Setelah mendapat ancaman dari Seungcheol, maka di sini lah mereka berada sekarang, di Keukenhof, teman bunga terbesar di dunia. Tempat yang memang tidak boleh dilewatkan jika datang ke negara kincir angin ini.
Jeonghan sudah pernah pergi ke sini tentu saja. Tetapi hanya menjadi pengunjung biasa, bukan menjadi seorang tour guide, apa lagi untuk sosok pria tampan di sebelahnya.
Jeonghan memejamkan matanya pelan. Setidaknya penderitaan ini hanya akan berlangsung selama tiga hari. Seungcheol sudah berjanji bahwa setelah tiga hari dia akan keluar dari rumah Jeonghan dan Jeonghan akan kembali mendapatkan kehidupan normalnya lagi.
"Daebak! bunga tulip di sini benar-benar cantik. Tidak salah kita pergi ke sini," Ucap Seungcheol dengam mata berbinar.
"Hei, hei Jeonghan-ah kau lihat bunga itu? Waaah aku bahkan belum pernah melihatnya? Ayo kita harus ke sana!" Dengan semangat Seungcheol menggenggam tangan Jeonghan dan menarik pria cantik itu untuk melihat bunga yang dia maksud.
Jeonghan yang awalnya terkejut dengan tingkah Seungcheol kemudian tersenyum kecil.
Melihat Seungcheol yang bertingkah seperti ini mengingatkannya pada masa lalu di mana mereka masih bersahabat.
Seungcheol terlihat sangat bersemangat, wajahnya penuh dengan senyuman, tingkahnya sungguh seperti anak-anak. Jeonghan sungguh merindukan sosok Seungcheol yang ini.
Tanpa sadar Jeonghan mengembangkan senyumnya, sepertinya bersenang-senang seperti pria itu boleh juga. Lagipula hanya untuk tiga hari kan. Setelah tiga hari itu maka kehidupannya akan kembali seperti semula. Kembali tanpa Choi Seungcheol di sisinya.
Maka dengan itu Jeonghan mengeratkan genggaman tangan mereka dan ikut berlari dengan pria tampan itu.
.
.
.
.
.
Kedua pria dengan wajah rupawan itu mendudukan diri di kursi taman Keukenhof, beristirahat guna memulihkan tenaga setelah mengelilingi seluruh taman.
Tiba-tiba saja Seungcheol berdiri, "Tunggu lah di sini, aku akan membeli minuman," Melangkahkan kakinya menuju mesin penjual minuman otomatis yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Tak lama setelah itu Seungcheol datang membawa dua kaleng jus jeruk yang terlihat sangat menggoda di mata Jeonghan.
Dia menyerahkan sekaleng jus pada Jeonghan yang dengan semangat meminum minuman dingin itu.
Tapi tiba-tiba Seungcheol mengulurkan tangannya pada Jeonghan.
Jeonghan mengerjabkan matanya.
Tampak di depan wajahnya, di dalam genggaman Seungcheol terdapat tiga tangkai mawar merah yang masih segar.
Jeonghan menolehkan wajahnya menghadap Seungcheol. Menatap si mantan tunangan dengan wajah bertanya.
Mengerti maksud dari tatapan Jeonghan, Seungcheol tersenyum lembut. Merapikan rambut panjang Jeonghan yang sedikit berantakan.
"Tadi ada anak kecil yang menjualnya,"
"Lalu?" Tanya jeonghan masih tidak mengerti.
Seungcheol terkekeh kecil, "Anggap saja sebagai ucapan terimakasih ku karena sudah menemani ku hari ini," Masih dengan senyum yang terpampang di wajahnya, "Oh tapi tugas mu sebagai tour guide ku masih belum berakhir,"
Jeonghan menatap bunga mawar itu. Dengan pelan mengambilnya dari genggaman Seungcheol. Jeonghan sungguh tidak mengerti harus berekspresi seperti apa sekarang.
Memang bukan pertama kalinya Jeonghan mendapatkan bunga dari Seungcheol. Di setiap hari kelulusan sekolah Seungcheol memang selalu memberikannya bunga. Bahkan di hari ulang tahunnya Seungcheol selalu menyertakan sebuket bunga dengan tambahan hadiah lain. Sampai sekarang Jeonghan tidak tahu entah kenapa pemuda tampan itu sangat senang memberikannya bunga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Love You
FanfictionJeonghan memang pria yang naif. Padahal sudah jelas Sengcheol tidak mencintainya, tetapi dia tetap menunggu.
