10

331 20 2
                                        

---

Dua jam berlalu.

"Yo... gue lama ya?" ujar Vano sambil menghampiri mereka yang sedang asyik menonton.

"Abanggg!" seru Vani, berlari kecil ke arah Vano sambil merentangkan kedua tangannya, minta digendong.

Sementara itu, Wiliam dan teman-temannya bahkan tidak sadar kalau Vano sudah datang—mereka terlalu fokus menonton film.

Hap!
Vano langsung mengangkat Vani ke pelukannya.

"Gimana, bosen nunggu abang tadi?" tanya Vano mengusap kepala Vani sambil tersenyum.

"Enggak kok, kakak-kakak ganteng itu nemenin Vani nonton sama main, jadi nggak bosen," jawab Vani ceria.

"Wah, seru banget ya," ucap Vano sambil tersenyum senang melihat adiknya gembira.
"Ayo, kita pamitan dulu ke sana. Abang udah selesai tesnya," lanjutnya.

Vano dan Vani berjalan menghampiri Wiliam dan teman-temannya yang masih asyik menonton Frozen.

"Cieee... kalian kayaknya serius banget nontonnya," goda Vano tiba-tiba.

"Eh, e-eh... enggak kok. Ya, filmnya emang seru sih," jawab Zidan gugup, mencoba mengelak.

Sementara yang lain hanya memalingkan wajah mereka, enggan menjawab.
'Aduh, malu banget gue,' batin Marvin sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

"Eh, lo udah selesai tesnya? Dapet kelas apa?" tanya Dika cepat-cepat, mengalihkan topik.

"Gue dapet kelas 10 IPA 2," jawab Vano, tertawa kecil.

"By the way, gue sama Vani pamit dulu ya. Besok gue udah mulai sekolah," ucap Vano sambil mulai merapikan barang-barang Vani, termasuk tablet yang masih memutar film Frozen.

'Yah, gue belum selesai nonton,' batin Dika  saat melihat tablet Vani dimasukkan ke dalam tas.

"Makasih udah jagain Vani tadi. See you tomorrow, bro," ucap Vano sambil melambaikan tangan.

"Dadah, kakak-kakak ganteng! Hihihi!" pamit Vani sambil melambaikan tangan kecilnya.

"See you!" balas mereka serempak sambil melambaikan tangan .

'Film Frozen seru ternyata ' batin Wiliam

___________

Flashback – Saat Vano Menjalani Tes

“Astaga... ini soal apaan? Mentang-mentang sekolah elit, otak gue diperas,” batin Vano menjerit dalam hati saat melihat 100 soal di hadapannya.

Di ruang itu, ia diawasi oleh dua guru—guru Matematika dan guru Bahasa Inggris—juga kepala sekolah. Suasananya tegang.

“Oke, Vano... tenang. Lo pasti bisa,” ia mencoba menyemangati diri sendiri.

---

Soal 1 – Problem Solving OSIS

Situasi:
Sebagai ketua OSIS, kamu bertanggung jawab atas persiapan acara Pentas Seni tahunan. Acara ini penting karena melibatkan banyak siswa dan akan ditonton oleh guru, orang tua, dan alumni.

Seminggu sebelum acara, kamu mendapat kabar bahwa salah satu kelompok penampil belum latihan sama sekali. Mereka beralasan sibuk dengan tugas sekolah dan kegiatan lain. Jika mereka gagal tampil, jadwal bisa berantakan.

Pertanyaan:

1. Apa yang akan kamu lakukan pertama kali setelah mendapat kabar ini?

2. Bagaimana cara kamu mengajak kelompok itu tetap tampil tanpa memaksa mereka?

3. Jika mereka tetap tidak bisa tampil, apa langkahmu agar acara tetap berjalan lancar?

4. Apa yang bisa kamu pelajari dari kejadian ini?

“Yang mau jadi ketua OSIS siapa coba? Gue mah ogah,” batin Vano sambil menulis jawaban.

---

Soal 2
Siapakah yang menciptakan tren Velocity?

Soal 3
Sebutkan minimal 3 kata yang sering bikin pembaca Wattpad muak selain kata “mine”!

“Hah?! Ini seriusan gue diginiin?” batin Vano mulai kesal.
Ingin rasanya dia menulis:

> “Pertanyaannya: jenis narkoba apa yang dikonsumsi pembuat soal ini?”

tapi mana berani dia ,yang ada nanti nilainya ambyar ,jadi mending cari aman saja

---

Soal 4 – Matematika

Sebuah toko menjual 3 jenis paket hadiah:

Paket A seharga Rp20.000

Paket B seharga Rp35.000

Paket C seharga Rp50.000

Seorang pelanggan membeli total 10 paket dengan total Rp350.000. Ia membeli setidaknya satu dari setiap jenis paket.

Pertanyaan:
Berapakah jumlah masing-masing paket yang dibeli?

---

Waktu berlalu...
Akhirnya Vano selesai menjawab semua soal yang menurutnya benar-benar “diluar nalar.”

Sekitar 30 menit kemudian, hasilnya keluar.

"Selamat, Vano Dirgantara W. Kamu mendapatkan kelas 10 IPA 2," ucap Bu Lexa, guru Bahasa Inggris.

Wajah Vano langsung berseri. Ia menunduk hormat.
"Terima kasih, Bu."

Pak Kenan, guru Matematika, lalu bertanya,
"Dan untuk satu permintaanmu... silakan. Apa yang ingin kamu minta sebagai pertimbangan kami?"

"Saya ingin berjualan di sekolah ini, boleh, Bu?" tanya Vano.

"Berjualan? Kami memang punya kantin, tapi tempatnya sudah penuh," jawab Bu Lexa.

"Maksud saya bukan jualan makanan, Bu. Saya ingin menaruh mesin capit. Tapi setiap main, pasti dapat hadiah. Tidak ada yang zonk."

"Hm, saya tidak keberatan," jawab Bu Lexa sambil melirik ke arah Pak Kenan dan Pak Alex.

"Diizinkan, tapi kamu akan tetap dalam pengawasan sekolah," kata Pak Alex, kepala sekolah.

"Ide usaha yang bagus," komentar Pak Kenan. "Ini bisa jadi hiburan buat murid-murid juga."

"Tapi... tolong rahasiakan kalau saya pemilik mesin capit itu, ya." ucap Vano

"Baik. Permintaan diterima. Kamu bisa mulai sekolah besok. Ini surat izinnya," ujar Pak Alex sambil menyerahkan surat.
"Kamu bisa minta seragam, buku, dan ID siswa di koperasi."

"Terima kasih, Pak, Bu. Saya izin pamit."

"Sampai bertemu besok," sahut Bu Lexa dengan senyum hangat.

Pak Alex dan Pak Kenan hanya tersenyum dan melambaikan tangan.

---

haiii gessss
para pembaca yang baik nan budiman
akhirnya aku update,siapa yang udah nungguin nih ?

gimana chapter kali ini ?

ada saran dan kritik?
siap ditampung

jangan lupa bintang 🌟

see you

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 12, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Transmigrasi VanoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang