"Menurut gue sih jangan!"
Aku—entah sudah yang keberapa kalinya hari ini—terperangah. Kanaya mengisap rokok yang terselip di bibirnya, siapa yang mengizinkannya bersikap seperti berandalan di dalam rumah? Dan sejak kapan dia bersikap seperti itu?
"Aya, jangan ngerokok di dalam rumah!" Kal-el menghardik.
Jangan merokok di dalam rumah? Jangan merokok sama sekali. Dan apa yang terjadi dengan rambutnya? Kanayaku yang manis dan cengeng, apa yang sudah merasukinya sampai dia berubah menjadi anak punk begitu? Mulutku masih menganga, aku benar-benar tidak mampu memprediksi apa yang terjadi selama aku tidak ada.
"Apa yang terjadi pada rambutmu?" tanyaku, meluncur begitu saja, mengabaikan suasana berduka yang menyelimuti kami berlima.
Yang—sebenarnya—tidak terasa tengah berduka sama sekali. Ayah ada atau tidak ada sepertinya tidak membuat mereka mengendurkan urat syaraf. Awalnya aku trenyuh, tapi kalau aku pikir-pikir, apa yang membuatnya begitu tidak berhak mendapat setitik air mata dari adik-adikku? Bahkan air mataku pun ... tidak menetes.
Kanaya hanya mengernyit, seolah-olah aku tidak berhak bertanya seperti itu.
"She's trying hard to be punk!" sahut Kenang, terkekeh. Kanaya melempar tatapan penuh permusuhan kepada saudara kembarnya yang berpenampilan tidak jauh lebih baik. Kenang mengenakan tindik di telinga, rambutnya jabrik, nyaris pelontos di sisi kanan dan kiri kepalanya, dan dia belum mandi, padahal ini sudah hampir sore.
Aku yakin bau gosong babi panggang ini berasal dari ketiaknya yang mulai lebat oleh rambut.
"Apa yang terjadi di rumah ini?" gumamku, seperti itik yang tersesat.
Ketika aku mengatakan tidak ada yang berubah di rumah ini, itu tidak benar sama sekali. Begitu aku masuk rumah, anggapanku total kuralat. Rumah yang biasanya rapi dan bersih, berantakan seperti kapal pecah. Tumpukan majalah dan koran di mana-mana, piring kotor bertebaran di dapur, lukisan dan foto lama tampak berdebu dan usang.
"Siapa yang bertanggung jawab di rumah ini?" aku terang-terangan menatap Kal-el saat menanyakannya.
Pemuda tampan itu melengos, mendengus menyebalkan, lantas menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Kak Kal sudah tidak tinggal di rumah, Kak Ken," Kefan—si bungsu—tersenyum, suaranya lembut, melahirkan kembali harapanku yang nyaris runtuh melihat keluargaku dalam keadaan mengkhawatirkan.
Usianya kini menginjak 10 tahun, tapi pancar kedewasaan begitu terasa pada tutur kata dan raut wajahnya. Aku menggerakkan tangan, mengisyaratkannya agar mendekat.
Seperti harapanku, adik bungsuku itu demikian penurut. Aku memundurkan tubuhku hingga menatap sandaran sofa, membuka pahaku lebar-lebar supaya dia duduk di antaranya. Dan Kefan dengan senang hati melakukannya. Aku memeluk tubuhnya erat, membuatnya terkekeh senang, sekaligus membuat ketiga saudaraku yang lain memperlihatkan reaksi tidak menyenangkan. Melengos ke segala arah.
"Siapa tahu lo lupa, rumah ini masih punya ayah sampai dia meninggal," Kal-el beranjak dari duduk untuk membuka jendela lebar-lebar. "Jadi dialah penanggung jawab rumah ini," katanya, lantas mendekat pada Kanaya, dan mendorong kasar bahu gadis itu sampai merapat ke jendela yang terbuka. "Bukan gue," tambahnya.
Kanaya mengentakkan bahunya kesal.
Gadis-gadis memang mudah jadi pemberontak kalau mereka kurang perhatian. Aku menatap Kanaya dengan perasaan iba. Rambutnya disemir—merah, pink, hijau, ungu, pirang—warna-warni. Dia tampak seperti bendera kampanye equality berjalan dibanding kepala seorang gadis berwajah manis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Lovely Brother Kenan [SUDAH TERBIT]
General FictionKenan kembali dari Jepang setelah lima tahun meninggalkan Indonesia. Saat dia berharap akan menemukan keempat adiknya yang manis menjemputnya di bandara, orang tuanya justru mengalami kecelakaan, dan meninggal dunia. Sebagai sulung, dia harus menjad...
![Dear Lovely Brother Kenan [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/80730775-64-k861487.jpg)