S2.10

64 7 0
                                        

Gedung Kosong – Lokasi Taeil

Langkah kaki cepat terdengar dari koridor gelap. Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan Anton dan Sakuya berdiri di ambang pintu, napas mereka masih memburu setelah perjalanan tergesa.

Taeil menutup layar monitornya dalam satu gerakan cepat, lalu berdiri sambil menatap mereka tanpa banyak ekspresi.

"Sudah selesai?" tanyanya datar.

Anton mengangguk. “Sudah. Tidak ada yang mengikuti.”

"Tim Haechan sudah di safehouse dekat zona industri. Kita langsung ke sana." Taeil meraih jaketnya dan memasukkan sebuah drive kecil ke dalam saku dalam—tanpa ada yang menyadarinya.

Sakuya bertukar pandang singkat dengan Anton lalu berkata, “Ayo.”

Tanpa banyak bicara, ketiganya melangkah keluar dari gedung kosong yang hanya menyisakan suara mesin pendingin tua yang berdengung perlahan. Tak seorang pun menoleh ke belakang.

____

Di Dalam Mobil – Dalam Perjalanan ke Safehouse

Suasana di dalam mobil hening. Sakuya duduk di depan bersama Anton yang menyetir. Taeil duduk di kursi belakang, memeriksa perangkat komunikasinya, cahaya layar kecil menyinari wajahnya dalam gelap.

"Menurut hyung, tempat itu aman?" tanya Sakuya tiba-tiba, matanya menatap lurus ke jalan.

"Safehouse itu jarang digunakan. Lokasinya tersembunyi dan hanya dicatat di sistem internal tingkat ketua" jawab Taeil dengan nada datar.

"Aku harap para korban tidak terlalu trauma"gumam Sakuya.

Taeil tak menjawab. Pandangannya berpindah ke luar jendela, menembus kegelapan malam. Wajahnya tampak santai, tapi matanya tetap tajam—seperti sudah menghitung setiap langkah ke depan. Ia tahu, safehouse kali ini bukan sekadar tempat berlindung.

________

Safehouse – Zona Industri Lama

Di balik pagar besi berkarat dan deretan kontainer tua, sebuah bangunan beton dua lantai berdiri tanpa ciri mencolok. Cahaya redup dari lampu luar satu-satunya memberi cukup penerangan untuk melihat kendaraan yang baru saja berhenti di depan.

Taeil turun lebih dulu. Ia mengetuk pintu besi dua kali—lalu sekali lagi, pola pendek yang hanya dimengerti oleh tim mereka.

Pintu terbuka sedikit. Renjun mengintip, lalu langsung membuka penuh setelah mengenali sosok Taeil.

"Kalian cepat juga" gumamnya.

Taeil hanya menangguk dan melangkah masuk. Anton dan Sakuya menyusul di belakangnya. Bau besi tua dan antiseptik samar tercium di udara. Mereka melewati lorong sempit menuju ruangan tengah.

Di dalam, Haechan masih duduk di depan laptop kecilnya. Di sekelilingnya, Jeno, Chenle, Ji-Sung, dan Jaemin duduk dalam posisi siaga, beberapa korban duduk beristirahat di sofa atau lantai dengan selimut tipis.

Begitu Taeil masuk, Haechan menutup layar laptopnya.

"Kau terlambat" gumamnya tanpa menoleh.

"Aku tepat waktu"balas Taeil sambil duduk di salah satu kursi lipat, membuka botol air.

Anton mendekati Jeno. "Semua baik-baik saja di sini?"

Jeno menghela napas pelan.
"Begitulah… tapi tetap saja, semuanya butuh waktu" Ia menoleh ke arah para korban yang duduk diam dengan tatapan kosong.

Sakuya menatap Haechan, lalu bertanya pelan, "Apa sekarang kita baru boleh tahu... sebenarnya apa yang terjadi di pelelangan tadi?"

Haechan tidak langsung menjawab. Ia memandang seluruh ruangan, memperhatikan semua yang hadir.

"Yang penting sekarang" katanya akhirnya. "kita semua selamat. Sandera berhasil dikeluarkan. Pelelangan kacau total"

"Dan tentang alasan para gangster membidik para korban?" tanya Jaemin.

"Ada yang lebih dalam dari itu. Tapi bukan bagian kita untuk menyelidikinya" ucap Taeil tanpa nada. Kalimat itu cukup membuat semua diam.

Hening sejenak. Lalu Chenle bersuara, setengah bercanda, "Kau bicara seolah tahu segalanya, Taeil-hyung"

Taeil tidak menjawab, hanya menatapnya sebentar lalu berdiri.

"Aku butuh istirahat" katanya, lalu berjalan ke salah satu kamar.

Anton dan Sakuya saling pandang. Mereka tahu ada sesuatu yang tidak dikatakan… tapi bukan wewenang mereka untuk memaksanya keluar.

Di balik dinding safehouse itu, terlalu banyak rahasia bersilang. Dan malam ini, belum semuanya siap untuk terbuka.

___________

Pagi hari perlahan merayap masuk melalui jendela kecil safehouse. Matahari masih malu-malu menembus kabut tipis yang menggantung di sekitar zona industri.

Para korban sudah dibawa dengan ambulans yang datang tepat saat fajar. Tim medis dari pihak "penengah"—organisasi yang bekerja sama diam-diam dengan para ketua—menangani mereka secara diam-diam dan profesional, memastikan tidak ada satu pun jejak yang mengarah pada tim Haechan.

Di ruang tengah safehouse, suasana masih sunyi. Beberapa anggota duduk sambil menyesap kopi instan, sementara yang lain tertidur di sofa atau lantai beralas jaket. Tidak ada suara keras, hanya percakapan pendek dan sesekali desahan lelah.

Taeil berdiri di sudut ruangan, memandangi jendela yang berembun. Haechan duduk di samping Jeno yang tengah mengetik laporan singkat untuk markas, meskipun tak tahu apakah semuanya akan dicantumkan.

"Kurasa itu misi paling bersih kita," kata Shotaro pelan, duduk di lantai dengan punggung bersandar ke dinding.

"Bersih, tapi tetap saja menyisakan noda" sahut Renjun tanpa menoleh.

Chenle hanya mendengus pelan. "Hyung terlalu puitis pagi-pagi"

"Tapi bukankah ini menyenangkan"ujar shotaro

"Menyenangkan katamu?"tanya jaemin tak mengerti

Shotaro mengangguk"aku agen solo, aku terbiasa bergerak sendirian, melakukan misi bersama seperti ini ternyata menyenangkan juga"

"Terserah kau saja, aku tak mengerti jalan pikiran mu"sahut jisung

Anton muncul dari dapur kecil, menyerahkan air ke Sakuya. "Setelah ini kita balik?"

Haechan mengangguk. "Iya. Korban aman, pelelangan juga sudah kacau, jadi misi ini selesai"

Setelah dirasa semua sudah siap, mereka kembali ke markas dan rumah masing-masing. Mereka berpisah tanpa banyak kata—tak perlu. Misi selesai, tapi tidak benar-benar berakhir. Hanya menunggu babak berikutnya dimulai.

diklaim:agentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang