1. What the hell?

59 7 2
                                        

Don't stop - 5 Seconds of Summer

Aku membungkukan badanku untuk meraih buku-buku yang berserakan di lantai lalu menatanya kembali ke dalam rak. Ini semua karena si keriting Bradley Styles, dia tadi menyenggol ku secara tiba-tiba dan cukup keras. Sudah menyenggol, tidak meminta maaf pula. Dikiranya perpustakaan ini lapangan lari?

Maafkan aku, ini permulaan yang cukup buruk karena aku membukanya dengan mengomel, haha. Oh, namaku Olivia Claresta Flanches. Aku sedang menikmati awal tahun seniorku. Yeah, aku baru saja naik ke kelas dua belas yang tandanya, tahun depan aku tidak akan menginjakan kaki di Andresen High School. Bersorak! Bersorak! Aku sangat menantikan saat dimana aku akan naik keatas podium dan membacakan pidato terbaiku, setelah itu aku tidak akan melihat anak-anak paling memualkan bagiku di sekolah ini. Kuberi tahu, aku ini cukup populer–bukan bermaksud untuk sombong, sekedar memberi tahu, tapi aku tidak suka dengan anak-anak yang level kepopulerannya melebihiku. Hey! Aku tidak sirik dengan mereka. Biar kuberi tahu siapa saja yang menyebalkan menurutku.

Harry Simpson dan kelompoknya yang beranggotakan Zayn, Liam, Louis juga Niall. Mereka ini kelompok pembuat masalah yang selalu berkumpul di ruang konseling sepulang sekolah karena ulah mereka. Aku paling tidak suka dengan Louis dan Zayn, demi Tuhan suara mereka melengking dan aku membencinya. Aku tidak terlalu memperhatikan mereka omong-omong, yang oaling mencolok bagiku adalah Harry. Dia itu diam dan...
seksi? Tapi tetap saja menyebalkan sama seperti teman-temannya!

Bradley Styles dan kelompoknya. Dia itu sama saja seperti kelompok Harry. Berisik dan menyebalkan. Bradley itu perayu paling ulung di seantero sekolah Andersen. Mantan kekasihnya juga dari kalangan anak populer, dia bahkan pernah memacari Clover, juga teman-teman satu kelompok Clover. What a player he is.

Sebelas bulan lagi–atau mungkin bisa kurang, aku sudah tidak akan berada di sekolah ini. Dan tidak akan oernah melihat orang-orang menyebalkan. Yeah, aku sangat menantikan hari itu

+++

"Apa lihat-lihat, Flanches?"

Aku memutar bola mataku malas, lalu melenggang pergi. Mengabaikan gertakan yang barusaja dilontarkan Liam padaku. Benar-benar pagi hari yang tidak menarik. Terlebih aku belum menemukan tempat duduk kosong di kantin ini untuk kududuki. "Olivia!"

Aku menepuk keningku. Jujur aku tidak habis pikir mengapa pagi ini aku begitu sial. Dengan terpaksa aku menghentikan langkahku lalu memutar balik tubuhku. "Kau mau apa?"

"Tenang, love. Aku tidak mau apa-apa darimu. Kenapa kau tidak duduk disini saja bersama kami?" Hah? Si keriting nomor dua ini pasti bercanda. Bradley Styles? Mengajak aku duduk bersama mereka? "Kau kenapa? Kapan lagi duduk bersama empat pria tampan seperti kami?"

"Dia tidak akan duduk bersamamu." Brengsek. Apa lagi ini? Harry barusaja menarik pergelangan tanganku untuk mundur, mensejajarkan posisiku dengannya. "Karena Olivia akan duduk denganku."

"Keren Simpson. Kau tidak tahu siapa aku ya?" Bradley berdecih lalu menatap sengit Harry. Sedangkan lelaki keriting nomor satu di sebelahku ini tidak membalas Bradley, melainkan wajahnya tetap terlihat dingin dan angkuh. "Aku tidak butuh tahu siapa kau."

"Aku hanya ingin duduk bersama Olivia. Mengerti? Atau aku tidak akan segan melakukan hal buruk padamu." Kali ini Harry membalas Bradley dengan telak. Aku dapat melihat bahwa Bradley berusaha menyembunyikan kekagetannya ketika mendengar ucapan Harry yang pelan namun menusuk.

Selanjutnya, Harry menyeretku untuk menuju tempat duduknya bersama kelompoknya. Sial, aku benci seperti ini. Seandainya Mia tidak harus kembali ke Jerman karena urusan keluarga, aku pasti tidak semiris dan sendiri seperti sekarang. Mia adalah sahabatku satu-satunya dan tanpa dia aku merasa ingin menghajar semua orang di sekolah ini, saat ini, nama Harry Simpson berada di urutan nomor satu dalam daftar 'orang-orang yang ingin kutonjok'

Bagaimana tidak? Dia menyeretku untuk duduk bersamanya tapi dia malah mengacuhkanku dan sibuk bercanda dengan teman-temannya. Ini semua sungguh membingungkan. Bradley dan Harry satu hari penuh ini memenuhi kepalaku yang rasanya ingin meledak saat ini.

Are We Switched?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang