•
•
•
•
•
Sudah beberapa hari berlalu sejak Nunew dan Zee menghabiskan waktu bersama di taman. Hari itu masih tersimpan jelas di dalam ingatan Nunew. Setiap detiknya terasa menyenangkan, mulai dari saat mereka mengobrol sambil tertawa, menikmati es krim di bawah langit yang cerah, hingga momen sederhana seperti ketika Zee membenarkan rambutnya yang berantakan. Semuanya terasa hangat, seperti matahari pagi yang menyusup lewat sela-sela tirai kamar. Namun, perlahan semua itu berubah. Sejak hari itu, Zee mulai jarang mengirim pesan. Biasanya, pagi hari Nunew sudah dibangunkan dengan notifikasi panjang dari Zee-entah itu berisi stiker, atau hanya sekadar ucapan "Selamat pagi mut, yuk bangun." Sekarang, layar ponselnya sepi. Tak ada nama Zee yang muncul. Tak ada notifikasi baru. Seolah dunia sedang memberi jeda yang tidak pernah diminta.
Pada awalnya, Nunew tidak terlalu memikirkan hal itu. Ia mengira mungkin Zee sedang sibuk. Bisa saja banyak tugas, atau mungkin sedang tidak enak badan. Tetapi, seiring waktu berjalan dan kebiasaan yang dulu terasa rutin perlahan hilang, Nunew mulai merasa ada yang berbeda. Ia bukan hanya bertanya-tanya, tetapi juga merasa heran dan sedikit kesal. Zee tidak hanya berhenti mengirim pesan, tapi juga tidak lagi muncul di mana pun. Tidak ada unggahan di akun media sosialnya, tidak membalas pesan yang dikirimkan oleh Nunew, bahkan kehadirannya di kampus pun terasa lebih singkat dan terburu-buru. Rasanya seperti seseorang yang tiba-tiba mengambil langkah mundur tanpa alasan yang jelas.
Pagi itu, seperti biasa, Nunew duduk di tepi tempat tidurnya dengan ponsel di tangan. Sudah lima menit ia hanya menatap layar, membuka aplikasi WhatsApp, dan menatap riwayat obrolan dengan Zee. Pesan terakhirnya hanya dibaca, tanpa balasan. Biasanya, Zee akan langsung membalas dengan cepat, meskipun hanya dengan stiker lucu yang dimilikinya. Sekarang? Tidak ada satu pun respons. Nunew menghela napas, mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya, lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar.
Saat sedang menuju dapur, ibunya memanggil dari ruang tengah. "Nu, beliin garam di warung biasanya dong. Mamah lagi masak, tapi lupa kalau garamnya habis."
"Oke, Mah," jawab Nunew singkat sambil mengangguk. Ia mengambil dompet kecil dari meja dan melangkah keluar rumah. Sinar matahari pagi menyapa wajahnya, tetapi tidak terasa sehangat biasanya. Entah karena cuaca yang memang sedikit mendung, atau karena pikirannya yang terlalu penuh.
Perjalanan ke warung hanya beberapa menit, tetapi langkah Nunew terasa lambat. Ia menyusuri jalan kecil di depan rumah sambil memainkan ponselnya, berharap ada notifikasi masuk dari seseorang yang sedang mengganggu pikirannya sejak beberapa hari terakhir. Tapi layar tetap hening. Bahkan hanya untuk satu balasan sederhana pun tidak ada. Setelah membeli garam, Nunew berjalan pulang sambil terus memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ia bukan tipe orang yang mudah curiga, tapi perubahan Zee terlalu mencolok untuk diabaikan.
Sesampainya di rumah, ia langsung kembali ke kamarnya. Kali ini, tanpa ragu, ia mengetik pesan pendek untuk Zee: "Woi, lo ke mana sih? chat gue kok dicuekin??" Kalimat itu terlihat sederhana, tapi penuh dengan rasa penasaran. Ia menatap layar beberapa detik, lalu menekan tombol kirim. Nunew menghela napas panjang, lalu meletakkan ponselnya di meja. Ia duduk bersandar, memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan pikirannya yang semakin dipenuhi tanda tanya.
Malam harinya, Nunew duduk di balkon lantai dua rumahnya. Udara malam cukup sejuk, dan langit tampak bersih tanpa awan. Ia memandangi bintang-bintang yang bertaburan di langit. Namun, rasa bingung tetap setia berdiam di dalam dirinya. Ia bertanya-tanya, apakah ia melakukan kesalahan saat mereka menghabiskan waktu bersama saat itu? Apakah ada ucapannya yang tidak sengaja menyinggung Zee? Atau... apakah perasaannya saja yang terlalu berlebihan?
Sambil mengelamun, ia mendengar notifikasi berbunyi dari ponselnya. Dengan cepat ia meraihnya, berharap nama yang muncul adalah nama yang mengganggu pikirannya saat ini. Tapi ternyata bukan. Hanya pesan dari grup kelas yang membicarakan tugas minggu depan. Nunew mengembuskan napas pelan. Ia menutup ponselnya dan kembali menatap langit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Random - ZeeNunew
RandomZeeNunew Wattpad, Oneshoot Version. Murni tulisan dari penulis, mohon maaf bila ada kesamaan atau kemiripan dengan cerita lain. Isinya BxB, homophobic disarankan untuk tidak mendekat, apalagi membaca cerita ini. Slowup karena ada kesibukan di real l...
