35. Perasaan Lama

1.3K 91 27
                                        

Hallo gais, Dia di sini.
Aku udah update yaa. Awas nih kalau gak ada komen sama like-nya.

Dalam hidup, Renan tidak pernah kepikiran sekalipun untuk menyukai orang yang sama. Apalagi menyukai mantan pacarnya lagi. Sayangnya perasaan itu kembali mengusik setelah beberapa minggu tinggal bersama dengan perempuan itu. Terakhir kali bertemu dengan perempuan tersebut pada waktu jaman sekolah dulu, perubahan pada perempuan itu terlihat jauh lebih besar. Tidak ada kesan kanak-kanak di sana, perempuan tersebut terlihat jauh lebih dewasa.

Dan.... cantik.

Awalnya Renan terkejut mendapati adanya Karin di dalam kelompok KKN. Ia sempat bertanya, apakah ini Karin yang itu? Atau berbeda orang? Tapi semakin diingat, ingatan tentang Karin dahulu semakin sering muncul. Lalu berakhirlah ia dengan perasaan gelisah, mengetik pesan terus-menerus tapi tak pernah ia kirim.

Di sinilah sekarang Renan berada, di depan rumah perempuan itu. Menunggu Karin membukakan pintu pagar untuknya. Karin sudah mengirimkan pesan kepadanya pagi tadi, mengatakan kalau Renan boleh on the way sewaktu Karin sudah siap untuk dijemput. Namun sepertinya Renan sengaja datang lebih awal. setengah jam dari janji temu mereka.

"Ren... gue belum ngapa-ngapain ini. Kenapa udah ke sini aja?"

Karin dengan kaus bergambar kucing datang membukakan pagar rumahnya. Dari pandangan Renan, perempuan itu memang belum terlihat sudah siap. Perempuan itu bahkan hanya mengenakan baju rumahan. Meskipun begitu, Karin terlihat cukup cantik di matanya.

"Gapapa. Sekalian tadi nyari sarapan dulu di luar."

Renan turun dari motor, ia menyerahkan beberapa bungkus makanan kepada Karin yang menerimanya dengan tatapan bingung. Kedua alisnya bahkan saling menyatu.

"Ini... apa?"

"Makanan. Buat orang rumah. Masa gue ke sini dateng dengan tangan kosong," ucapnya diselingi dengan tawa.

"Gak usah repot-repot lah. Gak enak gue jadinya."

"Santai. Kayak sama siapa aja."

"Eh, masuk-masuk, gue sampai lupa nawarin lo masuk. Btw thanks ya buat makanannya."

Renan membalas dengan memberikan seulas senyum. Langkah kakinya berjalan mengikuti Karin masuk ke dalam teras rumah. Di sana ada beberapa kursi yang sengaja diletakkan untuk duduk atau sekedar menerima tamu.  Renan memutuskan untuk duduk di sana sembari meletakkan tasnya di samping kursi yang ia duduki.

"Masuk, Ren. Ngapain duduk  di sini?"

"Gapapa. Di sini aja. Sambil nyari angin. Orangtua lo kemana?"

"Lagi di halaman belakang. Mau dipanggilin?"

"Boleh. Gue ngerepotin gak sih?" tanya Renan tak yakin. Apa ia salah datang lebih awal?

"Enggak kok. Santai aja. Orang lo gak ngapa-ngapain."

Berbeda dengan apa yang terjadi sekarang ini, sementara di belahan bumi lain, ada Hilman dan Shasha yang sibuk mengambil sampah plastik yang sebelumnya sudah dibersihkan oleh ibu-ibu desa. Mereka berdua membawa pulang ke posko beberapa kotak.

Dari ibu-ibu desa, mereka jadi tahu kalau plastik-plastik bekas kemasan itu ternyata dipilah-pilah sesuai dengan merk kemasan. Hal ini jelas dapat mempermudah mereka dalam membuat busana untuk peragaan di acara gebyar KKN nanti. Meskipun mereka gak yakin apakah hal tersebut akan berhasil atau tidak.

"Man?" panggil Shasha yang berada beberapa langkah di belakangnya. Sebab langkah kaki Hilman terlalu besar untuk bisa Shasha ikuti.

"Jalannya yang cepet dikit dong."

Shasha berdecak, bukan itu yang ia maksud. "Kalau kita pakai peragaan busana ini. Terus siapa dong yang jahit, yang bikin polanya? Kan di kelompok kita gak ada yang ambil jurusan tata busana."

Hilman menghentikan langkahnya. Lalu ia menunggu sampai Shasha berada tepat di samping tubuhnya. "Yang lo omongin emang bener sih. Tapi kan ini cuma baju doang. Tinggal bentuk pola, terus jahit. Jadi deh."

"Lo mah ngomong doang enak, Man." Shasha merotasikan bola matanya malas. "Tapi semuanya gak segampang kayak lo pikirin. Gimana kalau seandainya, bajunya udah jadi, terus ternyata polanya salah, atau gak pas di badannya anak-anak? Apa gak makin nambah kerjaan dua kali kita?"

"Yaudah tinggal nge-hire penjahit aja. Masa di desa ini gak ada penjahit."

"Eh bener juga. Tapi keluar duit dong?"

"Gak masalah. Paling bayar berapa sih? Anggap aja sekalian nambah pemasukan warga sini. Daripada rugi kayak apa yang lo bilang tadi."

Sembari menimbang-nimbang saran tersebut, keduanya kembali melanjutkan langkah. Hingga sampailah mereka di posko KKN. Rupanya kehadiran mereka telah ditunggu-tunggu oleh yang lain di ruang tamu. Jendra menyambut mereka dengan mengulurkan tangan. Mengambil box yang Shasha bawa. Lalu meletakkannya di tengah-tengah lingkaran yang sudah mereka semua buat.

"Hmm, banyak juga ya," gumam Talia.

"Harus banyak. Soalnya kita juga gak tau berapa banyak bungkus plastik yang bakal kita pakai nanti," jawab Jev yang ternyata mendengar gumaman itu. "Tapi... apa kita gak nunggu Renan sama Karin balik dulu?" kali ini Jev mengatakan pada semuanya.

"Harusnya sih iya, ya. Tapi gak bakal jadi masalah juga kan kalau kita mulai semuanya dari sekarang? Minimal kita bersihin bungkus plastik ini duluan."

Shasha memperhatikan Yesmin, "Katanya ibu-ibu tadi, sampah plastiknya udah sempet dibersihkan kok. Jadi kita tinggal pakai aja. Oh, iya Hil," gantian Shasha berpaling ke arah Hilman, menepuk pelan lengan laki-laki yang duduk di sebelahnya tersebut. "Soal saran lo tadi, omongin sekarang aja deh. Mumpung sekarang kita lagi pada kumpul."

Hilman mengangguk, kemudian berdehem sebentar untuk menetralkan suaranya. Ia menatap temannya satu persatu, mencoba meyakinkan kalau ucapannya nanti bukanlah sebuah candaan semata.

"Jadi gini guys, ini kan kita rencananya mau bikin baju daur ulang dari sampah plastik kemasan. Berhubung di sini gak ada yang dari jurusan tata busana, gimana kalau kita pergi ke penjahit di desa ini. Siapa tahu ada. Ya... anggap aja bantu perekonomian warga itu. Gue sih gak maksa ya. Cuma... daripada nanti kita maksain bikin sendiri, eh hasilnya malah gak memuaskan atau lebih parahnya lagi, gagal total. Seenggaknya kita gak harus kerja dua kali. Gimana?"

Semuanya hening. Tidak ada yang menyahut ucapan Hilman tersebut. Mungkin beberapa dari mereka ada yang mikir kalau ucapan Hilman gak ada salahnya. Toh, berapa sih upah yang akan mereka bayarkan nantinya. Enggak akan sampai beratus-ratus ribu juga kan?

Lagipula kalau uang KKN mereka disalurkan untuk membantu warga sekitar, bukankah hal itu akan lebih baik lagi? Mereka mendapatkan untung begitupun warga tersebut. Sama-sama untung. Ibarat simbiosis mutualisme.

"Boleh juga."

"Gue sih, yes. Gak tau kalau Renan," ucap Jendra yang mendapatkan kelegaan dari Hilman.

"Renan mah gampang. Dia pasti setuju-setuju aja. Biar gue aja nanti yang nyampaiin ke anaknya. Pasti mau."

"Tapi...." Ajeng mengintrupsi semuanya. "Siapa warga di desa ini yang buka jasa jahitan? Kok sejauh yang gue lihat, gak ada yang buka ya."

"Nanti kita cari dulu siapa yang bisa. Gak mungkin kalau gak ada. Mungkin sekalian nunggu Renan sama Karin balik dulu."

Ucapan Hilman kadang cenderung bercanda. Maka dari itu mereka semua selalu was-was kalau Hilman ingin mengucapkan usulannya. Takut-takut kalau Hilman tidak lagi serius. Untungnya kali ini Hilman lagi mode serius.

Ternyata laki-laki itu boleh juga kalau tidak lagi mode pelawak begini.

To be continued.

Dear, KKNTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang