Seungcheol duduk dengan tenang di ruang tamu rumah Jeonghan. Menunggu pria cantik itu bersiap-siap untuk kencan mereka malam ini.
Sudah seminggu sejak kejadian di mana Seungcheol menemui Jeonghan di Belanda untuk meminta maaf dan memberikan kesempatan kedua untuknya. Tak selang berapa hari setelah percakapan mereka di malam penuh air mata itu mereka memutuskan untuk kembali ke Korea.
Jeonghan memang memutuskan untuk kembali, namun hanya untuk sementara. Dia hanya akan berada di kota kelahirannya sampai masa liburan musim panasnya selesai. Bagaimana pun Jeonghan masih memiliki kewajiban untuk melanjutkan kuliahnya yang sudah berjalan satu tahun.
Langkah kaki mengalihkan pandangan Seungcheol yang semula terpaku pada layar ponselnya ke arah dapur dan dia melihat ibu Jeonghan -Lee Hee Sook- berdiri dengan senyum hangatnya sambil membawa nampan yang berisi secangkir teh hangat.
"Maaf membuatmu menunggu lama Seungcheol-ah. Kau tahu sendiri jika sedang bersiap-siap Jeonghan memang memerlukan waktu yang sidikit lebih lama," Hee Sook meringis kecil. "Sekarang minumlah teh mu dulu."
Seungcheol tertawa kecil. Ucapan ibu Jeonghan sepenuhnya dapat dia mengerti. Dari dulu memang pria cantik itu selalu seperti ini. Selalu membuat Seungcheol menunggu lama jika ingin mengajaknya pergi.
"Seungcheol-ah," Seungcheol memandang wajah cantik ibu Jeonghan yang sekarang menatapnya serius. "Kali ini jangan kau sakiti anak ku lagi, ya." Seketika rasa bersalah Seungcheol yang sudah dia buang di Leiden kembali muncul. Perkataan Hee Sook seolah menghantam hatinya dengan telak.
Seungcheol memang sudah meminta maaf pada wanita setengah baya ini atas perlakuan buruknya terhadap Jeonghan. Bahkan sebelum keberangkatannya ke Leiden Seungcheol membungkuk dalam meminta dengan tulus maaf dari kedua orang tua Jeonghan. Bahkan dia juga menerima kepalan tinju dari ayah Jeonghan. Dan walaupun Seungcheol tahu mereka pasti akan memaafkan kesalahan Seungcheol, tapi pria itu juga tahu masih ada sedikit rasa takut di hati keduanya untuk kembali mempercayakan putra berharga mereka kepada lelaki yang dulu sudah menyakiti Joenghan. Tidak ingin kembali melihat Jeonghan terpuruk akan sosok Seungcheol dan berakhir kembali mengasingkan diri ke tempat asing.
Seungcheol menatap mata ibu Jeonghan dengan pandangan serius, kemudian menggenggam tangan orang yang memang sudah dia anggap seperti ibunya itu dengan lembut. "Bibi percayalah pada ku, aku tak akan mengulangi kesalahan ku yang dulu. Jika aku kembali melakukannya bibi tak perlu membunuh ku, aku sendri yang akan membunuh diri ku."
Sorot keseriusan di mata Seungcheol membuat Hee Sook menampilkan senyum keibuannya. Dia akan menyimpan janji Seungcheol. Baginya dan suami kebahagiaan Jeonghan adalah nomor satu. Dan bila dengan berada di sisi Seungcheol anak mereka dapat merasakan kebahagiaannya maka mereka tidak akan menghalanginya.
Melihat Hee Sook hanya tersenyum tanpa mengatakan sepatah kata pun Seungcheol mengeratkan genggaman tangannya pada jari-jemari tua wanita itu, "Bibi, sekali ini saja percayalah dengan ucapakanmu. Aku janji tidak akan melakukan menyakiti Jeonghan lagi."
Hee Sook tertawa geli. Wajah memohon Seungcheol terlihat sangat menggelikan di matanya. Bahkan suaranya sudah terdengar merengek. Sudah lama sekali dia tidak melihat anak sahabatnya ini berkelakuan seperti ini.
"Bagaimana ibu ku bisa percaya dengan ucapan mu jika sekarang saja kau sudah melukai hati ku lagi. Bisa-bisanya kau selingkuh dengan ibu ku sendiri di depan mata ku."
Suara kekehan Hee Sook hilang setelah mendengar suara Jeonghan di belakangnya. Seketika Hee Sook dan Seungcheol mengalihkan pandangan mereka ke wajah merengut Jeonghan. Sepertinya pria cantk itu sudah siap untuk kencannya malam ini. Dengan kemeja biru dongker berlengan pendek yang dia gulung hingga ke lengan atasnya dan juga bagian bawah kemeja yang sedikit dia masukan ke dalam celana jeans hitamnya sungguh membuat pria cantik itu tampil sempurna. Apa lagi ditambah dengan rambut panjangnya yang sekarang berwarna hitam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Love You
FanfictionJeonghan memang pria yang naif. Padahal sudah jelas Sengcheol tidak mencintainya, tetapi dia tetap menunggu.
