39. 30 Hari KKN

1.3K 85 33
                                        

Talia pikir hidup bersama dengan lebih dari sepuluh orang akan sangat menyusahkan. Ternyata pikirannya itu salah besar. Awalnya memang susah, karena bagaimanapun menyatukan banyak kepala di dalam satu atap rumah yang sama tidaklah mudah. Tapi seiring berjalannya waktu, semuanya masih baik-baik saja. Tiga puluh hari dengan banyaknya rasa, akhirnya menemukan titik usai. Tiga puluh hari itu pula mereka semua mampu melewati suka dan duka.

Tiga puluh hari yang tidak mudah.

Talia menatap teman perempuannya satu persatu, ia tengah berada di dalam kamar yang tak lebih besar dari ruang tamu. Di kedua netranya ia menangkap teman-temannya tengah menyiapkan semua barang-barang yang akan mereka bawa pulang. Tanpa sadar air matanya mulai menetes. Bayangan tentang teman-temannya yang berebutan posisi tidur, siapa yang mandi duluan, berebut makanan enak, saling meneriaki satu sama lain karena tidak mau mengeluarkan uang untuk membayar kas, berebut jemuran, dan tertawa bersama berputar dalam isi kepalanya bak kaset rusak.

Entah hal ini akan terulang kapan lagi, Talia tidak tahu. Sebab malam ini adalah malam terakhir untuk mereka bisa bersama—melewati satu malam sekali lagi dengan sunggingan senyuman yang menyapa cakrawala.

Guys…” ucap Talia yang ditemani dengan suara barang yang saling bertabrakan.

“Kenapa, Tal?” tanya Sella yang sibuk mengingat-ingat jumlah bajunya yang ia bawa waktu pertama kali masuk ke rumah ini.

“Kalian ngerasa sedih nggak, sih? Rasanya gue pengen banget nangis.”

Perkataan yang sarat akan kesedihan itu berhasil menginterupsi kegiatan mereka semua. Mereka mendadak menghentikan aktivitasnya, lalu beralih menatap Talia yang sudah berhujanan air mata.

“Kok lo nangis, sih?” Sella langsung melemparkan bajunya dan bergerak menghampiri Talia. “Jangan nangis, dong. Nanti gue ikutan nangis. Kan, kita semua sudah janji nggak ada nangis-nangisan. Lupa, ya?”

“Gue nggak lupa. Cuma… air mata ini jatuh sendiri.”

Tidak hanya Sella, semuanya kini ikut mendatangi Talia. Memberikan rengkuhan paling nyaman yang bisa mereka beri. Sebenarnya tidak hanya Talia saja yang merasa sedih. Melainkan mereka semua juga merasakan hal yang sama. Hanya saja mereka bisa menahan lebih besar daripada Talia.

“Kita juga sedih. Apalagi kalau ingat malam ini, malam terakhir kita tidur bareng kayak pindang dijemur,” jawab Shasha yang mencoba mencairkan suasana. Tapi bukannya membuat Talia tertawa, justru ucapannya tersebut membuat air matanya jatuh semakin deras.

“Kok makin nangis?!” panik Shasha.

“Gapapa, yang namanya pertemuan, pasti ada perpisahan. Kan, kita semua masih bisa bertemu di kampus.”

Yang dikatakan Ajeng memang tidak salah. Tapi apakah dengan begitu bisa membuat mereka bisa kumpul bareng lagi? Pasti nanti akan ada saja alasan yang membuat reuni mereka tidak lengkap seperti saat masih KKN. Talia takut kalau hal itu benar-benar terjadi di kelompok KKN mereka ini.

“Iya, nanti, kan, kita masih bisa ketemu. Tinggal WhatsApp aja, mau kumpul dimana,” tambah Karin yang sejujurnya juga tidak yakin dengan ucapannya sendiri.

Talia mengambil tissue yang diberikan Yesmin. “Kalau kalian sibuk gimana? Terus nggak bisa ikut kumpul gimana?”

Yesmin menghembuskan napasnya pelan, “Tal, kadang tuh, ya, apa yang kita takutkan di kepala kita, nggak akan seseram itu nantinya. Daripada meratapi sesuatu yang belum tentu terjadi, mending kita nikmatin aja apa yang ada saat ini. Seperti apa yang gue bilang sekarang, kejadian ini nggak akan terjadi dua kali, jadi lebih baik manfaatin aja sebaik-baiknya.”

Dear, KKNTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang