☾37☽ Belamour

940 116 6
                                        

"Kata Bu Eni, kemarin kamu diantar laki-laki?"

Pagi itu, Chiara baru saja selesai mencuci piring dan hendak kembali ke kamarnya ketika suara ibunya memotong langkahnya. Perempuan paruh baya itu berdiri di ambang pintu dapur, masih mengenakan tas belanja dengan aroma pasar yang khas.

Chiara menelan ludah, gugup. Padahal kemarin ia sudah sengaja turun jauh dari gang rumah, berharap tak ada yang melihat, tapi rupanya harapan itu sia-sia. Di lingkungan ini, satu langkah saja bisa jadi bahan laporan, dan seperti biasa selalu ada tetangga yang tak pernah melewatkan kesempatan jadi mata-mata sukarela.

"Teman SMA Chia," jawabnya cepat, mencoba terdengar santai. "Kebetulan rumahnya searah, jadi kita pulang bareng."

Ibunya menatap, lama. Terlihat bahwa ia tak sepenuhnya curiga, tapi juga jauh dari percaya. Chiara bisa merasakan tatapannya menembus permukaan wajahnya, mencari-cari celah dari ekspresi yang terlalu cepat ia susun.

Selama ini, ia nyaris tak pernah membawa teman ke rumah. Baik laki-laki maupun perempuan sebab ia memang tak pernah punya teman dekat yang bisa ia ajak. Entah kenapa, ada rasa takut yang otomatis muncul saat topik seperti ini dibahas. Ia tak tahu pasti bagaimana sikap ibunya soal pacaran, tapi nalurinya mengatakan lebih baik ia berhati-hati. Cukup sudah ia tak dapat restu dari teman-teman Erland, ia tak mau ibunya turut menambahkan drama pada hubungannya yang baru seumur jagung.

"Teman? Bukan pacarmu?"

Chiara mengerjap. Hatinya mulai berdebar tak karuan. Ia memang bukan pembohong ulung. Bahkan saat berusaha menutupi sesuatu, ekspresinya sering kali justru membocorkan kebenaran. Perlahan, ia menggeleng lemah, tak terlihat meyakinkan sama sekali.

"Mama lihat dia ada di depan gang. Mau pergi kamu sama dia?"

Chiara makin terkejut dibuatnya. Ia dan Erland memang sudah sepakat untuk pergi ke perpustakaan lagi hari ini, tapi seingatnya Erland tidak mengatakan apa-apa soal dia akan menjemputnya. Ia kira mereka akan bertemu langsung di sana, seperti sebelumnya.

"Mau ke perpustakaan," jawabnya, berusaha terdengar biasa saja meski jantungnya seperti ditabuh.

Kali ini ibunya menatapnya sesaat—masih dengan tatapan yang seolah ingin membedah isi pikirannya, tapi kemudian, tanpa sepatah kata pun, ia berlalu dan mulai mengeluarkan belanjaan dari dalam tas.

Chiara berdiri canggung di ambang pintu, menunggu kalau-kalau sang ibu ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi wanita paruh baya itu tampak benar-benar sudah mengalihkan fokus. Tak ada interogasi lanjutan.

Setelah beberapa detik memastikan situasi aman, Chiara buru-buru masuk ke kamar dan mengecek ponsel. Rupanya ada satu pesan dari Erland yang mengabari kalau dia sudah di dekat gang rumahnya.

Tanpa pikir panjang, Chiara segera bersiap. Ia membuka lemari dan memilih pakaian yang sederhana tapi rapi—tidak terlalu mencolok. Dalam diam, tangannya bergerak cepat, mengganti pakaian, memulas sedikit bedak dan lip balm, merapikan rambut, lalu menyemprotkan parfum tipis di pergelangan tangan dan leher.

Bukan untuk tampil sempurna—hanya ingin merasa percaya diri ntuk bertemu Erland dan menghabiskan hari bersamanya.

Selesai berdandan, ia berdiri di depan cermin. Matanya menatap bayangan diri yang tampak tenang di luar, meski hatinya masih menyisakan jejak resah. Ia menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri.

Lalu tanpa menunggu lebih lama, Chiara meraih tas, melangkah keluar kamar, dan pergi.

☾☽ ☾☽ ☾☽

"Makasih udah nunggu, maaf agak lama."

Erland tersenyum tanpa merasa keberatan sama sekali. Meski terik matahari nyaris membuatnya basah kuyup dengan keringat, ia tetap tenang dan menyambut gadisnya penuh kehangatan.

Belamour [ᴇɴᴅ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang