BBAPG 15; Sadar Diri

773 89 4
                                        

"Jo! Lempar bolanya!"

Seruan itu membuat bocah laki-laki berumur 4 tahunan itu berlari kecil kearah bola yang teronggok ditanah. Jo kecil mengambil bola tersebut, dan melemparkannya dengan sekuat tenaga.

Ayahnya tertawa saat lemparan Jo tidak menjauh dari bocah itu.

Jo kecil cemberut. Bocah 4 tahun itu mengambil bola plastik yang selalu ada di permainan MANDI BOLA sebuah wahana ditaman bermain itu dengan tangan mungilnya. Setelah dapat, bocah itu berlari dengan langkah pendeknya pada sang Ayah yang masih tertawa karna keimutan sang anak.

Ayahnya berjongkok, seolah menunggu sang bocah untuk sampai pada pelukannya.

Saat sampai, Jo kecil malah melempar bola itu ke wajah sang Ayah sambil mengatakan, "Uh," dengan suara bocahnya. "Lempal."

Sang Ayah tertawa kemudian memeluk Jo dengan erat.

"Makanannya udah siap! Cepet kesini, atau Bunda gak mau nyuapin kalian berdua!"

Jo kecil dan Ayahnya saling tatap setelah mendengar teriakan sang Bunda.

"Makan?" tanya Ayah Jo dengan menaikan sebelah alisnya.

Jo mengangguk dengan semangat. "Matan!"

Ayahnya kembali terkekeh, kemudian menggendong Jo masuk kedalam rumahnya. "Ayo matan!"

"Matan!"

.

"DASAR ISTRI KURANG AJAR!"

Malam itu, petir kembali menggelegar bersamaan dengan suara cambukan ikat pinggang yang terdengar menggema dengan keras.

Bocah berumur 10 tahun yang duduk ditangga tengah dalam rumahnya yang gelap itu, hanya menatap datar pada penyiksaan tersebut. Terlalu terbiasa.

Sejak Ayahnya berhenti berkerja dan sang Ayah selalu miminta uang, Ayahnya selalu menyiksa sang Bunda dengan kejam jika keinginannya tidak terkabul.

Tangis Bunda menggema dirumah mewah kediaman mereka.

Sang Ayah terus saja berteriak sambil mencambuk beberapa bagian tubuh Bundanya. "DASAR ISTRI TIDAK TAHU MALU! PADAHAL KAMU SUDAH SAYA NAFKAHI, TAPI TIDAK MAU BALAS BUDI!!"

"KAMU SEORANG SUAMI!" Bundanya balas teriak sambil menangis. "SUDAH SEPANTASNYA KAMU UNTUK MENAFKAHI SAYA!"

Ayahnya tersenyum licik. "Ohh, kamu sudah berani melawan, ya? Sini kamu!"

Sang Bunda ditarik dengan kasar dan memaksa. Bundanya memberontak. Wanita itu terus saja menggerakan tangannya agar terlepas walau percuma saja. "Lepaskan saya!"

Dan mereka menghilang dibalik pintu utama.

Jo menatap datar pada ruang tamu yang gelap itu. Mengapa jadi seperti ini? Keluarga bahagianya ... Mengapa menjadi hancur?

Suara petir kembali terdengar, dan menciptakan cahaya kilat dirumah mewah kediaman keluarga Jo. Bocah sepuluh tahun itu melirik pada laci kecil disamping sofa, dan petir kembali memberi cahaya, bersamaan dengan mata Jo yang melihat sebuah kunci mobil.

Kaki Jo kemudian melangkah menuruni tangga. Cowok itu menghampiri laci kecil tersebut, dan mengambil kunci mobil sang Bunda. Jo akan pergi. Ia akan kabur dari keluarga kacaunya, dan mencari keluarga baru.

Jo kemudian berlari kearah pintu garasi, dan membukanya. Cowok itu kemudian menaiki mobil yang terparkir disana dengan takut-takut. Apakah Jo akan berhasil? Apa tak mengapa jika Jo mengendari harta satu-satunya keluarga mereka?

Dengan nekat, Jo memasukan kunci mobil tersebut, dan mulai menstarter. Jo berusaha tenang, dan berpikir sebentar tentang apa yang akan dilakukannya setelah menstarter mobil.

JoVan✔[BADASS #2] [PROSES PENERBITAN]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang