S2.9

60 8 0
                                        

Di gedung kosong yang menghadap bangunan pelelangan

Taeil berdiri di depan layar hologram portabel miliknya. Ia telah memasang perangkat penyadap arah gelombang sejak sehari sebelum acara dimulai. Tangannya cekatan, mata fokus.

"Aku masuk. Aku akan menyalin datanya sekarang"

"Baik. Aku sudah tanamkan kodenya—lihat folder tersembunyi di terminal kedua, bagian log sensor gerak. Namanya ‘ArtArchives03’. Di dalamnya ada kunci data pelelangan ilegal 5 tahun terakhir, termasuk transaksi chip yang dicari para ketua."

"Kamu yakin mereka tidak akan bisa jejak ini?"

"Data langsung dialihkan ke server phantom-ku. Lokasinya tidak bisa dilacak karena tidak terhubung ke jaringan mana pun, hanya bisa diakses via protokol milikku sendiri. Bahkan Direktur tidak punya akses."

"Sempurna. Mengalihkan sekarang."

Taeil menancapkan drive pengalihan sinyal ke alat utamanya, dan mulai menyalin semua data penting: transaksi ilegal, nama-nama klien tersembunyi, dan posisi chip target.

______

Sementara itu, asap mulai menyebar ke seluruh ruangan. Haechan mengaktifkan mode jamming untuk memblokir sinyal komunikasi dari dalam keluar, lalu menoleh ke Jeno dan Jaemin.

“Aku butuh kalian untuk jaga pintu belakang. Kalau ada yang kabur, arahkan ke lorong C. Ji-Sung, tetap pantau jalur darurat.”

Semua mengangguk. Tidak ada yang tahu persis apa yang Haechan lakukan, tapi jelas bahwa ia sedang menjalankan misi yang jauh lebih besar dari sekadar menghentikan pelelangan.

Di gedung kosong yang menghadap bangunan pelelangan

Bar loading mencapai 100%. Taeil mengaktifkan alat pembakar data digital, menghapus jejak bahwa file itu pernah ada. Komputer menjadi kosong seolah tidak pernah menyimpan apa pun.

"Transfer selesai. File sudah masuk ke server phantom."

"Terima kasih, hyung. Sekarang tinggal tunggu aku kacaukan acara ini lebih besar lagi."

Taeil tersenyum tipis. "Lakukan apa yang kamu bisa, jenius kecil."

Di dalam gedung

Asap putih yang tebal mulai memenuhi seluruh area. Lampu cadangan mulai menyala, tapi visibilitas masih nyaris nol. Suara langkah panik dan batuk-batuk menggema di lorong-lorong.

Renjun dan Chenle muncul dari ventilasi udara di sisi timur ruangan. Mereka langsung menonaktifkan dua penjaga terdekat secara senyap.

"Kanan bersih. Fokus ke jalur utama." Bisik renjun pada chenle

"Aku pegang alat pengacak. Tiga menit untuk blank-kan sistem pemindai retina."balas chenke

Sementara itu, dari saluran bawah, Shotaro masuk lewat ruang teknisi. Ia memasang alat peledak mini pada sistem backup keamanan.

"Detonator pasif siap. Siap aktif dalam 5 menit. Kita cuma punya satu jalan keluar."ucap shotaro pada alat komunikasi ditelinga nya

________

Haechan, mengenakan kacamata gelap dan masker penyaring, bergerak cepat di tengah asap. Ia menekan tombol di gelangnya. Panel kecil terbuka dari dinding — tempat sandera disekap.

"Aku polisi. Kami datang untuk menyelamatkan kalian. Ikuti arahanku.”

Ia menyerahkan masker kecil kepada para sandera. Di saat yang sama, ia memasang alat pemutus sinyal pelacak ke pergelangan mereka.

______

Di luar gedung, tim Jeno—Jaemin dan Ji-sung—sudah siaga.

"Jalur 05-B dipastikan bersih. Siap menyambut mereka."ucap jeno

"Penjaga di sisi barat mulai bergerak ke arah utara. Satu-satunya jalan aman hanya dalam dua menit ke depan."balas Ji-Sung sembari memperhatikan drone pengintai khusus

"Granat asap cadangan juga sudah siap. Kalau mereka gagal, kita masuk paksa."sahut jaemin

______

Sandera dipandu oleh Shotaro dan Chenle ke pintu servis belakang. Haechan tetap di belakang, memastikan tidak ada penjaga yang mengikuti. Saat satu penjaga muncul dari asap, Renjun langsung menonaktifkannya tanpa suara.

Tepat ketika mereka mencapai pintu keluar—

"Aktifkan granat terakhir."ucap chenle

BOOM—peledak asap tambahan menutupi jejak mereka. Jeno, Jaemin, dan Ji-sung menyambut mereka di kendaraan tempur ringan.

Semua masuk. Mobil melaju cepat menjauh.

"Taeil hyung, status?"

"Data sudah aman di server cadangan. Aku tutup semua jejak digital. Sistem mereka nggak bakal sadar sampai semuanya terlambat."

"Bagus. Kita selesai di sini."

_______

Di dalam mobil hitam yang melaju cepat di bawah langit malam

Semua diam.

Jeno sibuk memeriksa kondisi para korban. Chenle dan Ji-Sung saling bertukar pandang, berusaha menebak apa yang sebenarnya terjadi di pelelangan barusan. Jaemin menatap keluar jendela, waspada terhadap kemungkinan penguntit. Sementara itu, Haechan tetap fokus pada laptop kecil yang tertempel di dashboard. Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard mini, sesekali mengetikkan perintah tanpa menjelaskan apa pun.

"Ke mana kita sekarang?" tanya Jaemin pelan.

"Safehouse. Aman. Di dekat zona industri lama," jawab Haechan singkat.

Renjun menyandarkan punggung ke kursi. “Aku masih merasa aneh… terlalu banyak hal terjadi sekaligus. Asap, listrik padam, lalu kita menyerbu masuk. Terlalu rapi untuk sekadar misi pengacauan.”

Haechan hanya mengangguk pelan. Tak membenarkan, tapi juga tak menyangkal. Diamnya cukup untuk membuat yang lain berhenti bertanya.

Chenle menatap Haechan, nada suaranya penuh selidik. “Apa benar ini hanya soal menyelamatkan sandera?”

"Tentu saja," jawab Haechan, suaranya tenang. "Para korban bekerja di bagian arsip negara. Mereka menyimpan banyak data rahasia. Dengan status seperti itu, mereka jadi sasaran empuk bagi kelompok seperti ONEER."

"Jadi… kita akan berurusan lagi dengan mereka nanti?" tanya Jaemin.

"Bukan kita," balas Haechan cepat. "Tim lain yang akan melanjutkan. Tugas kita selesai sampai di sini."

"Kenapa?" tanya Ji-Sung heran.

"Untuk bisa masuk ke pelelangan itu, dibutuhkan pemindaian retina. Setelah lolos, baru undangan dikirimkan. Kalau setiap kali kita muncul selalu terjadi kekacauan, mereka akan curiga. Kita akan jadi target utama."

Mereka semua terdiam, paham bahwa misi ini bukan hanya soal keberanian—tapi strategi, permainan jangka panjang, dan pengendalian emosi.

______

Di tempat lain

Taeil duduk sendirian di ruang gelap. Di depannya, layar lebar menyala terang. Tidak ada sinyal luar. Tidak ada akses internet. Bahkan listriknya bersumber dari generator pribadi.

File-file tanpa nama muncul satu per satu. Tidak ada label. Tidak ada metadata. Hanya kode internal yang bisa dikenali oleh satu sistem rahasia: Shadow Protocol.

Tak ada kata. Tak ada suara.

Sampai akhirnya—ikon kecil berkedip di sudut layar. Sekali. Singkat. Tapi cukup.

Taeil menekan satu tombol.

Semua data langsung terkunci. Sistem mengenalinya sebagai protokol finalisasi. Setelah itu, file tak bisa diakses ulang, kecuali oleh satu unit server terisolasi—yang hanya diketahui oleh para ketua tim dan direktur.

diklaim:agentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang