chapter 2

50 0 1
                                    

Jendela itu tampak tertiup angin sehingga terbuka agak lebar dan tampaklah juga seseorang yang ada di balik jendela merah jambu itu. Adinda, itulah nama gadis mungil yang berkulit sawo matang dan berambut panjang sebahu. Bentuk wajahnya yang oval sangat sesuai dengan potongan rambutnya yang hitam terurai menutupi bahunya serta poni tipis yang menambah kesan manis wajahnya. Matanya selalu berbinar-binar bila tertawa dan hidungnya yang sedang juga tampak pas sekali dengan bibirnya yang berbentuk busur. 
Saat Dinda, begitu ia dipanggil oleh keluarga dan kawan-kawannya, menyibukkan diri di kamarnya, seorang wanita setengah baya memanggilnya,"Dinda.........sudah siang nak, apa kamu nggak takut terlambat?" "Iya bu, lagi beres-beres nih, lima menit lagi aku turun," Dinda menjawab panggilan ibunya sambil tangannya terus bergerak membereskan buku-buku yang akan dipakai kuliah pagi ini. "Duh, dimana buku Grammar-ku ya? Perasaan aku taruh disini deh semalam, kok enggak ada, mana dosennya galak lagi, " Dinda marah-marah sendiri sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan matanya yang indah, mencari bukunya yang hilang entah ke mana. Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada setumpuk buku di sudut kamarnya. "Pasti kamu ada di sana. "Aku baru ingat, semalam aku kan buka-buka kamus dan ensiklopedia jadi kamu pasti nyangkut di antara buku-buku tebal itu," Dinda bergumam sambil berkacak pinggang dan tanggannya yang kanan menunjuk ke arah tumpukan buku-buku tersebut.

*****

"Nduk (panggilan untuk anak perempuan) ........kamu nanti pulang sendiri apa mau dijemput masmu? Ibu Dinda bertanya sambil menyiapkan sarapan untuk keluarganya. "Memangnya mas Bayu pulang jam berapa sih? Kalau aku sih hari ini cuma sampai jam 12 aja," jawab Dinda. "Aku ada kelas sampai jam 11.30, okelah kalau aku nyamperin kamu dulu, tapi sudah harus di depan gedung kuliah lho," pinta Bayu, kakak Adinda yang sudah duduk di ruang makan sedari tadi. "Sip deh !" 
"By the way, papah mana sih lama banget, udah lapar nih, " protes Dinda pada ibunya."I'm here darling," jawab papa Dinda sambil mengelus kepala Dinda. "Uh...papah, rambut udah rapi begini diucel-ucel, " Dinda ngomel pada papanya, yang direspon dengan senyuman. 

"Pah....nanti sore anterin Dinda sama ibu ke toko baju dong. Dinda pengen beli blouse buat acara ultahnya Yanti Sabtu depan,"pinta Dinda sambil mengunyah roti mentega tabur gula favoritnya. "Kalau papahmu sibuk, ya nanti jalan sama ibu aja nggak apa-apa, ntar biar diantar mas Bayu,"timpal ibu Dinda sambil menyenggol Bayu yang asyik sarapan dengan nasi goreng di sebelahnya. Bayu hanya manggut-manggut saja dengan mulut yang penuh. "He...em nanti papah yang antar deh...buat anak papah yang manis ini apa sih yang enggak," papah Dinda berkata sambil menarik hidung Dinda dan yang punya hidung meringis manja.

Setelah semua selesai sarapan, Dinda segera mengambil tas sekolahnya dan merapikan seragamnya yang sedikit kusut juga merapikan rambutnya yang hari ini dihiasi bando berwarna pink yang menambah manis penampilannya. "Hm....makin manis saja putri papah ini ya. Lihat bu...sudah tumbuh besar jadi remaja yang cantik dan sebentar lagi kita mantu dong,"goda papah Dinda sambil memeluk istrinya yang cantiknya sebelas duabelas dengan dinda. "Wah...papah sama ibu nih mujinya kebanyakan, bisa besar kepala dia nih," celetuk Bayu sambil memasang helm dan siap meluncur ke kampus dan yang dipuji-puji hanya cengar cengir sambil berkacak pinggang. "Hati-hati ya le (panggilan untuk anak laki-laki)...ndak usah ngebut," pesan ibu Dinda pada Bayu yang dijawab dengan acungan jempol oleh Bayu. Sementara itu Dinda segera menggandeng papahnya untuk buru-buru ke mobil Toyota Corolla buatan tahun1998 yang masih nampak mulus. "Ayo pah...nanti aku terlambat kelas nih, pinta Dinda pada papahnya sambil memandangi papahnya dengan penuh harap. "Ok...tuan puteri, hamba siap mengantar tuan puteri ke sekolah,"goda papah Dinda sambil menjalankan mobilnya sementara yang digoda hanya senyum-senyum. " Kok sekolah sih pah...aku kan sudah mahasiswa," koreksi Dinda pada papahnya. Dinda memang sangat dekat dengan papahnya kalau tidak mau disebut manja. Maklumlah, mungkin karena proses persalinan Dinda yang sedikit bermasalah membuat papah dan ibunya begitu memperhatikannya lebih. Dinda mudah sekali sakit, dalam sebulan dia bisa dua sampai tiga kali absen karena sakit, tubuhnya memang lemah, capek sedikit pasti sudah sakit, maka hampir semua pekerjaan rumah tidak diperkenankan untuk dikerjakan karena tidak mau mengambil resiko si Dinda manis sakit. Bayu juga begitu menyayangi adiknya yang gopokan (mudah sakit) tersebut, mereka sudah sangat menyadari dan maklum dengan kondisi Dinda yang berbeda dengan gadis-gadis seusianya.

*****

Panasnya mentari siang sangat menyengat sekali. Yah maklum sekarang memang lagi musim kemarau. Bulan-bulan Mei sampai Agustus biasanya telah ditasbihkan untuk menjadi bulan yang panas, kering dan tentu saja rasa gerah yang bikin tak nyaman. "Duh.........mana sih mas Bayu, katanya mau nyamperin aku kok belum nongol juga sih. Pasti deh ngobrol sama mbak Tita, pacar barunya. Dasar play boy tengik, orang dipanggang berjam-jam begini, mana keringat udah bercucuran seperti ini, Dinda mengumpat sambil tangannya mengipas-ngipaskan buku untuk mengurangi gerah di tubuhnya. Tiba-tiba sebuah motor bebek keluaran tahun 90-an sudah berhenti di hadapan Dinda. "Sorry Ndul, aku ketemu Bagas, inget nggak kamu? itu lho yang dulu suka ngejahilin kamu waktu kamu masih di SMP. Yang suka bawa permen coklat buat kamu," Bayu mencoba mengurai ingatan Dinda. Bayu suka sekali memanggil adiknya dengan sebutan Ndul, karena saat kecil Dinda kalau lari pantatnya mindal mindul bikin semua gemes melihatnya makanya sejak itu Bayu suka panggil adiknya Ndul.

Dinda masih berusaha mengingat-ingat tentang sosok Bagas yang diceritakan kakanya.  "Bagas yang mana sih? Kan dua-duanya suka ngasih coklat dan jahil. Bagas Adi atau Bagaskara", tanya Dinda dengan dahi agak berkerut. "Bagaskara dong, kan Bagas Adi itu jarang main ke rumah kita," Bayu menjawab pertanyaan Dinda sambil menarik hidung adiknya yang tidak mancung tapi tidak juga pesek. 

Sesaat ingatan Dinda melayang ke masa 5 tahun yang lalu, terbayang jelas di wajahnya sesosok wajah manis dan humoris yang selalu menggoda dirinya. Senyum kecil tersungging di sudut bibirnya. Bayu yang sejak tadi mengamati tingkah adiknya yang semata wayang itu jadi geli. "Duh yang punya kenangan, kangen ya....? Ntar deh lu puasin kangennya, sekarang perut sudah kruyuk-kruyuk nih, goda Bayu sambil menggandeng tangan adiknya. Dinda tersipu malu dan segera menuruti ajakan kakaknya, karena perutnya juga sudah keroncongan dan haus karena kepanasan. 

Dinda merangkul pinggang kakaknya dengan erat saat dibonceng, karena kakaknya itu kebiasaan ngebut kalau naik motor. Ada keraguan-raguan dalam hatinya saat akan menanyakan kabar Bagas lebih jauh, namun diberanikannya juga untuk bertanya. "Mas......., eng .........terus kalian ngobrol apa sih, kok lama banget, aku sampai kering nungguinnya, tanya Dinda dengan nada sedikit ragu-ragu. "Ya banyak dong. Pengalaman dia waktu tinggal di Sumatra, Sulawesi, dan terakhir di Kalimantan. Kamu kan tahu kalau dia harus ikut orang tuanya pindah-pindah karena tugas bapaknya sebagai tentara, jelas Bayu dengan sabar. Dinda manggut-manggut mendengar penjelasan kakaknya itu.

Selesai membaca jangan lupa vote ya

Aku Cinta Kamu Where stories live. Discover now