Gadis itu dengan lihainya menunjukkan aksi hebatnya, ditemani sebatang tiang besi yang berdiameter cukup kecil. Kakinya bertumpu kuat pada tiang itu, sehingga tubuh si gadis dengan fleksibel¹ dapat diliuk-liukkan. Bahkan, ia dapat memutar posisinya--dari kaki yang berada di bawah menjadi berada di atas--saat itu juga. Semua aksinya ia lakukan dengan cukup mudah, karena memang ia merupakan penari yang mahir.
Pole dance atau yang lebih dikenal dengan tari tiang adalah beberapa aksi atau gerakan tari yang dilakukan dengan atau di atas media tiang. Pole dance lebih mengutamakan atraksi daripada keindahan. Karena, ya, memang gerakan-gerakannya terlihat lebih menjurus ke sebuah atraksi daripada tarian.
Dan gadis itu, merupakan salah satu penari tiang yang handal dan berpengalaman, walaupun ia masih menduduki bangku SMA.Setelah selesai melakukan atraksi, gadis yang bernama Nadine itu melirik ke arah luar jendela tempat ia berlatih pole dance selama ini. Di seberang jalan, nampak seorang cewek dan cowok sedang berjalan keluar dari salon kecantikan. Si cewek nampak antusias menggandeng cowok--yang mungkin adalah pacarnya.
Senyum kecilnya terukir setelah melihat kejadian itu. Pikirannya membaur dan suara di sekitarnya menggema.
"Nadine?" sebuah pertanyaan yang bersumber dari belakang tubuh Nadine mengecohkan pikiran cewek itu. Nadine menoleh dan tersenyum, "kenapa lo?" tanya cewek itu lagi.
"Gak papa," Nadine menggeleng, telunjuknya diarahkan pada sepasang kekasih yang nampak sedang memasuki mobil BMW warna hitam itu. "lucu aja, ngeliat mereka."
"Gue kirain apaan!" sesalnya seketika. "oh iya, latihan lagi hari Selasa siang, ya? Jam dua-an. Kata coach-nya, ngejar waktu karena lombanya juga gak lama lagi."
Nadine termenung, "Eh, gue ada rapat pengurus OSIS, nih. Kayaknya rapat sampe siang, deh, soalnya pengumpulan LPJ² sama proposal harian. Terus gimana, dong?"
"Kalo lo izin aja, gimana? Soalnya, lomba kita tinggal delapan hari lagi, loh. Tingkat provinsi lagi. Kata coach harus dimatengin gerakan-gerakannya."
"Yaudah, deh," Nadine mengangguk. Cewek itu tersenyum dan kembali ke ruang utama untuk beristirahat. Nadine menolehkan kepalanya lagi ke arah jendela, dan pemandangan yang tadi ia lihat kini sudah lenyap. Pasangan itu sudah melesat menggunakan mobil sang cowok.
Nadine memalingkan pandangannya dan kembali ke ruang utama.
•-•-•-•-•
"Eh, Ali lagi deket sama salah satu anak kelas sepuluh, tau, Nik."
Niki yang sedang melahap sandwichnya itu menoleh pada sang teman yang barusan berbicara. Alisnya terangkat satu, "Oh, gue tau."
"Lo tau?" tanya cewek berambut ikal dengan bando yang melingkar di kepalanya itu seraya duduk di hadapan Niki.
"Tau, lah. Namanya.. Prilly-Prilly itu, kan?"
"Iya. Katanya udah deket banget, tau, sampe setiap hari telponan sampe berjam-jam!" seru teman Niki tersebut.
Niki memutar bola matanya, "Dhea! Please, lo jangan ngomongin tuh kupret satu. Gue jengkel, tau, sama dia! Sok cantik gitu," tekannya.
Teman Niki yang bernama Dhea tersebut mengangguk-angguk. "Berarti, lo punya saingan baru, nih,"
"Saingan? Yakali. Sorry, ya, dia bukan saingan yang sepadan sama gue!" elak Niki dengan senyum sinis khasnya. Ia menambahkan, "Ali tetep care, tuh, sama gue! Nyatanya, kemarin dia nemenin gue hang out. Jadi, gue pikir, Prilly cuma sebatas fans buat Ali."
"Tapi, kalo sebatas fans dan idola, kenapa setiap hari telponan?" tanya Dhea, yang malah memancing emosi Niki.
"Stop, stop! Udah, jangan ngomongin hal ini terus. Gue eneg, tau. Biarin aja si Prilly kegatelan, yang penting Ali tetep cintanya sama gue. Paham?"

KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Born To Be Yours
FanfictionSebelumnya, aku tak pernah terlibat dalam kisah cinta yang serumit ini. Aku tak pernah bisa mengendalikan jantungku yang kadang berdetak dengan frekuensi ekstra cepat. Namun, kamulah yang mengajarkanku bagaimana cara menjalani hidup dengan cinta. Ka...