Bab 72: Cinta, Dendam dan Pembalasan

28 0 0
                                        

Bertahun-tahun telah berlalu, Amelia tidak pernah lupa dengan wajah itu.
Dia tidak mungkin salah mengenali sosok yang hampir mendekati sempurna berdiri dengan jarak beberapa senti darinya.
Tentu secara fisik Amelia mengenalinya tapi tidak dengan sorot mata dingin dan aura yang mendominasi kegelapan itu.
Keduanya membatu selama beberapa saat, ada perasaan bertolak belakang namun ikatan batin seorang anak dan ibu sungguh tak dapat di abaikan begitu saja.
Tanpa sadar mata Amalia berkaca-kaca sementara tangan Edgar semakin kuat menggenggam pistol yang masih mengarah kepada Benyamin.
“Pertemuan mengharukan bukan?” Benyamin berhasil memutuskan kontak mata antara Amelia dan Edgar.
Beberapa menit yang lalu Amelia dalam perjalanan menuju suatu tempat setelah menerima telepon dari Vincent, anak lelakinya itu meminta untuk datang dengan nada panik namun ia tiba-tiba di cegat oleh beberapa anak buah Benyamin, tak mampu melawan para pria berbadan besar itu Amelia berhasil di bawa menuju club Heaven. Melalui lift khusus di sinilah Amelia sekarang berada.
“EDGAR ALEXANDER!” ... “kau hanya sedang beruntung untuk menyandang nama keluarga Mateo.” Benyamin mulai memainkan perannya, dia tahu bahwa permainan psikologi sangat tepat untuk Edgar.
“Apa kau tahu bahwa dulu aku dan Amelia begitu saling mencintai sebelum Ludovicus sialan yang kau panggil Daddy itu datang dan merebut wanitaku?” Benyamin mulai menceritakan bagaimana awal mula semua peristiwa itu.
“pada masa itu aku menjadi pria paling tak berdaya, aku kira semua sudah berakhir tapi ternyata tidak.” Benyamin melangkah lebih dekat ke arah Amelia yang terikat di sebuah kursi besi. Pada saat bersamaan Amelia menggeleng ke arahnya, seakan meminta pria itu untuk tidak mengatakan apapun, Amelia tak ingin menghancurkan hati Edgar untuk kesekian kalinya.
“Tak kusangka Amelia masih ingin menjalin komunikasi denganku setelah menikah dengan Ludovic hingga melahirkan bajingan itu seorang putra dan kau tahu apa yang paling mengejutkan?” Benyamin mengelus ujung pistol itu di pipi Amelia, dia sengaja bermain-main di sana untuk membuat Edgar merasa penasaran.
“ ... dia membantuku secara finansial hingga akhirnya berhasil mendirikan jaringan Mr Pumpkin. Ya, aku tak lupa bahwa semua ini atas dukungan Amelia.” Benyamin tersenyum puas terlebih setelah melihat raut wajah Edgar yang merah padam.
“aku tertawa keras setiap kali mengingat kembali raut wajah pria kecil yang memohon kepada seorang ibu untuk tidak di tinggalkan. Oh Edgar, aku masih mengingat hal itu dengan jelas.” Ujar Benyamin dengan suara tawa yang menggelegar, mengejek Edgar kecil dengan rasa puas. Sedangkan Amelia berusaha mati-matian menahan air mata, sungguh penyesalan itu mampu melumpuhkannya.
Amelia baru mengetahui kebenaran tentang Benyamin setelah Sandra kabur ke Jepang. Dunia hancur lebur di bawah telapak kakinya, Amelia tak berhenti mengutuk kebodohannya, sudah terlambat untuk mundur akhirnya ia memilih bertahan dan mengumpulkan semua bukti kejahatan Benyamin sebagai senjata baginya.
Apa yang di katakan Benyamin tidak sepenuhnya salah dan juga tidak sepenuhnya benar—Amelia tertipu dengan omong kosong Benyamin pada masa itu.
...
Di ingatkan kembali pada peristiwa menyakitkan itu membuat nafas Edgar tercekat, Amelia tidak hanya membuangnya tapi juga mengkhianati daddy-nya.
“Kau menangis tak berdaya ...”
“Dorrr!!!”
“tutup mulutmu sialan!” desis Edgar sambil melepas satu peluru yang hanya beberapa senti melesat dari kepala Benyamin, membuat pria itu terbungkam.
Ruangan itu semakin dingin mencekam, suara nafas Edgar yang memburu menjadi satu-satunya bukti bahwa di sana ada tiga kehidupan yang sedang bertarung.
“permainan ini terlalu klasik, apa hanya wanita ini yang bisa menjadi senjata bagimu?” Edgar bahkan enggan memanggil Amelia dengan mommy.
“demi para Dewa aku bahkan tidak peduli sekalipun kau menghabisinya dalam sekejap mata.” gumamnya dalam dan nafasnya terdengar berat. Hatinya di penuhi kemarahan dan kebencian, Edgar tidak akan menyesali apapun jika sesuatu terjadi kepada Amelia.
Raut wajah Benyamin yang semula penuh kesenangan karena merasa Amelia akan menjadi kelemahan Edgar kini berubah memerah antara marah dan panik. Benyamin semakin menekan ujung pistolnya di pelipis Amelia namun tidak terlihat sedikitpun rasa takut di wajah Edgar.
“kau akan melihat kembali dirimu yang tak berdaya itu ...” Edgar menarik sudut bibirnya dengan angkuh karena di saat itu Benyamin mendapat panggilan berulang dari Vincent.
“angkat saja, itu kejutan lain untukmu.” ujar Edgar seakan sudah tahu apa yang sedang terjadi di balik panggilan video itu.
Benyamin mungkin tahu jika kelemahan Edgar merupakan orang-orang tercintanya tapi sayangnya Benyamin tidak tahu bahwa tak ada lagi yang tersisa di hati Edgar untuk ibunya semenjak Amelia meninggalkannya tanpa hati.
Sementara Edgar juga mengetahui apa yang menjadi ambisi Benyamin, salah satunya adalah Vincent. Dia berusaha membentuk Vincent menjadi seperti yang ia mau, karena Vincent satu-satunya yang menjadi penerus.
Dari layar ponselnya Benyamin dan Amelia bisa melihat keadaan Vincent yang juga terikat di sebuah kursi sama seperti Amelia saat ini.
“Benyamin dengar, aku tidak berniat menyisakan satupun keturunanmu di bumi ini. Akan kuhabisi hingga titik darah penghabisan!”
Amelia berada di posisi yang salah, dia tidak bisa kehilangan salah satu dari mereka baik Vincent ataupun Edgar. Matanya nanar menatap Edgar, memohon agar pria itu tidak melakukan apapun kepada Vincent, tapi hal itu justru semakin menambah luka di hati Edgar.
“aku terlalu lama bermain denganmu.”
“Dorrr!!!” setelah hening sejenak tak di sangka Benyamin justru melepas pelurunya, beruntungnya Edgar dengan sigap menghindar dan peluru melewatinya.
Amelia terlihat begitu syok dan berusaha melepas diri dari ikatan yang melilit tubuhnya. Wanita itu sangat marah atas tindakan Benyamin, sedangkan Edgar tetap tenang dan dengan perlahan menarik pistol lain yang terselip di belakang punggungnya.
Kini kedua tangan Edgar sudah memegang pistol, benda itu mengarah kepada Benyamin dan salah satu lainnya mengarah kepada Amelia.
“kelihatannya kau menjadi ragu untuk mengakhiri wanita itu, biarkan aku membantumu.” Ujar Edgar dengan tatapan yang sangat dingin. Setiap tindakan merupakan gambaran dirinya, itulah Benyamin yang sesungguhnya dan Edgar tahu itu.
Benyamin tidak sepenuhnya berani melenyapkan Amelia karena sesuatu hal yang disembunyikan wanita itu tapi seorang mafia selalu berani mengambil resiko, jika Amelia menjadi kelemahan Edgar maka sudah pasti Benyamin tak akan sungkan untuk mengakhiri wanita itu demi menyakiti Edgar, sayangnya kini mereka tahu bahwa Edgar tidak lagi terpengaruh akan kehadiran wanita itu.
Diam-diam Benyamin menekan tombol kecil yang menyatu dengan kepala sabuknya, benda itu menghantar sinyal tanda bahaya dengan cepat kepada ajudannya tapi hingga beberapa detik tidak ada yang terjadi, Benyamin mulai frustasi hingga menekan benda itu berkali-kali dan tetap saja tidak ada yang datang untuk menyelamatkannya.
Edgar menarik sudut bibirnya dengan tatapan penuh cemooh, jelas Benyamin tidak bisa melakukan apapun karena ruangan itu kini di jaga oleh orang-orang Edgar.
“apa yang kau inginkan, sialan?!” meski berusaha terlihat tenang tapi nada suara Benyamin cukup jelas menunjukkan rasa panik.
“nyawamu dan semua orang yang memiliki aliran darah denganmu!” ... “Dor!!!” jawab Edgar dengan sangat yakin dan di saat bersamaan melepas pelurunya. Benda panas itu kembali melesat hanya beberapa senti dari kepala Benyamin.
Semua yang ada di ruangan itu berhenti berfungsi, termasuk pintu kaca yang seharusnya bisa memisahkan Benyamin dan Amelia dari Edgar, tak ada pilihan selain membalas serangan Edgar.
Suara tembakan beruntun memenuhi ruangan itu, Amelia tak bisa melakukan apapun selain memejam berlinang air mata, nafasnya tercekat setiap kali benda panas itu melesat—tidak peduli jika itu mengenai dirinya atau Benyamin karena mereka pantas mendapatkannya tapi dia berharap Edgar tidak terluka oleh serangan itu.
Beberapa peluru berhasil mengenai Edgar meski begitu Benyamin jauh lebih parah.
...
“kau ada permintaan terakhir?” suara Edgar terdengar berat, dia sedikit membungkuk ke arah Benyamin sambil menempelkan ujung pistol di kening pria itu.
Setelah pertarungan hebat akhirnya Benyamin terkapar dan pistol terlempar dari tangannya.
Di sisa-sisa helaan nafasnya Benyamin masih terbahak mencemooh ketika melihat beberapa bekas tembak yang berhasil mengenai Edgar.
“aku akan mati tanpa sedikitpun penyesalan dan kau akan menyusul ku dengan cepat.” bisiknya dengan raut wajah puas.
Tak ada keraguan, Edgar mengakhiri pria itu dengan wajah dingin dan mata yang tak berkedip.
Ini permainan yang sangat singkat, Edgar terlalu muak hingga rasanya ingin muntah melihat wajah pasangan di hadapannya, lebih baik mengakhiri dengan cepat.
Beberapa saat setelah memastikan tak ada lagi pergerakan dari Benyamin, darah segar mengalir dari kepala pria itu yang menguarkan aroma amis di seluruh ruangan lalu Dores masuk ke dalam beserta beberapa ajudan yang lain.

The Bastard's Secret (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang