Lama sekali Raisa tercenung di ujung sebuah makam. Air mata telah berhenti mengalir hanya meninggalkan jejak yang masih terlukis pada pipi tirusnya. Tangan lentik nan putih itu sejak tadi masih kuat bersandar di batu nisan, menorehkan nama yang dirindu.
Apa lagi kini arti dari sebuah kerinduan? Jika tak lagi menemukan sosok yang dapat memudarkan rasa itu. Jangankan menemukan, bakhan melihat wajahnya dari kejauhan saja kini ia tak bisa. Wajah itu telah mendekam dalam sunyi, terbalut kegelapan tiada akhir. Senyumnya telah memudar, dan tak lagi dapat terlintas sedikitpun.Menghilangkan semua bahagia di hati Raisa, baginya kini tak ada lagi alasan untuk ia bertahan dalam getirnya kehidupan yang penuh kecongkakkan ini. Kepalsuan demi kepalsuan mulai terkuak di hati para manusia yang bergelar saudara, dahulu. Ketika nisan mulai tertancap satu persatu para manusia itu mengukir senyum yang semula sengaja diulum, menghapus cairan-cairan bening yang semula bersandar pada ujung mata.
Siasat mereka mulai bermain di atas catur kehidupan yang dengan apik telah mereka susun sebelumnya. Pembagian harta warisan. Pembagian beberapa petak tanah untuk masing-masing manusia. Padahal jelas, tak pernah sedikitpun wasiat itu terlontar dari mulut yang telah tiada ini. Naif! Tanah pekuburan belum saja kering setitikpun namun mereka sudah bersorak kegirangan atas pembagian tanah.
Biarkan, nikmatilah tanah itu sepuas kalian. Perebutkanlah. Itu adalah tanah yang kelak akan menjadi tempat kalian bersandar di hari tua nanti, tanpa teman, tanpa saudara, tanpa harta yang semula kaliam perebutkan. Di saat itu telah terjadi maka akan kusirami bensin di atas makam kalian, hingga kalian di bawahnya habis hanggus tanpa sisa. Dan aku, akan bersorak kegirangan.
"Apa wanita itu masih waras?"
Salah seorang penjaga pemakaman yang sejak tadi memerhatikan, mulai angkat bicara pada temannya yang sejak tadi asik menatap layar televisi di pos penjagaan."Kufikir juga begitu," jawabnya tanpa beralih sedikitpun.
"Apa tidak sebaiknya kita suruh dia pergi saja? Karena sejak tadi aku melihatnya menagis lalu tertawa, menagis lagi lalu tertawa lagi,"sambil melirik jam yang melingkar pada lengan kanannya. "Sudah sejak pagi, sampai menjelang malam begini?" Lanjutnya seraya gelengkan kepala.
"Sudah biarkan saja. Mungkin dia terlalu terpukul atas kepergian orang itu yang mungkin berarti dalam hidupnya." Tatapannya kini mulai berpaling menatap wanita muda itu yang dia duga berkisaran usia kepala dua-an. Wajah cantiknya mulai lusuh tanpa sinar. Pipi tirusnya yang putih pucat terlihat lemas tanpa daya. Dari segi manapun jika diperhatikan dia memang cantik. Hanya saja betul memang tak waras.
Ya, sebuah kehilangan memang terkadang membuat pagi cerah menjadi halilintar menyambar tubuh. Lemas, tanpa daya. Membuat jiwa terasa keluar dari raga, melayang tanpa tepi. Ah, ia ingat akan kepergian istinya beberapa tahun lalu. Ketika berjuang melahirkan putrinya yang kini telah duduk di bangku tiga sekolah dasar. Perjuangan itu menimbulkan bahagia dan duka tanpa tepi sekaligus. Membuat hatinya kini selalu perih ketika senyuman sang istri kembali bergelayut dalam benak. Tak ada yang mampu dapat ia berikan selain kiriman yasin dan al fatihah di penghujung sujud-sujudnya.
******

KAMU SEDANG MEMBACA
Hati yang Beku
RomanceKetika hati tak mampu bicara atas segala yang menganggu fikiran. Maka butiran bening yang mengisyaratkan semua rasa. Dan tak perlu waktu lama luapan yang mengganjal hati terlepas tanpa sisa. Namun rasa itu tetap tak pernah pudar. Jika wajah tak kun...