Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Mungkin karena semua anggota KKN Desa Weringin lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan acara Gebyar yang selalu diadakan setiap menjelang akhir KKN, apalagi Renan dan Jendra yang sering wara-wiri ke kecamatan. Tepat di pagi hari ini, semua anggota KKN sudah bersiap untuk berangkat ke kecamatan. Tak lupa anak-anak Desa Weringin dan beberapa warga yang ingin melihat acara pentas seni itu sudah berkumpul di depan posko. Jas almamater tak lupa menggantung rapi di pundak anggota KKN.
“Gimana, sudah pada lengkap semuanya?” bisik Renan kepada Karin. Sebelum menjawab, perempuan itu memastikan sekali lagi bahwa tidak ada yang ketinggalan.
“Sudah. Bisa berangkat sekarang.”
Satu persatu kendaraan yang sengaja disumbangkan dari warga untuk mengangkut peserta pentas seni mulai melaju, melewati jalanan desa yang tidak begitu lebar. Begitu pun dengan rombongan anggota KKN Desa Weringin. Anak-anak yang sebelumnya, yang hanya memakai pernak-pernik simple di latihan waktu-waktu kemarin, sekarang terlihat begitu meriah. Mulai dari baju dari bahan daur ulang, aksesoris rambut, gelang, hingga hiasan dari ujung kaki sampai kepala, semuanya lengkap mereka kenakan.
Siapapun pasti akan terpukau dengan hasil tangan warga Desa Weringin itu.
Untuk menempuh perjalanan hingga sampai ke kecamatan tak menghabiskan banyak waktu. Mereka bisa sampai hanya dalam kurun waktu kurang lebih lima menit saja. Terlihat di balai kecamatan sudah terpasang megah panggung yang telah didekorasi oleh persatuan anggota KKN di tiap-tiap desa. Meskipun telah dibuat dengan bahan seadanya, panggung tersebut tampak begitu cantik. Anak-anak yang hari ini akan tampil pun, menyaksikannya dengan terkesima.
“Kakak, nanti kita akan tampil di sana, ya?”
“Iya, dong.”
Anak itu bersorak bahagia dan diikuti oleh yang lainnya. “Jadi nggak sabar, deh.”
Jev yang melihat betapa lucunya anak-anak tersebut tak menyia-nyiakan waktu. Dengan cepat, Jev mengambil satu demi satu potret yang bisa ia tangkap. Hal seperti inilah yang nantinya tidak akan bisa terlupakan.
“Dapat urutan nomor berapa?” tanya Ajeng setelah melihat kedatangan Renan yang membawa nomor urut peserta.
“Tiga,” tunjuknya sembari mengangkat kertas yang sengaja dibentuk lingkarang ke arah rombongannya.
“Kalau gitu, yuk, siap-siap sekarang.”
Acara gebyar KKN telah dimulai. Pembukaan, salam dari ketua pelaksana hingga perwakilan salah satu kepala desa dan pihak kecamatan, sejauh ini semua berjalan dengan lancar tanpa gangguan apapun. Sella yang sengaja menunggu sembari memberikan semangat kepada anak-anak, juga turut merasakan debaran di dadanya. Bukan karena jatuh cinta, melainkan karena mengkhawatirkan penampilan anak-anak. Semoga saja anak-anak tidak merasakan kegugupan yang sama agar penampilan mereka bisa mengalir seperti saat latihan.
“Kita sambut peserta nomor tiga dari KKN Desa Weringin. Kita berikan tepuk tangan yang meriah!!”
Sorak-sorai yang datang dari arah penonton, khususnya warga Desa Weringin yang ikut menyaksikan tak kalah meriah. Iringan lagu yang sudah Yusuf siapkan sebelumnya mengalun begitu merdu. Satu demi satu, anak-anak yang berbaris mulai melangkahkan kakinya. Lenggak-lenggok tubuh mereka selaras dengan alunan musik yang diperdengarkan. Tak lupa senyuman yang sudah Karin ajarkan, mereka tampilkan dengan sangat merekah.
Ternyata jauh dari kekhawatiran Sella, anak-anak tersebut justru tampil dengan sangat bagus. Di wajah mereka sama sekali tidak terlihat kegugupan. Mereka tampil dengan begitu bahagianya.
“Wah, kasih tepuk tangannya sekali lagi. Penampilan dari KKN Desa Weringin sangat kreatif sekali, ya.”
Jev yang selalu mendapat tugas dokumentasi tak henti-hentinya membidik kamera ke arah anak-anak yang tengah menampilkan penampilan terbaik mereka sedari tadi. Dari sisi depan, belakang, samping kanan, samping kiri, Jev tak meninggalkan angle barang sedikit pun. Sementara yang lain menunggu di belakang panggung, siap menyambut kembalinya anak-anak itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, KKN
General FictionKisah tentang kegiatan kampus yang mengharuskan dua belas anak manusia hidup dan berbagi tempat tinggal selama 30 hari. Tawa, suka, duka dan ketakutan akan menghampiri mereka setiap harinya. Mereka dituntut untuk bisa menyatukan banyak kepala menjad...
