… masih belum tahu bahwa bahkan kekasihnya sendiri, Haechan, menyembunyikan sesuatu darinya.

Setelah tak ada lagi yang dibicarakan, Haechan masuk ke ruang kerjanya, berdiskusi dengan taeil melalui panggilan video

"Kita ikuti rencana Johnny, aku akan kesana terlebih dahulu dan tim ku akan dibimbing olehmu"

"Apa itu tak masalah, bagaimana jika mereka curiga? Atau haruskah kita meminta shotaro menyamar menjadi korban"

"Tidak bisa. Cepat atau lambat dia akan menyadari ada sesuatu yang kita sembunyikan, dan kita tidak bisa mengambil risiko itu. Kita tetap pada rencana"

"Baiklah, aku mengerti. Tapi soal tim, Hyung… lebih baik kalau Hyung sendiri yang memimpinnya. Aku tidak yakin bisa menangani mereka sendirian."

Taeil tersenyum tipis. "Kau bisa, Haechan. Lagipula, mereka tidak boleh tahu aku punya urusan lain di tempat itu."

Haechan menghela napas"Baiklah. Aku akan pastikan timmu tidak mencurigai apa pun."

Panggilan berakhir, haechan bersandar pada kursinya, menatap layar yang menampilkan peta lokasi pelelangan itu

Ini tak akan mudah

Haechan berdiri dan memutuskan untuk tidur dikamarnya

________________
________________________

Pagi itu, Shotaro, Haechan, Jeno, dan Taeil berkumpul bersama anggota mereka di ruangan Taeil. Mereka berdiri mengelilingi meja besar, memperhatikan peta hologram yang ditampilkan Haechan. Taeil memilih duduk di sudut ruangan, diam, hanya mengamati.

"Baiklah, Anton dan Sakuya, kali ini aku yang akan memimpin kalian. Kita akan bergerak nanti malam," kata Haechan lalu menggeser peta digitalnya.

Ia menunjuk titik merah yang berkedip di layar. "Tempat ini dulunya sebuah restoran, tapi sekarang digunakan sebagai tempat pelelangan ilegal. Target kita adalah menghentikan pelelangan sebelum transaksi selesai."

Anton menyipitkan mata, memperhatikan detail pada peta. "Bagaimana dengan keamanannya?"

"Cukup ketat," jawab Haechan

"Berdasarkan data yang dikumpulkan Sungchan, ada sekitar dua puluh penjaga bersenjata yang berpatroli. Kita harus bergerak cepat dan tidak membiarkan mereka mengirim sinyal peringatan."

Shotaro menatap Haechan dengan curiga. "Kita melakukan ini sendiri? Tanpa bantuan tim lain?"

Haechan tersenyum kecil, ekspresinya sulit ditebak. "Tentu saja tidak. Kita hanya perlu menangkap pelaku dan membiarkan kepolisian mengurus sisanya. Lagipula, aku sudah menyiapkan rencana cadangan."

Sakuya menghela napas. "Jadi, apa rencana kita?"

Haechan mematikan hologram dan menatap mereka satu per satu. "Kita akan masuk dari tiga titik berbeda. Aku akan memimpin tim utama untuk menyusup ke dalam. Taeil hyung akan tetap di luar, mengawasi dan memberi arahan. Begitu pelelangan dimulai, kita bergerak cepat untuk menangkap pelaku."

Chenle mengerutkan kening. "Taeil hyung tidak ikut masuk?"

Sesaat, Haechan terdiam sebelum akhirnya menjawab. "Taeil hyung akan mengawasi keadaan dari jauh. Dia bertanggung jawab untuk melumpuhkan para penjaga dari jarak jauh agar kita bisa masuk tanpa hambatan."

Semua saling bertukar pandang, merasakan ada sesuatu yang janggal. Namun, tak ada yang mengajukan pertanyaan lebih lanjut.

Taeil hanya tersenyum tipis dari sudut ruangan, tahu bahwa rencana sebenarnya jauh lebih dalam dari yang mereka bayangkan.

"Kalian ingin berangkat bersamaku atau jalan sendiri?" tanya Haechan, menatap timnya satu per satu.

"Aku ikut denganmu saja," jawab Shotaro tanpa ragu.

Taeil melirik Anton dan Sakuya sebelum berbicara. "Kalian berangkat bersama Haechan. Nanti aku akan mengirim alamat markasnya."

Anton dan Sakuya saling bertukar pandang sebelum mengangguk. "Baik, kami mengerti."

________________
_______________________

Ten, Yangyang dan yuta berkumpul di ruangan milik Ten, bersama direktur

Ten mengetuk cepat keyboardnya, matanya fokus pada serangkaian kode yang mengalir di layar.

"Kita punya tiga kemungkinan kandidat," katanya, mengubah layar utama menjadi tampilan data tiga petugas kepolisian dengan riwayat mencurigakan. "Mereka memiliki akses ke informasi sensitif dan sering berinteraksi dengan kasus yang berhubungan dengan ONEER."

Yuta bersandar di kursinya sambil menyilangkan tangan. "Siapa yang paling mencurigakan?"

Ten mengetuk salah satu foto. "Orang ini. Lee Sanghoon. Petugas bagian forensik. Dia selalu ada di lokasi kejadian sebelum bukti diserahkan, dan ada beberapa data yang tiba-tiba menghilang setelah dia menyentuhnya."

Yangyang mendekat, melihat lebih detail. "Kalau dia orangnya, kita perlu rencana. Aku bisa mendekatinya secara langsung. Aku cukup ahli dalam hal itu."

Yuta mengangguk. "Baik. Yangyang, kau dekati dia, cari tahu apakah dia benar-benar terlibat atau hanya kebetulan. Ten, tetap pantau pergerakannya. Aku akan mencari akses masuk ke dalam gedung tanpa menimbulkan kecurigaan."

Ten mengetik sesuatu, lalu tersenyum tipis. "Sudah kuatur. Aku bisa memberi kalian akses ke database kepolisian untuk sementara waktu, tapi jangan lama-lama. Kalau mereka sadar ada yang meretas, kita bisa kehilangan kesempatan."

Yangyang mengambil jaketnya dan tersenyum percaya diri. "Baiklah, saatnya beraksi."

diklaim:agentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang