Malam belum terlalu larut ketika Edgar pulang, hati di penuhi bahagia karena rasa tak sabar ingin segera bertemu Agatha, hanya dengan membayangkan senyum wanita itu segala rasa lelahnya menguap begitu saja.
Edgar yang sudah berdiri di depan pintu mengurungkan niatnya yang hendak memutar gagang pintu begitu mendengar suara tawa lepas dari ruang tamu, dia mengernyit menyadari suara itu berasal dari dua orang yang berbeda.
“Nona Agatha sedang kedatangan tamu.” ujar seorang penjaga yang berdiri di belakang Edgar.
Edgar sedikit menelengkan kepala tanda bertanya, namun sang penjaga tidak menjawab apapun selain menunduk takut. Sedangkan Edgar semakin menajamkan pendengarannya, dua orang wanita terdengar bercerita sambil tertawa kecil.
Pria itu menjadi penasaran hingga tak sabar memutar gagang pintu, dan …
Edgar terpaku di tempatnya berdiri dengan nafas tercekat, kedua wanita itu sontak berdiri menyambut Edgar dengan senyum penuh binar. Hanya butuh waktu beberapa detik bagi Edgar untuk mengenali kembali wajah itu, meski sedikit lebih banyak perubahan dan sudah bertahun-tahun berlalu namun Edgar tidak bisa melupakan senyum itu—senyum yang pernah ia rindukan hingga lambat laun menjadi rasa sakit yang luar biasa bagi Edgar.
Wajah Edgar tampak mengetat dengan rahang yang terlihat berkedut menahan marah.
“Ed …” panggil Agatha mencoba mengalihkan tatapan Edgar yang dingin menusuk kepada sosok yang berdiri di sebelahnya.
Masih dengan tatapan yang dingin Edgar mengalihkan pandangannya kepada Agatha.
“aku tidak tahu kau sedang kedatangan tamu, sayang.” ujarnya rendah, sementara Agatha yang seakan mengerti arti dari tatapan itu terlihat mengernyit bingung. Agatha dengan langkah kecil menghampiri Edgar,
“Ed …”
“aku akan naik, silakan lanjutkan obrolannya.” sahut Edgar sebelum Agatha menyelesaikan ucapannya.
Dengan cepat Agatha mencegat lengan pria itu sambil berbisik, “ingat pembicaraan kita beberapa waktu lalu?”
“ … dia orangnya, cobalah berbicara dengannya.” Agatha memberi lirikan ke arah wanita yang di maksud.
“aku berubah pikiran, jika tidak ada hal lain silakan usir dia dari sini.” ujarnya kasar dan terdengar menyakitkan.
Kerutan di kening Agatha semakin dalam, kini jelas baginya jika Edgar bukan tidak mengenal sosok lain yang berdiri di sana tapi pria itu memang tidak menginginkan kehadirannya.
Semua terbungkam, Agatha masih mencerna ucapan Edgar sementara seorang wanita lain yang berdiri di ruangan itu berusaha untuk menahan desakan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya, tentu dia mendengar semua pembicaraan suami istri tersebut.
Begitu tersadar dari lamunan Agatha tidak lagi menemukan Edgar di sana, pria itu sudah menghilang menuju lantai dua. Dengan sedikit rasa panik di sertai rasa bersalah Agatha menghampiri wanita itu.
“San, Edgar sepertinya perlu waktu …” Agatha tidak mampu melanjutkan kalimatnya karena dia sendiri tidak pernah menduga jika hal seperti ini akan terjadi.
Ya, sosok yang berada di ruangan itu tak lain Fransisca Alexandra—adik perempuan Edgar yang seumuran dengan Agatha. Sandra menggeleng dengan senyum muram, dia tidak bisa menyalahkan Agatha maupun Edgar karena memang tidak semestinya dia muncul di hadapan Edgar tanpa rasa bersalah.
Agatha dengan lembut mengelus lengan Sandra sambil mengajaknya kembali duduk di sofa,
“dia tidak sekejam itu, aku pikir Edgar hanya perlu waktu untuk berpikir …” Agatha menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya, “sudah berpuluh tahun terpisah tentu Edgar sedikit kaget atas kehadiranmu, ini salahku yang bermaksud ingin memberinya kejutan.” Agatha dengan jelas menunjukkan rasa bersalahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Bastard's Secret (TAMAT)
Romance21++ ***Cerita ini mengandung unsur dewasa*** Kematian Ludovic cukup mengagetkan orang-orang sekitarnya. Seorang pengusaha kaya yang di kenal tegas dan berwibawa. Penyebab kematiannya masih menjadi misteri. Pria yang sudah berumur setengah abad itu...
