The End or ...

1.9K 103 1
                                        


The end, Min Yoongi. Selesai sudah semuanya,batin Yoongi sambil memandang diam pada punggung sempit yang sedang berdiri membelakanginya saat ini, menyibukkan diri dengan membuang makanan di piring maupun mangkuk ke dalam tempat sampah.

Siapa yang peduli kau komposer jenius atau apapun itu, Yoongi menghela napas pelan nyaris tanpa suara. Kau cuma orang tolol yang selalu mengulangi kesalahan bodoh yang sama, sepasang mata tajam tersebut menerawang sejenak ke tempat lain, sekedar untuk mengalihkan perhatian ketika rasa sesak mulai menyergap menyiksa dadanya.

Jangan berharap kali ini kau diampuni, Yoongi menahan diri sekuat mungkin, namun tetap saja sesak tersebut mencekik hingga ke tengah-tengah lehernya saat dilihatnya lagi punggung yang terikat celemek yang seolah tidak punya keinginan untuk berbalik memandangnya itu-meski Yoongi yakin seratus persen orang tersebut sadar jika dia sedang diperhatikan.

Jangan bertingkah seperti bayi dan berlagak kaulah yang paling sakit, Yoongi menggigit bibir bawahnya. Ini semua salahmu dan kau harus siap dengan semua akibatnya. Namja mungil tersebut memandang sosok mungil yang mulai menyalakan kran, mencuci alat makan dalam diam, membiarkan suara berisik air menjadi satu-satunya yang mengisi jarak dan keheningan di antara dirinya dengan Yoongi.

Menit berlalu.

Satu per satu alat makan sudah bersih dan diletakkan di rak pengering.

Yoongi memandang setiap perangkat pecah belah tersebut dengan mata sayu.

Ada sebuah mangkuk bening ukuran besar. Pasti itu tempat meletakkan buah-buahan. Ada gelas kaca dengan pegangan ramping layaknya kaki SNSD. Tempat menuangkan wine, sudah pasti. Mangkuk ukuran medium. Kemungkinan ada sup yang ikut tersaji. Dan piring datar. Tempat paten untuk steak.

Mata Yoongi meredup. Teringat olehnya orang itu sangat suka memasak steak. Dia begitu telaten dan menikmati semua keribetan memilih daging, memanggangnya sendiri hingga empuk, membuat saus, sampai mendekor cara penyajiannya. Membayangkan dirinya yang berkutat berjam-jam di dapur menyiapkan semua skenario makan malam ini sendirian, membuat Yoongi menutup mata sebab semua oksigen di dalam dadanya mendadak menghilang dan membuat kedua matanya terasa panas.

Ketika Yoongi membuka mata, sosok mungil tersebut hampir selesai mencuci semua perkakas makan, dia mematikan kran lalu mengeringkan tangan di handuk yang diletakkan tak jauh dari westafel dan melepas ikatan celemek yang berada di pinggangnya. Saat namja itu berbalik, matanya tidak memandang Yoongi sama sekali, dia juga berjalan melewati Yoongi begitu saja seolah namja berkulit pucat tersebut tidak berada di sana-berdiri di pintu dapur sedari tadi memperhatikannya.

"Maaf, Jiminie..." suara Yoongi keluar begitu lirih, singkat, dan dia sendiri tidak yakin jika Jimin akan mendengarnya. Namun karena suasana di sekitar mereka sangat sunyi, suara serak itu menggema lumayan keras menyapa gendang telinga Jimin. Tapi seperti sebelumnya, namja mungil tersebut masih bergeming tidak memandang Yoongi sama sekali dan tetap melangkah menuju pintu depan.

Yoongi menundukkan kepala.

Jimin tidak menjawabnya. Jimin yang biasanya mengomel dan mencak-mencak dengan nada tinggi setiap kali dia marah, kali ini tidak bicara sepatah kata pun dan juga tidak memandangnya. Jimin tidak marah padanya, tapi dia SANGAT MARAH padanya.

Semua sudah berakhir.

Yoongi bermaksud untuk mengatakan banyak hal. Tentang keterlambatannya. Tentang kesibukannya yang membuatnya lupa padadinner anniversary mereka. Tentang kebiasaannya yang selalu mematikan ponsel ketika bekerja-you know, old habits die hard-Yoongi bermaksud untuk mengatakan semua itu, tapi lidahnya menghentikannya dan hatinya mengatakan jika semua penjelasan tersebut hanya akan menjadi seperti alasan yang dipaksakan bagi Jimin. Sebab, sejatinya Jimin tahu bagaimana keseharian Yoongi. Bagaimana pekerjaan, kesibukan, serta tekanan yang selalu dihadapi oleh namja itu hingga membuat lemak di dalam tubuhnya sukar bertambah akibat dimakan oleh insomnia dan kurangnya istirahat-tidak peduli sebanyak apapun Jimin memberinya makan.

BTS ShortStory Collection (Indo)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang