Dear pembaca, mohon maaf nih penulis absen, ada banyak pekerjaan di luar menulis dan serangan flu yang membuat acara menulisnya jadi tertunda. Thanks sudah mau meluangkan waktu buat baca tulisan ini, semoga berkenan juga vote after reading this story.
Dua jam adalah waktu yang terlama yang pernah dijalani Dinda untuk berdandan, biasanya dia hanya memakai bedak tipis-tipis dan lipstik yang jarang-jarang dikenakan dan itu hanya butuh waktu beberapa menit saja, namun tidak untuk kali ini. Demi menghadiri ultah Yanti, Dinda butuh beberapa jam untuk mematut diri di depan kaca, dia harus bolak-balik mengganti baju yang cocok, mengatur rambutnya yang hitam lekat dan lain-lainya padahal dua hari yang lalu dia sudah membeli baju baru, namun masih belum sreg juga rupanya.
Lelah memilih-milih baju akhirnya pilihan jatuh pada baju barunya, sebuah gaun berwarna hijau pastel yang dipadu dengan untaian manik-manik yang melingkar di di bagian kerah leher yang berbentuk sabrina dan di bagian ujung lengan bajunya yang berbentuk lonceng. Untuk urusan make up Dinda pasrah karena dia tidak pandai berdandan jadi hanya dioleskan pelembab dan ditaburi dengan bedak milik ibunya yang memang biasa dipakai ibunya kalau lagi ke kondangan. Blush on warna pink juga samar-samar disapukan ke pipinya yang membuat wajahnya semakin manis dan nampak cubby dan dengan sedikit ragu-ragu dioleskanlah lipstick di atas bibirnya yang mungil dengan lipstick warna orange muda. Last but not least adalah sebuah bandana hitam bertabur permata imitasi yang gemerlap bila ditimpa cahaya. Sepatu stiletto milik ibunya yang tingginya tiga sentimeter yang berwarna senada dengan bajunya membuat gadis dengan tinggi badan 160 cm ini mirip seorang foto model, untunglah ukuran kaki Dinda sama dengan kaki ibunya jadi dipinjamlah sepatu ibunya itu untuk menghadiri pesta ultah Yanti.
buru and gak ada persiapan sama sekali," gumam Dinda dengan suara yang lirih. Bayu dan Bagas malah bengong melihat Dinda dengan dandanannya yang sangat memikat, begitu juga dengan ibunya serta bulek Indri dan bulek Tanti yang kebetulan hadir di rumah Dinda, keduanya adalah adik ibu Dinda. "Wah .....aku nggak mengira punya adik yang begitu manis. Coba setiap hari dandan seperti ini aku pasti mau disuruh mbonceng ke mana-mana, " kata Bayu. Bagas hanya bisa diam dan takjub melihat perubahan pada Dinda. Gadis yang sederhana dalam kesehariannya ternyata bisa tampil lebih dari biasanya. "Gas...kok jadi bengong?" Bagas tersipu malu saat dia masih saja memandangi Dinda saat Bayu menegurnya, terlebih saat semua orang memandang ke arahnya, Bayu jadi semakin salh tingkah.

YOU ARE READING
Aku Cinta Kamu
Любовные романыAku Cinta Kamu Jendela kamar yang dicat merah jambu itu sedikit terbuka. Lamat-lamat dari balik jendela itu terdengar suara musik klasik karya Beethoven mengalun dengan lembut. Di bawah jendela tampak sebentuk taman yang tertata rapi dengan beberapa...