Shasha dan Hilman datang dengan perasaan yang ringan dan bahagia. Pagi tadi sekitar pukul delapan, keduanya mendapat tugas untuk mencari penjahit di Desa Weringin. Awalnya memang sulit, namun mereka berdua tidak putus asa. Satu persatu warga Desa Weringin mereka tanyai. Hingga akhirnya sampailah mereka pada kediaman Ibu Sulastri. Posisi rumahnya memang jauh dari posko KKN, sehingga wajar saja kalau anggota KKN tidak tahu kalau beliau menerima jasa jahitan.
"Gimana? Udah dapet penjahitnya?" tanya Jev yang ternyata menunggu kedatangan mereka. Jev sudah siap dengan sepeda motor yang ia tunggangi. Bersiap untuk mencari di luar desa. Barangkali di desa ini tidak ada.
"Udah dong. Kita gitu," jawab Hilman bangga.
"Nyari kemana aja? Kok lama amat?"
"Kemana-mana hatiku senang."
Hilman tertawa keras. Rasanya sangat melegakan sekali setelah bertemu dengan Ibu Sulastri. Padahal tadi ia sudah khawatir tidak akan bisa mendapatkan penjahit. Ditambah lagi, Bu Sulastri memberikan mereka dengan cuma-cuma. Iya, benar. Mereka dilarang membayar. Katanya anggap saja partisipasi dari warga desa. Sebab mereka tidak bisa memberikan apa-apa selain tenaga seperti yang Bu Sulastri lakukan sekarang.
"Yang bener lo, Hil."
"Mending ngumpul deh sekarang. Nanti gue ceritain. Nanya Hilman mah kagak pernah bener jawabannya." Shasha berlalu dari hadapan mereka berdua. Perempuan berambut panjang itu langsung duduk di ruang tamu yang biasanya menjadi tempat berkumpul. Di sana sudah ada Ajeng yang ditemani Talia mengerjakan laporan KKN.
Satu persatu anggota KKN Desa Weringin berkumpul di ruang tamu. Mereka tidak datang serempak, karena beberapa dari mereka tengah berada di luar posko—membeli beberapa bahan makanan atau peralatan yang lagi diperlukan.
"Jadi guys, gue di sini ngumpulin kalian semua karena berita bagus yang mau gue sampaiin," ucap Shasha yang diangguki antusias oleh Hilman. "Gue sama Hilman tadi udah berhasil dapet penjahit buat acara gebyar KKN kita. Nama Bu Sulastri. Rumahnya ada di pojok kampung. Jelas jauh dari sini."
Semuanya tersenyum lega. Bahkan beberapa dari mereka berteriak kegirangan. Begini saja sudah membuat mereka senang. Apalagi mendengar kabar bahagia selanjutnya. Tidak terbayang bagaimana bahagianya mereka. "Dan ada kabar yang lebih membahagiakan lagi. Hmmm... mungkin ini memang rejekinya kita, Bu Sulastri bilang, beliau gak perlu dibayar. Beliau mau bantuin kita gratis."
Teriakan terdengar lebih membahana daripada sebelumnya. Jev yang sejak awal sangat ingin tahu kabar ini, teriak dengan sekencang-kencangnya, sampai Ajeng memukul pelan paha laki-laki itu, yang tentunya hanya dibalas cengiran lebar yang sering kali Jev tunjukkan.
"Serius?"
"Iya dong. Masa hal yang membahagiakan ini dijadiin bercandaan. Kami tahu kali kapan waktu becanda, kapan enggak." Hilman bertos ria bersama Shasha. Misi mereka telah selesai, bahkan berakhir dengan sangat baik.
"Berarti kita gak perlu khawatir dong sama biaya yang bakal kita keluarin?" tanya Talia, perempuan itu memperlihatkan binar matanya.
"Iya, udah gak perlu lagi. Seenggaknya hal ini bisa banget ngebantu kita."
"Sumpah, ya, warga di sini tuh kenapa baik-baik banget sih. Gue jadi ngerasa sedih tahu kalau bentar lagi KKN kita bakal segera selesai."
Mendengar fakta itu, mendadak semuanya diam. Hawa sendu perlahan melingkupi mereka satu persatu. Siapa sih yang tidak sedih dengan adanya perpisahan. Meskipun perpisahan itu telah disiapkan sedemikian rupa, tetap saja, yang namanya perpisahan tidak pernah bisa diantisipasi kedatangannya.
"Kenapa jadi mellow gini ya kita?" Sella memanyunkan kedua bibirnya. Padahal rasanya baru kemarin mereka memperkenalkan diri satu persatu, menyebutkan nama dan jurusan yang mereka tempuh. Dan baru kemarin juga anggota laki-laki teriak ketakutan karena Shasha membukakan mereka pintu dengan wajah penuh lulur putih—yang mereka kira hantu.
"Gimana dong, ini kurang sepuluh hari lagi gak sih? Ya Tuhan, kok cepet banget?"
"Gak usah sedih, guys, gue tahu kok kalau gue ngangenin," seru Hilman dengan wajah polosnya yang tentu saja membuat Yusuf dan Seno hampir memuntahkan isi perut.
ㅤ
—
ㅤ
Di posko KKN sekarang tengah ramai. Pasalnya banyak anak-anak yang datang ke sana dan kebetulan bertepatan dengan hari minggu. Dari mulai anak-anak perempuan hingga laki-laki, semuanya berkumpul di satu tempat itu. Renan, Jev dan Seno sibuk membagikan jajanan ringan. Mengatur agar tidak ada yang berebut. "Satu-satu ya, adik-adik. Jangan rebutan, semuanya kebagian kok."
Dengan tawa renyah, anak-anak itu menurut, lalu duduk setelah mendapatkan apa yang mereka mau.
"Kakak, katanya kita mau ikut pentas ya?" Ucap salah satu anak dengan gigi depan yang ompong, membuat anak tersebut terlihat lucu saat tertawa.
"Iya, tadi sudah dikasih tau sama Kakak Talia, kan?"
"SUDAHHH!!" serunya antusias.
Talia dan Shasha datang dari arah dapur, membawa pernak-pernik lucu yang sebelumnya sudah anggota KKN buat. Ada topi yang terbuat dari bungkus penyedap rasa, dasi yang terbuat dari kain perca hingga gelang dari bambu yang permukaannya sudah mereka haluskan agar tidak melukai si pemakai.
Melihat pernak-pernik yang memanjakan mata, anak-anak langsung dibuat penasaran. Dari gelagatnya dapat diketahui kalau mereka ingin mencobanya satu persatu. Wajar saja, karena di usia yang terbilang masih sangat belia, rasa penasaran akan sesuatu yang baru lebih cepat datang.
"Kakak, aku boleh coba ini?" tanya si anak berambut sebatas bawah telinga.
"Boleh dong," jawab Talia tak kalah girang, "Kalian boleh milih mau pakai yang apa. Tapi satu anak harus dapat satu ya, biar semuanya kebagian."
Talia menghitung anak-anak yang berkumpul, ada setidaknya sembilan orang. Empat di antaranya adalah laki-laki. Untung mereka membuat pernak-pernik ini dalam jumlah yang pas. Tidak kekurangan satu bahan sekalipun.
Shasha, Talia, Karin megajarkan satu persatu anak-anak dengan sabar, bahkan Shasha yang memang sangat ekstrovert sekali memperagakan bagaimana mereka berjalan di atas catwalk—anggap saja begitu karena yang akan mereka gunakan nanti adalah panggung, alih-alih catwalk seperti para model yang biasanya berjalan memperagakan gaya berbusana.
Canda tawa juga tidak pernah lepas dari bibir mereka. Jika biasanya anak-anak itu main petak umpet, kejar-kejaran, ular tangga sekarang mereka diajarkan sesuatu yang berbeda dari banyak hal yang sudah sering mereka temui. Kebahagian mereka sungguh membuat hati Shasha dan yang lainnya jadi berbunga. Mereka juga tidak menyangka akan mendapat sambutan hangat seperti sekarang ini. Memang tidak salah mereka mengambil konsep ini. Mereka merasa semuanya akan jauh lebih terasa mudah.
"Kanan, kiri, kanan, kiri, putar," seru Talia menuntun satu persatu anak-anak yang sudah siap dengan pernak-pernik di tubuh masing-masing.
"Jangan lupa senyumnya, ya," tambah Karin yang tak kalah semangatnya dari yang lain.
"Bagus! Ayo, kita ulangi lagi. Kalau capek bilang, ya. Nanti kita istirahat."
Seruan Shasha itu mendapatkan anggukan dari semuanya. Shasha tahu, dari bagaimana anak-anak itu merespon perkataannya, rasa lelah masih jauh menghampiri mereka. Atau bisa saja karena terlalu bahagianya, anak-anak itu tidak mengenal apa itu lelah. Karena bagaimana pun, masa kanak-kanak seperti mereka saat ini adalah masa dimana lagi semangat-semangatnya. Jangankan untuk berlenggak-lenggok di atas panggung, berlarian di jam istirahat sekolah pun, mereka sama sekali tidak merasa lelah. Menyadari itu, membuat Shasha dan yang lainnya jadi merindukan masa kecil mereka dulu.
ㅤ
ㅤ
To be continued.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, KKN ✓
RomanceKisah tentang kegiatan kampus yang mengharuskan dua belas anak manusia hidup dan berbagi tempat tinggal selama 30 hari. Tawa, suka, duka dan ketakutan akan menghampiri mereka setiap harinya. Mereka dituntut untuk bisa menyatukan banyak kepala menjad...
