Chapter 3 - Jemput?!

103 13 0
                                    

Prilly menggebrak meja menggunakan kedua telapak tangannya. Wajahnya memerah padam. Nafasnya memburu, seperti orang yang habis dikejar sesuatu. Michelle dan Gritte menyimak aksi Prilly dengan dagu yang ditopang tangan. Mereka sudah siap untuk menerima luapan emosi Prilly di kelas tanpa guru ini.

"Jadi, ceritanya gini," Prilly menghela nafasnya, "kemarin pas pulang sekolah, gue masuk kamar. Gue kaget banget karna kamar gue berantakannya minta ampun! Bantal gue di mana-mana, selimut, seprai gak karuan. Makanan kesebar di seluruh penjuru ruangan kamar gue. Dan pas gue liat, ternyata itu makanan kucing. Gue udah shock banget. Gue pun tambah shock karena di spring bed gue ada tiga kucing lagi tidur dengan nyenyaknya!" ucap Prilly berapi-api. Ia menatap kedua temannya dengan tatapan elang ekstra tajam.

"Wait, tapi itu kucing siapa?" tanya Michelle antusias.

"Kucingnya Keenan! Dumbledore, Ronald sama Hagrid. Mereka bertiga dengan bimbingan majikannya--Keenan, ngacak-ngacak ruangan privasi gue! Ya apa gue gak marah? Jelas marah banget, lah! Siapa coba yang gak marah kalo kamarnya dibikin kaya kapal pecah, ha?!"

"Oke, masih ada lanjutannya? Lanjutin dulu," saran Gritte sembari membenarkan poninya yang sedikit berantakan.

"Gue langsung manggil Keenan, dan dia gue marahin. Gue suruh beresin kamar gue yang udah diubah sama dia. Dia malah nangis kejer. Yelah, gue salah lagi," tutur Prilly pasrah. Kemudian ia melanjutkan, "dia langsung ngadu ke Pak Kasman. Dan karena Keenan ngikut pesan nyokap gue, akhirnya gue kena hukuman dari Pak Kasman. Yaitu gak dijemput selama tiga hari!"

"Oh.. Emang, pesan nyokap lo apaan, Ly?" tanya Gritte.

"Ekhm, my mom said: 'Kalo Kak Ily bikin nangis Keenan, Keenan langsung ngadu ke Pak Kasman aja, ya! Biar Kak Ily gak dijemput sekolahnya!'"

Michelle tertawa, "Gila aja, ya! Nyokap lo lebih sayang ke Keenan daripada ke lo!"

Prilly mengangguk-anggukkan kepalanya, "Yak, 'tul!"

Gritte termenung, kemudian ia berbicara serius. "Eh, tapi, 'kan.. Ini bisa jadi kesempatan lo, Ly! Iya, lo bisa bareng sama kak Ali lagi, 'kan?" usul Gritte, ia menatap Prilly dan Michelle. "ini hari apa?"

"Kamis,"

"Nah, iya, 'kan! Hari selasa sama kamis, kan, pengurus OSIS pada rapat sepulang sekolah! Ini bisa jadi kesempatan buat lo, Ly. Lo bisa nebeng kak Ali lagi." ujar Gritte dengan semangat '45, seolah sedang berpidato di depan rakyat Indonesia pada saat detik-detik menjelang kemerdekaan.

Prilly menganga, "Dan maksud lo, gue harus nunggu sejam lebih, gitu, demi nebeng dia?!"

Michelle memutar bola matanya, "Yakali, Ly. Rapat OSIS gak nyampe sejam juga! Mungkin pas pada waktu tertentu aja, rapatnya lama. Palingan juga ntar rapatnya cuma sepuluh sampe dua puluh menit doang," terang Michelle, yang memang pengetahuannya luas karena semasa SMP ia pernah menjabat sebagai pengurus OSIS. Prilly terdiam, menimang-nimang ucapan kedua rekannya. "trust me!" kata Michelle, meyakinkan Prilly yang nampaknya masih ragu.

Sesaat Prilly tersadar, "Eh, emang ngapain gue bela-belain nunggu kak Ali cuma mau nebeng doang? Emang gue siapanya? Temen enggak, saudara enggak, pacar apalagi!" sanggahnya.

"Ya, biar lo makin deket, lah! Biar hubungan kalian tambah akrab, gitu," desak Gritte dengan wajah memaksa.

"Iya, lagi pula lo kan se-gang sama kak Ali. Apa salahnya, sih, nebeng doang?" tambah Michelle, berada di pihak Gritte.

Prilly menggeleng yakin, "Gak. Gue tetep ogah. Harga diri gue dimana, coy? Masa iya cewek yang deketin cowok duluan!"

"Eh, kelas dua belas pada rame, tuh!" kata Mila yang tiba-tiba njedul gak tau dari mana. Prilly, Michelle dan Gritte hanya kaget karena kedatangan Mila yang tidak diketahui asal-usulnya.

I'm Born To Be YoursTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang