Bab 61 Perubahan

41 0 0
                                        

Edgar yang tengah fokus membersihkan bekas jahitan pada lukanya di depan cermin sama sekali tidak menyadari ketika Agatha masuk ke dalam kamar.

Wanita itu tidak berkedip begitu melihat punggung Edgar yang terbuka, perasaan sesak seperti ada beban berat yang menghipit dadanya serta di ikuti kepalanya yang terasa berdenyut. Agatha mencoba menggapai sesuatu untuk di jadikan pegangan ketika denyutan di kepalanya terasa semakin menyakitkan, kilasan-kilasan kejadian yang tidak ia ketahui mulai bermunculan menyerang benak Agatha.

Agatha berkeringat dingin, dia mencoba membuka mulut namun suaranya hilang, di saat pandangannya perlahan mengabur Agatha berusaha berpegangan pada ujung meja kecil yang ada di tengah ruangan. Diiringi dengan deru nafas yang semakin berat tubuh Agatha ambruk menabrak meja, Edgar yang kaget sontak menoleh dan mendapati wanita itu di lantai tak sadarkan diri. Kejadian itu sangat tiba-tiba, lalu Edgar sedikit berlari menghampiri tubuh Agatha,

“Agatha, hei Agatha.” Edgar menepuk lembut pipi Agatha yang terasa dingin dan pucat.

Edgar yang tidak mengetahui apapun mulai panik dan mengangkat tubuh Agatha untuk di bawa ke atas tempat tidur,

“Sayang …” Edgar menggoyangkan tubuh Agatha namun wanita itu sama sekali tidak memberikan respon, tanpa pikir panjang Edgar meraih ponselnya dari atas nakas dan menghubungi dokter.

“sepertinya nona Agatha kelelahan, sejauh ini tidak ada masalah serius hanya perlu beristirahat cukup.” … “semuanya stabil dan mungkin sebentar lagi nona Agatha akan sadarkan diri.” jelas dokter.

“tapi itu sangat tiba-tiba …” Edgar terlihat begitu khawatir, sebelum pingsan wanita itu baik-baik saja bahkan tidak ada gejala sakit.

“itu hal biasa tuan, terkadang yang bersangkutan tidak menyadari ketika tubuh dalam keadaan lelah sehingga terus beaktivitas seperti biasa.” dokter kemudian pamit undur diri setelah memberi beberapa resep vitamin dan suplemen kepada Edgar.

Hanya berselang sepuluh menit setelah kepergian sang dokter, Edgar yang duduk di pinggir tempat tidur bergerak mengubah posisinya saat pelupuk mata Agatha bergerak perlahan, butuh waktu beberapa menit bagi wanita itu untuk mengingat apa yang terjadi.

Edgar menghembuskan nafas lega mengetahui Agatha sudah sadarkan diri,

“kau sudah sadar?” tanya Edgar lembut sambil mengelus pipi Agatha, wanita itu mengerjap dengan senyum yang mampu melelehkan hati Edgar.

Namun tatapan lembut itu hanya berlangsung sebentar karena kemudian Edgar menatap tajam Agatha yang juga tengah menatapnya.

“mulai sekarang kau tidak boleh lagi menyentuh tanaman-tanaman itu, tidak ada lagi kegiatan di luar, biarkan tukang kebun yang mengurusnya!” ujar Edgar dengan nada tegas sedangkan Agatha mengernyit bingung.

“dokter mengatakan kau kelelahan dan itu semua pasti karena aktivitasmu yang setiap hari berkebun.” jelas Edgar tanpa melepas tatapannya dari Agatha.

“Ed, sungguh aku tidak apa-apa.” jawab Agatha lembut, dia menelisik seluruh wajah Edgar yang terlihat kaku.

“tidak ada bantahan Agatha.” ujar Edgar tajam. Tidak ada jawaban dari Agatha namun tindakannya justru membuat Edgar mengernyit, wanita itu mengelus pipi Edgar dengan senyum kecil.

“kau sangat tampan.” bisiknya yang membuat Edgar terperangah.

“kau berusaha merayuku agar tidak marah hm, itu tidak akan berhasil.” ujar Edgar dengan rahang mengetat, mendengar itu Agatha tertawa kecil sambil berusaha untuk duduk, lalu tanpa peringatan wanita itu mengecup pipi Edgar.

“lihat, aku sungguh baik-baik saja.” ucap Agatha dengan kedua tangan yang terbuka menunjukkan dirinya sangat baik sekarang.

Edgar menelan ludah setelah mengumpulkan kembali kesadarannya, jujur saja tindakan Agatha beberapa detik yang lalu berhasil membuat Edgar tak mampu berpikir jernih.

“kau tidak akan jatuh tak sadarkan diri jika kondisimu baik-baik saja.” Edgar tidak akan membiarkan Agatha pada pendiriannya untuk kembali berkebun.

Akhirnya Agatha hanya bisa menghela nafas dengan bibir mengerucut.

Edgar sedang menyiapkan steak dan mashed potato untuk makan malam ketika Agatha muncul dan berdiri di sampingnya.

“kau ingin aku melakukan sesuatu?” tanya Agatha sumringah. Edgar berhenti sejenak dari aktivitasnya lalu membalas tatapan Agatha seperti orang tengah berpikir,

“mungkin sebuah ciuman agar—” namun Edgar belum menyelesaikan kalimatnya ketika dengan cepat Agatha mendaratkan kecupan bertubi-tubi di sudut bibir pria itu. Edgar menyipitkan mata tak percaya, apa yang terjadi dengan istrinya? Biasanya Edgar harus memaksa atau melakukan tindakan licik hanya untuk mendapatkan sebuah ciuman.

“kau tampak sedikit jinak.” bisik Edgar penuh selidik dan curiga ada sesuatu yang di sembunyikan wanita itu.

“bukankah kau ingin aku menjadi istri yang baik dan patuh?” ujar Agatha sambil membuang muka karena malu.

“apa kau menjadi berubah pikiran setelah kepalamu terbentur, hm?” Edgar masih tidak menyangka dengan sikap Agatha yang terlihat lebih manja dari biasanya.

“sepertinya aku berlebihan.” lirih Agatha menunduk, menyadari ucapannya telah menyinggung Agatha dengan cepat Edgar meraih dagu wanita itu dengan jemarinya hingga mereka kembali beradu tatap.

“sayang, aku cuma bercanda.” ujar Edgar terdengar panik, tapi Agatha membuang muka.

“aku akan menyiapkan piring.” ujarnya tanpa menatap wajah Edgar, di saat itu Edgar tahu Agatha marah padanya.

“sayang,” dengan satu telapak tangan Edgar menangkup pipi Agatha … “aku minta maaf.” lirih Edgar menatap wajah Agatha yang datar. Seketika keduanya terjebak di pikiran masing-masing dengan tatapan yang sulit di mengerti.

“it’s okay.” sahut Agatha memutuskan kontak mata di antara mereka, dia tersenyum kecil untuk meyakinkan Edgar bahwa semua baik-baik saja.

Malam itu sedikit berbeda dari malam sebelumnya, sepanjang makan malam keduanya berbagi obrolan ringan dan yang berbeda adalah kali ini Agatha selalu menanggapi Edgar dengan antusias, tatapan, senyum dan tindakan wanita itu membuat suasana terasa sangat nyaman.

Begitu juga sebaliknya, sikap Edgar menjadi lebih lembut, mungkin sesekali dia akan menggoda hanya demi melihat wajah Agatha yang menggemaskan.

Masih berlanjut, selesai makan malam keduanya bekerja sama untuk membersihkan piring dan peralatan kotor. Mereka harus menghabiskan waktu yang lama di wastafel karena ide Agatha yang tiba-tiba membuat gumpalan busa yang banyak di dalam wastafel untuk kemudian di mainkan. Agatha yang terlebih dahulu mengusap sedikit busa di pipi Edgar dan kemudian pria itu membalasnya, mereka mulai saling membalas dan tertawa tanpa sadar, cipratan air dari kran berhasil membuat tubuh mereka basah meski begitu keduanya menikmati momen itu.

Melihat tubuh Agatha yang sudah hampir seluruhnya basah Edgar memutuskan untuk mengakhiri permainan mereka, dia menangkup wajah Agatha dan dengan punggung tangannya pria itu mengusap wajah Agatha yang basah.

“kau bisa sakit, sekarang pergi ke kamar dan ganti pakaianmu.” ujar Edgar rendah yang mendapat anggukan kecil dari Agatha.

Edgar menatap punggung Agatha yang mulai menjauh, diam-diam bibirnya menyungging senyum kebahagiaan.

The Bastard's Secret (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang