#Let's have another absurd dream about our beloved couple! XD
Selalu, selamanya......
"Paman Lu."
Seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahunan berlari kecil menuju sebuah bangunan kecil yang lebih bagus dari gubuk namun belum layak disebut rumah karena ukurannya yang sangat sederhana, hanya ada sebuah kamar tidur, ruang tamu yang seadanya dengan meja dan dua kursi reyot dan dapur untuk memasak makanan ala kadarnya, semuanya hanya dibatasi oleh sehelai tirai tipis. Pemuda itu memegang seekor ikan yang cukup besar di tangannya.
"Paman Lu, hari ini aku datang mengantar ikan. Paman mau ikan ini dikukus dengan jahe yang banyak, atau digoreng saja?"
Seorang pria paruh baya yang sedang duduk di kursi rotan di halaman rumahnya tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Terserah kamu saja. Aku tidak masalah baik itu digoreng maupun dikukus."
"Huh! Paman selalu saja begitu. Selalu saja bilang terserah! Padahal kan Paman boleh menentukan apa yang Paman inginkan."
Sebuah senyum sedih tersungging di bibir pria yang dipanggil Paman Lu ini. Kepalanya digelengkan perlahan.
"Aku sudah cukup merepotkanmu, setiap hari kamu mengantar bahan makanan dan repot-repot memasak untukku."
"Paman Lu! Aku sudah bilang aku tidak merasa direpotkan! Aku marah nih kalau Paman terus berbicara seperti itu." Pemuda itu menghentakkan kakinya dengan kesal. Matanya yang luar biasa mempesona menatap tajam ke arah pria yang dipanggilnya Paman Lu ini. Paman Lu hanya memberinya senyum samar.
Paman Lu sebenarnya belum terlalu tua, dia mungkin masih berusia sekitar lima puluh tahun lebih sedikit. Tapi kesedihan yang terlihat jelas di wajahnya yang masih terlihat luar biasa tampan membuatnya terlihat sedikit lebih tua. Entah apa yang menyebabkan Paman Lu bersedih seperti ini. Paman Lu tak pernah mau bercerita padanya. Paman Lu selalu menganggapnya bocah kecil yang tidak tahu apa-apa.
"Iya. Iya. Maaf, aku yang salah bicara."
Setelah mengatakan kalimat permintaan maaf yang lebih bernada mengejek, Paman Lu kembali mengalihkan tatapannya ke depan, ke arah nun jauh di sana, ke batas cakrawala, seolah-olah sedang menunggu seseorang.
Pemuda itu menggantung ikan di tangannya ke salah satu tiang di rumah kecil itu. Dari belakang, dijulurkannya tangannya hingga seluruh badan Paman Lu muat di tangannya. ---Dan dari reaksi Paman Lu yang biasa-biasa saja, sepertinya ini bukan pertama kalinya Paman Lu dipeluk dari belakang oleh pemuda ini.
"Paman sedang menunggu siapa? Bukankah aku sudah datang?" Dengan manja pemuda itu menempelkan pipinya ke pipi Paman Lu. Begitu dekatnya hingga jika Paman Lu berbalik ke arahnya, bibir mereka pasti akan langsung bertemu.
Paman Lu hanya tersenyum samar sambil menjulurkan tangannya untuk menepuk ringan kepala si pemuda. Tatapannya tetap terarah ke depan.
"Bocah ingusan, ikannya bisa busuk kalau kamu masih bermalas-malasan di sini."
Dengan enggan pemuda itu melepaskan pelukannya. Setelah beberapa saat, walau masih ingin bertanya lebih banyak lagi, pada akhirnya pemuda ini lebih memilih untuk mengurus ikan yang akan menjadi makanan Paman Lu hari ini.
Tapi tentu saja dia belum menyerah. ---Tidak akan pernah menyerah!
Seperti hari-hari sebelumnya, saat sedang duduk makan berdua, dia akan bertanya panjang dan lebar mengenai masa lalu Paman Lu dan mengapa Paman Lu sendirian di rumah kecil di tengah gunung ini. Dan seperti biasanya juga, semua pertanyaan yang dia lontarkan bagaikan gaungan di dalam gua, tak ada jawaban kecuali suaranya sendiri.

KAMU SEDANG MEMBACA
HHYL Fanfic in Bahasa Indonesia
FanfictionLagi-lagi Lu Cang terganggu oleh suara di tengah malam. Hantu? Setan? atau Valak? LOL Padahal Jing lagi gak ada di rumah. Kira-kira Lu Cang bakal takut gak ya? Ini hanya oneshot dalam bahasa Indonesia. Experimen sekaligus latihan sebelum mulai mener...