Level terendah dari rasa insecure adalah merasa tak layak untuk siapa pun, itulah Chiara. Gadis pendiam yang keberadaannya sering diabaikan orang lain. Eksistensinya tak pernah dianggap penting. Ada atau tidak ada dirinya sama saja. Namun, sifatnya...
Hari ini tepat satu tahun hubungan Erland dan Chiara berjalan. Keduanya berniat merayakan anniversary pertama mereka dengan makan bersama di sebuah kafe kecil yang tak pernah benar-benar sepi, tetapi selalu punya sudut tenang untuk dua orang yang ingin saling bercerita. Sejak pagi suasana hati Erland terlihat sangat bagus—terlalu bagus, bahkan—penuh senyum dan keramahan sampai Wizar dan Samudra dibuat merinding olehnya.
"Lo bakal gitu juga gak Sam kalau udah punya pacar?" bisik Wizar sambil menyikut pemuda jangkung di sebelahnya.
"Gak tau, tapi kayanya nggak." Samudra menyahut dengan raut wajah keheranan mengamati Erland.
Erland yang mereka kenal adalah Erland si minim ekspresi seolah tak ada emosi dalam jiwanya. satu-satunya ekspresi yang terpampang di wajahnya hanyalah ekspresi datar, mungkin karena itu pula ia diberi nama rimba batu. Banyak orang yang salah paham. Mereka mengira Erland dingin, sombong, atau tak punya rasa. Padahal yang ada justru sebaliknya. Saat orang lain panik, ia yang pertama berdiri. Saat keputusan harus diambil, ia tak goyah. Ekspresinya mungkin tak berubah, namun di baliknya ada keteguhan yang membuatnya bisa diandalkan. Chiara dan Yunike adalah contoh nyata orang-orang yang jatuh hati setelah melihat sosok Erland sebenarnya.
"Jomblo kaya kalian mana ngerti!" Kembali dengan wajah super datar dan tangan yang fokus mengetik sesuatu di layar ponsel, Erland membalas ucapan kedua temannya yang terang-terangan meledeknya.
Ya, Erland sedang bertukar pesan dengan Chiara dan sempat senyum-senyum sendiri yang membuat kedua temannya—meski sejak pacaran dengan Chiara mereka sudah sering melihatnya, mereka tetap tak terbiasa.
"Jomblo sih lo Zar, jadi gak ngerti. Sono cari pacar biar lo bisa senyum senyum sendiri gitu kaya orang sinting." Samudra meninju bahu Wizar.
"Belom butuh," kata Wizar cuek.
Mendengar jawaban Wizar, Erland spontan mengangkat wajahnya dan menatap Wizar dengan tatapan yang seolah berkata 'ck, gue lihatin dulu aja ya sampai lo jadi bulol melebihi gue'.
"Ngapain lo ngelihatin gue kaya gitu?" tanya Wizar sewot.
Erland tak menjawab, ia memilih untuk memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas lalu berdiri sambil merapikan bajunya.
"Bye para tuna asmara, gue mau ketemu ayang dulu." Di antara mereka bertiga, Erland memang yang paling sedikit berbicara, tapi sekalinya berbicara, kata-kata yang keluar akan menusuk sampai ulu hati.
Tanpa mempedulikan kedua temannya, Erland bergegas menuju parkiran. Dia harus pulang dan bersiap bertemu Chiara.
Sementara itu di tempat lain Chiara juga baru selesai dengan jadwal kuliahnya. Dia menyuruh Erland duluan ke kafe karena dia masih ada urusan di kampus.
Sambil membawa berlembar-lembar dokumen dalam sebuah map kertas berwarna merah, Chiara berjalan tergesa menuju gedung dekanat. Hari ini dia harus mendapat tanda tangan dekan dan wakil dekan untuk kegiatan yang akan diselenggarakan di jurusannya dan ini pertama kalinya Chiara terlibat dalam sebuah kepanitiaan, karena itulah dia masih belum terbiasa.
Tiga puluh menit kemudian barulah dia keluar dari gedung dekanat dengan wajah super lega. Ia melirik jam dan langsung bergegas sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dengan terburu-buru, alhasil dia hampir tersandung dan mapnya terjatuh.
"Lo dikejar siapa sih buru-buru gitu?" Belum sempat Chiara memungut kembali mapnya, tiba-tiba Yunike muncul entah dari mana, dan memungutnya lebih dulu—membuat Chiara mematung karena terkejut.
"Hai haloooo?" Yunike mengacungkan map di depan wajah Chiara.
"Ah, maaf makasih," kata Chiara canggung. Meski Yunike sudah berdamai dengan perasaannya, hubungan Chiara dan Yunike tak jauh berbeda seperti dulu, mereka masih asing untuk satu sama lain.
"Jalannya hati-hati, santai aja Erland pasti gak akan masalah kalau pun lo telat."
"Eh?"
Yunike terkekeh melihat wajah bingung dan terkejut Chiara. "Gue sempet ketemu Erland pas dia lagi beli boneka buat—oops, sori nanti lo pura-pura kaget aja ya kalau Erland ngasih lo boneka teddy bear gede."
Tanpa menunggu respon Chiara, Yunike langsung berlalu sambil melambaikan tangan. Rambutnya kini pendek sebahu, tetapi dia masih terlihat sangat cantik, bahkan di mata perempuan sekali pun.
Chiara terus memandang sosok Yunike yang berjalan penuh percaya diri. Ia bahkan sampai lupa bertanya kenapa perempuan itu berkeliaran di sekitar gedung fakultasnya.
Yunike memang tak lagi menjadi bayangan yang menakutkan. Ia kini hanyalah bagian dari masa lalu yang pernah mengajarkan Chiara untuk berani bertahan. Insecure itu masih ada—kadang datang diam-diam—namun Chiara tak lagi lari. Ia belajar berdiri di tempatnya sendiri.
Karena cinta, Chiara tahu sekarang, bukan tentang menjadi yang paling sempurna. Tapi tentang dipilih, setiap hari.
Setelah sosok Yunike tak terlihat lagi, Chiara tersadar dan segera memesan ojek online. Sebenarnya ia tidak terlambat dari waktu yang sudah ia janjikan, tetapi Erland sudah datang lebih dulu.
Dan benar saja, begitu Chiara tiba di kafe, sosok Erland sudah ada di sana. Duduk diam sambil menatap layar ponsel, di sampingnya ada boneka teddy bear besar persis seperti yang Yunike bilang. Tampak terlalu mencolok untuk seseorang seperti Erland—dan justru karena itulah Chiara tersenyum. Lelaki yang dijuluki minim ekspresi itu ternyata mampu mencintai dengan cara yang begitu hangat.
Perlahan Chiara berjalan menghampiri Erland yang segera menoleh begitu mendengar suara langkahnya. Erland tersenyum hangat menyambutnya, senyum yang hanya bisa ia tunjukkan pada orang terkasihnya.
"Udah nunggu lama?"
Erland menggeleng. "Gimana kuliahmu hari ini?"
Pertanyaan sederhana. Selalu itu. Selalu sama. Namun Chiara tahu, di situlah cinta mereka hidup—di percakapan kecil, di perhatian yang konsisten, di kehadiran yang tak perlu dibuktikan dengan janji berlebihan.
Satu tahun mungkin bukan waktu yang lama. Masa depan masih panjang, penuh kemungkinan dan tantangan yang belum mereka kenal. Tapi sore itu, di kafe sederhana dengan secangkir minuman hangat dan sebuah boneka besar, Chiara tahu satu hal dengan pasti:
Selama mereka memilih untuk saling tinggal, bukan sekadar datang maka cinta itu akan selalu menemukan jalannya. Dan Erland, dengan segala perhatian dan keteguhannya, adalah rumah yang selama ini Chiara cari.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Maaf agak lama epilognya huhu. But finally bisa bener-bener namatin cerita ini. Terima kasih yang sudah membaca kisah Erland dan Chiara sampai selesai.
See you in another story.
Btw kalau aku bikin lapak khusus buat teman-teman Erland, kalian mau baca punya siapa?