04 (new)

261 36 11
                                        

saat ini Nnael berada di kamarnya. dia hanya menonton tv dan di temanin oleh beberapa camilan ringan yang di belikan oleh Moreno saat mengantarkan Nnael pulang.ya,

"tugas nya di kumpulin besok hari lagi. duhh.. ini aku ga bisa ngerjain sama Gugun atau Aboy aja gitu? kenapa harus sama si Aeron Aeron itu sih" keluh Nnael dengan melemparkan kulit kacang yang ia genggam ke layar tv.

lama lama Nnael merasa bosan dengan acara tv yang begitu begitu saja.

"ini ga ada acara tv yang bagus apa? ngebosenin banget" ujar nya sembari menekan' remot.

karna kekesalan nya itu bertambah , dia pun memilih untuk mematikan tv. dia mengambil ponsel lalu membuka aplikasi chatting. baru saja membuka nya suara notifikasi dari grub kelas itu tak berhenti', bukannya Nnael tertarik oleh grub itu, dia malah tertarik dengan kontak yang dia sematkan.

(kira kira kontak siapa ya?)

"biasanya dia chat jam segini" monolognya.

tak mau berkecamuk dengan pikiran nya. Nnael memilih keluar dari kamarnya , tapi sebelum itu dia membersihkan kulit kacang yang berceceran di lantai karna ulahnya. jika tidak dia bakal di marahin oleh yang paling berkuasa di rumah ini.

Nnael mulai menuruni anak tangga, belum ada satu langkah dia udah mendegar suara teriakan dari si penguasa rumah ini.

"NNAEL cepet turun-" suara teriakan itu merendah saat melihat Nnael.

Nnael mulai menatap malas kakak perempuan.

"apa? natap nya gitu amat" ujar kakak perempuan Nnael yang bernama Gebian atau biasa di panggil Gebi.

"suka suka aku" cibir Nnael.

Gebi yang menata makanan di atas meja itu pun menghela nafas. ia memilih diam untuk mengalah karna jika teruskan pasti mereka akan bertengkar.

setelah mengambil gelas dan piring yang berisi makanan Gebi langsung pergi meninggalkan Nnael yang menatap nya binggung.

"lah?? kak mau kemana?" tanya Nnael dengan tatapan heran.

"aku sambil ngerjain tugas, udah mepet banget ini deadline nya" ujar Gebi dengan terburu buru menaiki tangga.

"ohh, begitu" gumam Nnael.

ia mulai memakan nasi goreng yang masih hangat itu, satu suapan masih biasa saja, dua suapan dan tiga—

"ga enak banget makan sendirian" -Nnael.

Nnael beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah ruang tamu.

"ke rumah Favian aja deh" -Nnael.

karna rumah mereka berhadapan jadi kan sat set—
sampai lah Nnael di depan rumah Favian. saat dia sudah memegang knop pintu dan ingin membuka nya, tiba tiba saja pintu itu terbuka dari dalam dengan kecang.

Nnael yang kehilangan keseimbangan hampir saja tersungkur kedepan jika saja tidak ada yang menahan dirinya.

"astaga—" -Nnael.

mereka berdua terdiam sejenak, memandangi satu sama lain karna masih kaget dengan kejadian barusan. setelah beberapa detik kemudian, Nnael yang sudah sadar dengan keadaannya dia pun segera melepaskan pelukan itu.

"k-kenapa harus kamu sih" ucap nya dengan gelagapan.

"kenapa emang? bukannya, bilang makasih udah ditolongin" katanya.

setelah itu dia pun pergi meninggalkan halaman rumah Favian.

"dihh, sok keren" Nnael menutup kembali pintu dan berjalan masuk ke dalam.

Sticky NoteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang