Agatha yang sudah berusaha untuk tidur terpaksa kembali bangun setelah mendengar suara-suara dari lantai dasar. Dia mengernyit menuruni anak tangga, tapi kemudian di pertengahan anak tangga Agatha berhenti sambil membungkan mulutnya dengan tangan, sekujur tubuhnya lemas melihat Dores tengah memapah Edgar yang berlumur darah naik ke lantai dua. Agatha segera berlari dan ikut membantu Dores membawa Edgar masuk ke dalam kamar, lalu di susul dengan dokter pribadi Edgar yang ikut masuk ke dalam kamar.
Sementara dokter sibuk mengeluarkan benda mematikan itu dari tubuh Edgar, masih di ruangan yang sama Agatha menghampiri Dores.
“apa yang terjadi?” bisiknya dengan tatapan khawatir.
“nona sebaiknya anda mendengar langsung dari tuan Edgar kronologi kejadiannya,” Dores tak bisa memberi tahu Agatha sekecil apapun yang terjadi jika tanpa izin dari Edgar.
“astaga, apa kalian akan terus membuatku merasa ketakutan?” Agatha mulai merasa kesal dengan sikap Dores.
“maaf nona.” ujar Dores dan Agatha tahu dia tidak akan mendapat penjelasan apapun dari pria itu.
Dokter berhasil mengeluarkan benda itu dan juga melakukan penanganan terbaik kepada Edgar, dia memberikan resep obat kepada Agatha sebelum pamit undur diri. Begitu juga Dores yang kembali masuk untuk melihat kondisi tuannya, di mana Edgar kini sudah tertidur karena efek obat.
“nona, saya ada di lantai dasar jika membutuhkan sesuatu.” ucap Dores sebelum turun.
Kini tinggal Agatha dan Edgar yang sudah tidur di dalam kamar, dia mengamati wajah Edgar yang tertidur seperti anak kecil. Perlahan tangan Agatha bergerak membelai wajah Edgar yang damai, mungkin benar dia begitu marah pada pria itu namun setiap kali melihat Edgar dalam bahaya ada perasaan sakit di hatinya yang tidak di mengerti oleh Agatha, mungkin juga benar pria itu berulang kali membuatnya menangis namun terlepas dari itu Edgar selalu menyelamatkan nyawanya, pria itu selalu bersikap manis jika Agatha tidak berusaha memberontak.
“Sekejam apa dirimu, seberapa berbahaya jalan hidup yang harus ku lalui bersamamu?” bisik Agatha dengan senyum ketir. Hingga detik ini dia tidak mengerti akan perasaannya kepada Edgar, dia juga tidak takut kepada pria itu hanya saja Agatha tidak tahu seberapa lama dia akan bertahan menjadi istri Edgar dengan lumuran darah dan nyawa orang lain yang selalu menjadi saasaran pria itu.
Jujur saja Agatha sulit menerima kenyataan bahwa Edgar begitu mudah mengambil nyawa orang lain, dia membenci darah yang selalu melekat pada pria itu. Lelah dengan pikirannya Agatha kemudian jatuh tertidur di samping Edgar.
…
Hanya selang beberapa jam matahari pagi sudah muncul kembali, Edgar sudah terbangung dari dua puluh menit yang lalu dan selama itu tidak ada yang ia lakukan selain menatap wajah Agatha yang tertidur di sisinya dengan wajah damai. Agatha pasti sangat lelah terlebih karena wanita itu baru saja tidur beberapa jam yang lalu.
Seluruh rasa sakit di tubuh Edgar seakan tidak berarti apapun selama ia bisa terus menatap malaikat tak bersayap yang kini ada di sisinya.
“andai kau tahu betapa beruntungnya aku memilikimu,” bisik Edgar dengan senyum yang tidak pernah di berikan kepada orang lain selain Agatha, bukti bahwa Agatha adalah kebahagiaannya.
Edgar menghentikan elusan tangannya di pipi Agatha ketika wanita itu menggeliat sebelum akhirnya kedua pelupuk matanya terbuka dengan sempurna.
“selamat pagi,” ucap Edgar dengan nada rendah.
“selamat pagi.” balas Agatha dengan suara serak khas bangun tidur, dia sedikit menjauh sambil menelisik kondisi tubuh Edgar.
“kau baik-baik saja?” tanya Agatha terdengar khawatir.
“aku baik-baik saja.” balas Edgar sambil mengelus lembut telapak tangan Agatha … “kau mengkhawatirkanku, hm?” goda Edgar sambil memicingkan mata.
“jangan terlalu percaya diri,” ujar Agatha membuang muka, dia malu karena Edgar selalu berhasil menebak isi kepalanya.
“apa kau tidak khawatir? kau sungguh istri yang kejam.” sambil menyipitkan mata Edgar juga memasang wajah seakan-akan ia terluka dengan sikap Agatha.
“maksud—sebenarnya apa yang terjadi, mengapa kau tidak bisa menjaga dirimu, kekacauan apa lagi yang kau lakukan sampai bisa seperti ini?” tiba-tiba rentetan pertanyaan keluar dari mulut Agatha dengan tatapan galak.
Edgar mengernyit lalu kembali mengerjap, tangannya menahan bekas jahitan di bagian perutnya dan berusaha untuk duduk. Sontak saja Agatha mendekat untuk membantu,
“kau cerewet sekali.” gerutu Edgar dengan nada kecil namun masih terdengar oleh Agatha.
“kau—” sebelum Agatha kembali bersuara Edgar sudah mengecup bibirnya.
“tidak bisakah kau menyimpan marahmu hingga aku pulih?” tanya Edgar yang memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di kepala tempat tidur.
“kali ini nyawa siapa lagi yang menjadi korban?” tanya Agatha dengan nada lelah, tatapannya yang penuh kekecewaan membuat Edgar bungkam, seperti yang sudah ia bayangkan Agatha tidak akan pernah bisa menerimanya dengan segala hal keji yang pernah ia lakukan, wanita itu akan jijik jika mengetahui betapa kotornya tangan Edgar.
“bisakah kau minta Dores untuk membuatkan sesuatu yang bisa di makan?” ujar Edgar tanpa menatap wajah Agatha, wanita itu mengernyit menyadari perubahan sikap Edgar. Mungkinkah kata-katanya sudah keterlaluan.
“biar aku yang melakukannya, istirahat dan jangan banyak bergerak.” kali ini nada suara Agatha terdengar lebih lembut, ia juga merapikan selimut yang menutupi tubuh Edgar.
Agatha memutuskan untuk membuat bubur untuk Edgar, meski dia terlihat sibuk namun Agatha masih terus memikirkan ucapannya yang beberapa saat lalu kepada Edgar. Dia merasa bersalah kepada pria itu, tidak seharusnya dia menghakimi Edgar dengan kata-katanya, dia juga tidak tahu kebenaran di setiap tindakan pria itu, tidak di benarkan sikap Edgar yang dengan mudah membunuh orang tapi juga tidak selayaknya dia bertanya dengan kata-kata seperti itu kepada Edgar.
…
Agatha muncul kembali dengan sebuah nampan yang berisi bubur dan sup untuk Edgar, dia meletakan benda itu di atas nakas lalu membantu Edgar untuk duduk.
“aku bisa melakukannya sendiri,” Edgar mencoba meraih mangkuk berisi bubur di genggaman Agatha, raut wajahnya datar.
“biarkan aku membantumu.” Agatha menarik jauh mangkuk itu dari jangkauan Edgar dan tidak ada penolakan dari pria itu, dia diam membiarkan Agatha melakukan apapun sesuka hatinya.
Agatha mulai menyuapi Edgar dalam diam, sesuatu di tenggorokan wanita itu seakan ingin keluar tapi Agatha menahannya hingga Edgar selesai dengan makanannya. Sedangkan Edgar tak mudah di tebak, pria itu dengan raut wajah dingin dan lebih diam dari pada biasanya membuat Agatha semakin merasa bersalah.
“Ed,” Agatha meletakan mangkuk kosong di atas nampan.
“aku minta maaf dengan pertanyaanku sebelumnya.” ucap Agatha bersungguh-sungguh. Keduanya saling bertatap, ada luka yang tersimpan di manik masing-masing.
“tidak perlu meminta maaf untuk apapun, kita sama-sama tahu bahwa aku memang bukan orang baik Agatha.” balas Edgar rendah. Dia sendiri yang akan mengingatkan wanita itu jika tangannya memang penuh darah.
“aku tidak mengatakannya seperti itu,” lirih Agatha semakin merasa bersalah.
“itu kenyataan Agatha.” balas Edgar dengan rahang mengetat, dia marah pada dirinya sendiri namun juga marah karena sikap Agatha yang seperti memberinya secercah harapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Bastard's Secret (TAMAT)
Romance21++ ***Cerita ini mengandung unsur dewasa*** Kematian Ludovic cukup mengagetkan orang-orang sekitarnya. Seorang pengusaha kaya yang di kenal tegas dan berwibawa. Penyebab kematiannya masih menjadi misteri. Pria yang sudah berumur setengah abad itu...
