Hallo semuanya berhubung ini masih edisi khusus hari lebaran jadi author sedang mau bagi cerita free edisi spesial hari raya jadi silahkan di vote komen serta follow ya supaya semakin semangat dan seperti biasa bagi yang mau memberikan dukungan apresiasi jika suka dengan cerita edisi hari raya ini bisa langsung ke karyakarsa botythestar ya sekian terima kasih happyreading all.
Bagi Aris, kumpul keluarga besar di hari Lebaran adalah sebuah "uji nyali" sosial yang sangat ingin ia hindari. Bayangan tentang pertanyaan "Kapan lulus?", "Kerja di mana sekarang?", hingga "Mana calonnya?" sudah menari-nari di kepalanya seperti kaset rusak.
Pagi itu, Aris masih meringkuk di bawah selimut, mengabaikan suara hiruk-pikuk di lantai bawah.
Negosiasi di Balik Pintu
Ketukan pelan namun berwibawa terdengar di pintu kamarnya. Itu Papa. Aris tahu, jika Mama yang mengetuk, isinya pasti omelan. Tapi jika Papa, biasanya ada misi diplomatik.
"Aris, tamu-tamu sudah mulai datang. Om Hendra dan keluarga besarnya juga sudah di jalan," suara Papa tenang, tapi tegas.
"Aris kurang enak badan, Pa. Titip salam saja ya?" jawab Aris dari balik bantal.
Papa terdiam sejenak, lalu membujuk lagi. "Aris, Papa jarang minta tolong padamu. Tapi hari ini, Papa ingin kita lengkap. Kamu tahu kan, tahun ini Papa baru saja diangkat jadi ketua yayasan keluarga? Tidak enak kalau anak laki-laki satu-satunya malah sembunyi di kamar. Jaga nama baik Papa sebentar saja, ya?"
Kalimat terakhir itu seperti skakmat. Aris menghela napas panjang. Ia tahu betapa bangganya Papa dengan posisinya, dan betapa "sempurnanya" citra keluarga yang selalu dijaga Papa dengan kerja keras. Akhirnya, dengan berat hati, Aris bangkit.
Memasang "Topeng" Sosial
Aris berkaca. Ia mengenakan baju koko seragam berwarna biru muda yang sudah disiapkan Mama. Sambil merapikan rambut, ia bergumam, "Demi Papa, cuma dua jam. Habis itu kabur."
Saat ia turun ke ruang tamu, suasana sudah ramai. Bau opor ayam dan kue kering menyeruak.
Tantangan 1: Menghadapi Tante Lastri yang hobi membandingkan anak. Aris tersenyum sopan saat ditanya soal gajinya, menjawab dengan diplomatis, "Cukup untuk makan dan nabung, Tante."
Tantangan 2: Menghadapi sepupu-sepupu yang pamer gadget terbaru. Aris hanya mengangguk-angguk sambil sesekali melirik jam tangan.
Keajaiban Kecil di Pojok Ruangan
Di tengah rasa bosannya, Aris melihat Papa sedang tertawa lepas bersama adik-adiknya. Wajah Papa terlihat sangat bersinar—ada rasa bangga yang tulus saat ia memperkenalkan Aris kepada teman-teman lamanya.
"Ini Aris, anak saya. Dia sekarang sedang fokus merintis kariernya sendiri," ujar Papa sambil menepuk bahu Aris dengan mantap.
Melihat binar di mata sang ayah, rasa kesal Aris perlahan luntur. Ia menyadari bahwa kehadirannya di sini bukan sekadar soal menjawab pertanyaan basa-basi dari kerabat, melainkan tentang menghargai sosok pria yang selama ini berdiri tegak untuknya.
Akhir yang Tak Terduga
Malam harinya, setelah semua tamu pulang, Papa menghampiri Aris yang sedang santai di teras.
"Terima kasih ya, Ris. Papa tahu kamu tidak suka keramaian seperti tadi. Tapi kehadiranmu tadi sangat berarti buat Papa," ucapnya tulus sambil menyodorkan segelas teh hangat.
Aris tersenyum tipis. "Sama-sama, Pa. Ternyata nggak seburuk yang Aris bayangkan juga, sih."
Meskipun besok ia akan kembali menjadi pemuda yang introvert dan menghindari keramaian, setidaknya hari itu Aris belajar bahwa menjaga nama baik keluarga terkadang hanya butuh satu hal sederhana: kehadiran.
