Desiran angin membuat Ali yang sedang duduk di teras rumahnya itu termenung. Kesunyian seakan mengepung dirinya di tengah hingar bingar keadaan sebenarnya. Rumah yang biasanya dalam keadaan ramai, kini berubah sunyi karena kesibukan masing-masing.
Tiba-tiba, sebuah lengkungan indah terbentuk di bibir Ali. Senyum manisnya yang dapat meluluhkan bidadari manapun itu ia tunjukkan karena saat ini ia sedang memiliki ide yang bagus untuk mengisi kesenyapan harinya.
Ali meraih iPhone yang terkapar pada meja di sampingnya. Dihidupkannya iPhone yang mati itu, kemudian ia membuka contact dan mencari sebuah nama di sana. 'Prilly' adalah satu nama yang ditujunya sekarang ini, untuk menghibur dirinya di tengah kesepian yang melanda.
at phone
Nb: yang di italic itu Prilly."Halo, Ly?" sapa Ali, membuka percakapan pada sambungan telepon ini.
Tampak dari seberang sana Prilly menjawab, "Iya, Kak Ali. Ada apa, Kak?"
"Gak papa. Kangen."
"Kangen? Ah kak Ali mah.."
"Iya, kok. Emang gak boleh?"
"Boleh, sih, hehe."
"Ly, lagi apa?"
"Lagi tiduran aja, nih. Kak Ali?"
"Lagi di teras. Rumah sepi, nih. Pada pergi."
"Oh, gak minta temenin kak Kirun sm kak Kevin aja?"
"Gak, rumah mereka jauh, Ly."
"Wkwkwk iya juga yaa.."
"Kamu aja sini nemenin aku!"
Prilly tergelak mendengar ucapan Ali. Ia yang semula hanya tiduran kini bertambah aktif. iPhone yang bertengger di telinga membuat dirinya tak bisa berhenti bergerak. Dari mulai berada di ranjang, berpindah ke cermin seraya melihat-lihat alat make upnya, kemudian berpindah ke jendela dan duduk bertengger dalam jangka waktu yang cukup lama, kemudian kembali lagi ke ranjang dan loncat-loncatan di atas spring bed. Semua itu ia lakukan karena keasyikan bertelepon dengan Ali.
Hingga akhirnya, mereka tersadar. Mereka sudah teleponan selama kurang lebih dua jam. Tak tahu mengapa mereka bisa betah bercengkerama lewat telepon sampai selama itu. Ataukah karena mereka berdua sama-sama kesepian dan tidak punya kerjaan alias kuker.
Back to phone.
"Kak, udah jam segini, nih. Aku mandi dulu, ya?"
"Oke. Hehe, gak kerasa, ya? Udah dua jam aja..,"
"Iya. Kerasanya cuma sepuluh menit."
"Yaudah. Sana, mandi. Aku juga mau mandi, nih,"
"Sip. Bye, Kak.."
Prilly menutup teleponnya. Senyumannya terukir sempurna, menunjukkan perasaan hati yang tak terduga. Kemudian ia turun dari spring bed dan menyambar handuk untuk mandi karena jam telah menunjukkan pukul 16.42.
•-•-•-•-•
Gritte mengerutkan dahinya, memandangi Prilly yang dengan tekun mencatat rumus-rumus kimia yang dituliskan oleh Pak Delvi di papan tulis. Padahal, catatan itu hampir saja memenuhi papan tulis. Gritte heran, padahal biasanya, apabila catatan Pak Delvi sangat banyak, ia akan meminjam catatan Mila dan memotretnya dengan iPhone.
Namun, kali ini Prilly mencatatnya.
"Mimpi apa gue semalem?" kata Gritte sambil melirik Prilly dengan satu alis yang terangkat, "tumben lo nyatet, Ly?" timpalnya kemudian.
Prilly hanya tersenyum tipis, "Kali-kali jadi anak rajin, gitu,"
Gritte mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian ujung bolpoinnya ditempelkan pada dagu. Sejurus kemudian, Gritte seperti dikejutkan oleh sesuatu.
"Eh iya, lo kemana aja, sih, dua hari gak nongol di group chat?" tanya Gritte heran, karena memang akhir-akhir ini Prilly tidak kelihatan di grup chatnya. Padahal, biasanya Prilly yang suka menebar kehebohan di sana.
Senyum pada bibir Prilly bertambah lebar, "Ah, masa? Perasaan gue nongol terus, kok."
"Nongol terus? Apaan! Orang dua hari lo gak memijakkan kaki di kawasan gembel groupchat, kok! Bahkan, nge-read pesan-pesannya aja gak." ketus Gritte sambil memutar bola matanya kesal.
"Hehe, gak buka hape," jawab Prilly, masih mencatat dan dengan senyum yang tak bisa lepas dari wajahnya.
"Gak buka hape apa? Twitter update terus!" lawan Gritte, membuat Prilly tak bisa membalas kata-katanya. Skakmat.
"Hehe, maaf." lagi-lagi Prilly tak melepaskan senyum indahnya.
•-•-•-•-•
Tawa Ali pudar tatkala memandangi layar iPhone miliknya. Sedangkan dua temannya hanya saling berpandangan, menunjukkan keheranan karena sikap aneh Ali yang berbeda dari biasanya.
"Li!" gertak Kirun pada Ali yang sedaritadi asyik sendiri dengan iPhone-nya.
Ali hanya mengangkat alisnya, namun kedua matanya masih terpaku pada layar dan dengan jari yang sepertinya sedang mengetikkan sesuatu, "Hm?" gumam Ali.
"Yaelah, Li, lo kalo udah punya gebetan baru jangan ngelupain kita-kita, dong," ujar Kevin sambil menepuk pundak Ali beberapa kali. Ali langsung mematikan iPhone dan meletakkannya pada meja kafe.
"Eh, sori, ya. Gue bukan bermaksud buat ngacangin kalian, sumpah! Ya, gue sadar kalo sekarang gue cuek gitu sama kalian." ucap Ali sadar diri.
Kirun tersenyum, "Iye, kaga ngape dah. Ngomong-ngomong, lu sibuk sama apaan sih?"
"Ya, lagi deket gitu, sih, sama anak cheers kelas sepuluh."
"A..pril? Pokoknya pril pril gitu, bukan?" terka Kevin agak kurang yakin.
Ali melepaskan tawanya, "Prilly, kali,"
"Oh, gue kenal sama tuh anak. Bukannya yang ngobrol sama lu pas kaga sengaja ketemu di kantin, ya?" tambah Kirun.
"Ya, tepat sekali."
"Boleh juga, tuh,"
Kevin menatap jam tangannya, "Eh, udah malem. Pulang aja, yuk?" ajak Kevin
Kirun melirik Kevin, kemudian mengeluarkan smirk andalannya. Setelah itu, Kirun berdiri. Diikuti dengan Kevin.
"Biar yang lagi jatuh cinta yang bayar," kata Kirun santai seraya menepuk pundak Ali. "gue tunggu di mobil sama Kevin, sob!" seru Kirun kemudian ngacir bersama Kevin meninggalkan Ali yang cuma bisa ketawa-ketawa seperti orang kurang waras.
×××
Halooo, TBC yaa
Maaf gaje. Chapter ini gimana?
Vote+comment yaa:*:*Selamat menunaikan ibadah puasaa!
Zahirana,21/06/2016

KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Born To Be Yours
FanficSebelumnya, aku tak pernah terlibat dalam kisah cinta yang serumit ini. Aku tak pernah bisa mengendalikan jantungku yang kadang berdetak dengan frekuensi ekstra cepat. Namun, kamulah yang mengajarkanku bagaimana cara menjalani hidup dengan cinta. Ka...