Gadis Bermata Kenari

9.6K 726 136
                                        

Dulu aku tidak terlalu yakin dengan kekuatan doa. Sampai ketika aku sendiri menyerah untuk mendoakan gadis itu. Bukan karena tiba-tiba aku yakin begitu saja. Tapi karena aku tak tahu lagi bagaimana dan pada siapa aku harus menyatakan perasaanku.

Gadis itu selalu hadir dalam mimpiku. Rambut kecoklatannya melambai-lambai diterpa angin. Mata kenarinya merayu-rayuku untuk terus mengejarnya. Meski ia terus berlari menjauh dariku. Namun seolah matanya, rambutnya, gerak tubuhnya berbisik ... Meminta angin menyampaikannya padaku untuk terus mengejarnya.

Baru kali itu ada satu orang yang terus-menerus menghampiri mimpiku. Konstan. Membuatku tak bisa membebaskannya dari pikiranku.

Dia adalah wujud cinta yang hanya dapat kuungkapkan melalui doa. Karena ia hanya ingin dikejar, tapi tak ingin digenggam. Ia terlalu takut jika aku menggenggamnya. Ia terus berlari menjauh dariku. Semakin kukejar semakin ia menjauh. Jika aku berhenti mengejar, ia berhenti berlari. Diam menatapku. Maka aku berdiam diri sejenak, menatapnya dari kejauhan, agar ia tidak hilang dari pandanganku. Sehingga aku tahu dia selalu baik-baik saja.

Lalu kusematkan doa itu. Kuminta pada semesta agar ia baik-baik saja tanpa harus kulindungi dengan genggamanku.

Angin berbisik padaku bahwa separuh dirinya hancur dan ia sudah tak tahan lagi hidup hanya dengan separuh jiwa. Mendengar bisikan angin tersebut, justru separuh diriku retak. Sakit. Pedih. Dan aku memahami perasaannya, bahwa mati lebih baik daripada merasakan sakit ini. Namun aku tak ingin seperti dirinya yang menyerah begitu saja.

Aku terus berlari mengejarnya. Mencarinya. Aku harus menemukannya. Hanya ia yang mampu membuat separuh diriku merasa utuh. Aku tak ingin kehilangannya lagi. Aku tak ingin menatapnya dari jauh lagi.

Dan ketika ia telah lelah berlari, aku meraih jemari tangannya. Kutautkan jemariku padanya. Mengungkapkan segala yang kurasakan yang biasanya hanya bisa kuungkapkan lewat doa. Doa-doa itu berubah menjadi bisikan yang dihantarkan melalui angin, melewati lembar demi lembar rambutnya, menyusup ke pori-pori kulitnya hingga sampai ke kalbunya.

Gadis bermata kenari, kamu rupanya yang ditakdirkan semesta untuk membuatku merasa utuh. Aku adalah orang yang ditakdirkan semesta untuk melengkapi jiwamu lagi ... Jangan berlari. Jika kamu ingin tetap berlari, berlarilah bersamaku. Kamu tidak lagi sendirian.

***

A/N: hahahah kalian pasti tau ini siapa. Aku lagi kangen banget sama pasangan ini. Kenapa aku nggak mau bikin extra part? Aku males bikin yang manis-manis kayak gulali. Justru kesenanganku menulis pasangan ini adalah ketika mereka saling berjauhan. Kisah pasangan ini menurutku adalah yang paling romantis yang pernah kutulis. Nggak ada yang bisa ngalahin ungkapan perasaan melalui doa di malam hari. Dan gimana cara mereka selalu ngobrol tengah malam karena sama-sama kebangun. Gimana salah satunya nelangsa karena kehilangan yang satunya. Tapi pada akhirnya toh ia menemukan jawaban dari hati terdalamnya siapa yang benar-benar ia inginkan.

Udah ah, jadi baper. :p

Kertasburam (Rasa)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang